Kompasiana News
Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Media Artikel Utama

Perayaan Paskah Masa Kini Kehilangan Kesakralannya?

10 April 2018   15:00 Diperbarui: 16 April 2018   10:49 2231 1 3
Perayaan Paskah Masa Kini Kehilangan Kesakralannya?
Ilustrasi. Warga mengiringi patung Tuan Ma (Bunda Maria) yang diusung dari kapela menuju Gereja Katedral pada perayaan Pekan Suci atau Semana Santa bagi umat Katholik, di Larantuka, Flores Timur, NTT (KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT)

Pada Minggu (1/4/2018) umat Kristen di seluruh dunia merayakan Paskah, hari kebangkitan Yesus Kristus. Yesus wafat di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia menyiratkan pesan supaya umat Nasrani juga dapat membagikan kasih kepada manusia dan seluruh ciptaan-Nya.

Rangkaian perayaan paskah bagi umat Kristen dan Katolik dimulai saat memasuki pekan suci, yakni peringatan hari-hari terakhir Yesus di Yerusalem. Pekan suci dimulai dari hari Minggu Palma yang jatuh tepat seminggu menjelang paskah. Setelah itu dilanjutkan dengan rangkaian peringatan Tri Hari Suci Prapaskah, yang terdiri dari Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci.

Jumat Agung merupakan rangkaian ibadah yang sangat penting bagi umat Kristen. Pada hari itu diperingati peristiwa penyaliban Yesus Kristus dan wafat-Nya di Golgota. Yesus rela menanggung siksaan dan hukuman mati dalam bentuk paling hina.

Menurut Kompasianer Arako, pada saat Jumat Agung umat Kristen memperingatinya dengan ibadah khusus dalam suasana khidmat dan berkabung, biasanya berlangsung pada sore hari sesuai dengan jam wafat Yesus.

Kemudian saat Minggu Paskah, peringatan kebangkitan Yesus di hari ketiga kematian-Nya, umat Kristiani merayakannya dengan sukacita. Mereka merayakan pengorbanan Yesus atas maut dengan ibadah di gereja dan mengadakan beragam perlombaan sederhana.

Meski diawali dengan rangkaian ibadah dan memiliki makna yang dalam, perayaan Paskah rawan kehilangan kesakralannya. Salah satu tempat yang paling mencolok saat perayaan Paskah adalah Kota Larantuka, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang dikenal menjalankan tradisi Semana Santa (hari bae atau hari baik).

Setiap tahunnya menjelang Paskah, Larantuka memiliki tradisi ritual Semana Santa yang bertepatan dengan perayaan Jumat Agung. Pada ritual ini, Tuan Ma dan Tuan Ana diarak berkeliling kota sembari diiringi devosi atau lantunan doa penduduk setempat. Ferdinand Lamak menyayangkan pemerintah setempat yang memberikan kelonggaran terhadap para politisi yang memanfaatkan momentum Semana Santa dengan memasang atribut kampanye.

Deretan baliho para politisi, mulai dari calon gubernur, calon anggota DPR, hingga calon anggota DPD RI, menghiasi tiap sudut Larantuka. Baliho tersebut terpajang semarak, padahal penduduk kota dan peziarah sedang memasuki hari-hari penderitaan Yesus Kristus dengan puncaknya pada Jumat Agung.

Meskipun spanduk dan baliho tersebut memuat ucapan Selamat Paskah, Ferdinand merasa keberadaan atribut tersebut tidak etis dan telah menodai perayaan Semana Santa yang kudus. Terlebih, momentum Semana Santa telah menjadi peristiwa wisata yang mengundang banyak wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Tak selayaknya para wisatawan mendapat pemandangan kota yang kurang mendukung suasana ibadah Paskah.

Kurangnya pekanya umat Kristen masa kini saat Paskah juga terlihat di gereja. Menurut Yose Revela Paskah saat ini dianggap sebagai panggung "pamer". Banyak orang yang datang ke gereja saat pekan Paskah dengan memakai kendaraan dan pakaian lebih mewah dari biasanya. Mereka hanya datang ke gereja saat hari raya Paskah dan Natal.

Hal itu ia rasakan ketika Yose berangkat ke gereja untuk mengikuti ibadah Minggu Paskah saat subuh. Ia melihat beberapa umat yang mendadak rajin ke gereja saat Paskah. Hal ini terjadi tiap tahunnya, hingga gedung gereja sering tampak kelebihan kapasitas, seperti halnya saat Natal tiba.

Fenomena mendadak rajin gereja itu ia sebut sebagai "fenomena munculnya kapal selam", istilah untuk menyebut umat yang hanya datang ke gereja saat Natal dan Paskah.

Belum lagi dengan umat yang datang beribadah dengan dandanan berlebihan. Sikap serba berlebihan saat Paskah justru mengingkari salah satu makna utama Paskah, yakni penderitaan dan keteladanan Yesus dalam kesederhanaan. Menurut Yose, ibadah Paskah semestinya penuh ketenangan dan suasana prihatin, bukan tampak penuh ingar bingar layaknya pesta.

Meski menyesalkan kebiasaan umat yang makin tidak peka memaknai arti Paskah, Yose masih merasa bersyukur. Sebab ia mendapat ilham perenungan dari apa yang ia lihat saat ibadah Paskah subuh di gereja. Ia menemukan arti bahwa Paskah Paskah dengan segala rangkaiannya hanya sebuah pengingat dari betapa besar kasih Tuhan kepada manusia.

Lewat Paskah, umat Kristen diajak untuk mengingat; Tuhan selalu mengasihi manusia apa adanya setiap saat, bukan hanya pada saat Natal atau Paskah datang.

(Lbt)