LuhPutu Udayati
LuhPutu Udayati guru

Semua ada waktunya

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Menulisi Waktu

12 Juni 2018   17:12 Diperbarui: 12 Juni 2018   19:34 2296 20 6
Cerpen | Menulisi Waktu
Sumber: Twitter Kultur Tava @kulturtava

Diceritakannya kisah pada waktu tentang luka yang sengaja dihadirkan agar waktu tak pernah beranjak jauh dari peri kehidupannya. Tapi apakah itu, yang memang dia peliharakan dalam garis batas hidup yang tak pernah ia batasi dengan jelas? Mengapa harus sedemikian ringkih, padahal waktu terus berjalan? Terus, terus dan terus.

Juga sesore ini, ketika ia dapati sepucuk surat beramplop merah muda dengan tulisan tangan yang rapih. Surat itu berperangko, berarti dikirim lewat pos. Akh... ingatannya terdampar ke masa belasan tahun lalu, saat ia masih SMA dan suka berkirim surat dengan banyak teman dari berbagai tempat di nusantara yang damai dan raya-raya ini. 

Surat dari siapa ini? Kubalik-balik tak ada sama sekali alamat pengirim surat. Kulihat cap pos, dari kota di ujung barat Papua. Hmmm... aku merasa tidak pernah punya teman, keluarga apalagi sahabat yang berasal atau pindah tinggal di kota tersebut. Ini siapa? Jangan-jangan... Aku berusaha tenang, tak ingin tergesa meresponnya. 

Kuletakkan dia dengan manis di sebelah laptopku, benda ajaib yang mau menerima curhatan apa saja dariku. Mulai dari beratnya tugas-tugas kantorku, puisi-pusi cengengku yang kadang berubah romantis bila diperlukan, juga novel-novel yang kebanyakan tersendat sampai halaman puluhan saja, atau cerpen-cerpen yang sudah sering memberiku tambahan pada pundi-pundiku di sudut kamar. 

Kupandangi surat itu sambil kuseduh teh sedikit manis di gelas minumku. Kupandangi saja sambil menerka-nerka siapa sesungguhnya berani mengirim surat tanpa nama. Alamat penerima sangat tepat, nama dan alamat rumahku. 

Surat kaleng yang menyembunyikan ketakutannya di balik sampul surat nan romantis? Sambil menyeruput teh sedikit manis kubuka juga surat aneh itu. Kugunting tepian amplop surat, kebiasaan yang masih kurawati sejak aku remaja dan suka berkoresponden lewat surat pos. 

Dear Cahaya,

Apabila surat ini terbaca olehmu, berarti semesta mengijinkan aku menemuimu. Lalu, aku akan memuja semesta yang setia menuntunku untuk tiba pada tangan kehidupanmu. Pasti engkau bertanya tentang siapa pengirim surat ini. Aku tak akan menuliskan apapun tentang aku, bahkan segores pun tidak. Biarlah pikiranmu berlari sesukamu. sekehendakmu. Liar tak terkendali hingga tiba pada satu noktah, yang bahkan dirimu, apalagi aku tak pernah bisa mengingkari.

Cahaya, jika surat ini terbaca olehmu, berarti akar, daun, pohon dan bunga mawar itu masih milikmu. Akulah yang selalu sakit oleh durinya.

Dariku... 

Kuhirup pelan-pelan teh sedikit manisku. Kuhirup pula kalimat-kalimat pada surat itu perlahan. Sungguh aku tersesat pada kata-kata yang ditulisi oleh pengirimnya. Aku merasa jengah tak dapat mengingat apapun atasnya. Akhirnya, aku memilih untuk tersenyum pada sepucuk surat itu. Mungkin penulisnya seorang cerpenis pemula dan sedang getol-getolnya menulis. 

Kupandangi langit biru dari halaman belakang rumahku ini. Langit hari ini kurasa lebih biru dari hari kemarin. Kupandangi bunga-bunga yang bermekaran di halaman belakang yang tidak terlalu luas. Lumayanlah, mawar, melati, kamboja dan anggrekku rajin berbunga memberiku penghiburan. Mungkin karena dia tahu aku pun telah merawat mereka dengan sebaik-baiknya. 

Ting tong, ting tong... Bel tamu terdengar menghentak.

Astaga aku sampai lupa, bahwa aku ada janji dengan Tiara untuk mengantarnya membeli koper. Ia akan meneruskan studinya ke Ausie. Tiara sahabat baik sejak aku bekerja di kantor yang sama dengannya. Kulirik surat itu. Biar saja Tiara membacanya, kuingin lihat responnya. 

Dengan malas aku menuju ruang tamu, rambut acak-acakan. Biar sajalah, biar Tiara menunggu aku mandi sambil membaca surat itu.

Kubuka pintu . 

O, tidak! 

Refleks, kututup pintuku, tapi tangan itu terlalu kuat mendorongnya dan kini dia berdiri sangat dekat denganku. Bagaimana mungkin, dia ada di hadapanku? Nafasku memburu tak karuan. tak ingin sedikitpun memandangnya. Dia berlutut dengan bunga mawar di genggamannya. Jadi... 

"Jatuhkanlah kata maafmu, Cahaya, biar kupunguti untuk menghapus segala kesalahanku," sakit nian aku mendengarnya. Mataku mulai terasa hangat

"Bertahun-tahun aku mencarimu, bahkan engkau telah tiga kali pindah kota tempat tinggal, aku tak pernah lelah untuk menemukanmu." 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2