Mohon tunggu...
Kompas.com
Kompas.com Mohon Tunggu... Administrasi - Kompas.com

Kompas.com merupakan situs berita Indonesia terlengkap menyajikan berita politik, ekonomi, tekno, otomotif dan bola secara berimbang, akurat dan terpercaya.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Dulu Supervisor di Perusahaan Migas, Sekarang Jualan Air Isi Ulang

18 Mei 2017   09:30 Diperbarui: 18 Mei 2017   16:04 780
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Herbert Munthe, eks supervisor di perusahaan jasa pengeboran minyak dan gas yang kini beralih profesi membuka usaha depo air minum isi ulang di Jalan Pialing 2 No 4A, Gunung Bahagia, Balikpapan, Selasa (26/4/2016)

Herbert Munthe, eks supervisor di perusahaan jasa pengeboran minyak dan gas yang kini beralih profesi membuka usaha depo air minum isi ulang di Jalan Pialing 2 No 4A, Gunung Bahagia, Balikpapan, Selasa (26/4/2016)
KOMPAS.com
- Lain dulu, lain sekarang. Boleh jadi, peribahasa itu tepat untuk bisa menggambarkan nasib Herbert Munthe.

Pria yang dahulu bekerja di salah satu perusahaan pengeboran minyak dan gas (migas) di Balikpapan itu kini malah alih profesi berjualan air isi ulang.

Dikisahkan Kaltim.tribunnews.com, Rabu (27/4/2016), pria berusia 46 tahun itu terpaksa banting setir dengan berjualan air isi ulang akibat terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Padahal, waktu itu karier Herbet sedang bagus-bagusnya sebagai supervisor bidang logistik.

"Pada 2015, harga minyak dunia mulai turun, jadi banyak PHK di kantor. Saya juga ikut kena, karena masa kerja saya baru 5 tahun. Ya, sudah saya terpaksa pakai uang pesangon buat usaha air isi ulang," ujar ayah tiga anak itu.

Lewat usaha tersebut Herbet bisa mengantongi pendapatan Rp 150.000 per hari. Memang, angka itu masih jauh dari total pendapatan yang dulu dia terima sebagai supervisor, yaitu Rp 8 juta per bulan.

Meski demikian, dia sangat bersyukur karena bisa mendapatkan penghasilan guna memenuhi kebutuhan keluarga. Tak seperti beberapa rekan-rekannya yang terkena PHK malah masih menganggur karena tak pandai memanfaatkan uang pesangon.

Masa kelam industri migas

Cerita nyata Herbert Munthe bisa saja terjadi pada banyak mantan pekerja di industri migas. Jatuhnya harga minyak dalam tiga tahun terakhir telah membawa industri ini masuk masa kelam.

Data bloomberg.com, Selasa (16/5/2017), mencatat harga minyak dunia 49,25 dollar AS per barrel—berdasarkan standarisasi West Texas Intermediate (WTI). Nilai itu masih jauh bila dibandingkan pada 2014, saat harga masih tinggi yaitu berkisar di 100 dollar AS per barrel.

Harga minyak mentah berada di nilai terendah pada Selasa (2/8/2016), ketika menyentuh 39.51 dollar AS per barrel.

Penurunan harga minyak dunia memang menjadi pukulan telak bagi industri migas. Di tengah biaya produksi migas yang tinggi, kondisi itu membuat kegiatan ekplorasi di hulu migas menjadi tidak menguntungkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun