Mohon tunggu...
Kompas.com
Kompas.com Mohon Tunggu...

Kompas.com merupakan situs berita Indonesia terlengkap menyajikan berita politik, ekonomi, tekno, otomotif dan bola secara berimbang, akurat dan terpercaya.

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Pilihan

Setelah Pencarian Korban Lion Air JT 610 Dihentikan

12 November 2018   08:16 Diperbarui: 12 November 2018   08:15 0 2 0 Mohon Tunggu...
Setelah Pencarian Korban Lion Air JT 610 Dihentikan
Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya M Syaugi memberikan keterangan kepada awak media di Dermaga JICT 2 Pelabuhan Tanjung Priok, Rabu (7/11/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Operasi pencarian korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Karawang, Jawa Barat, telah dihentikan Sabtu (10/11/2018) lalu.

Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya M Syaugi beralasan, operasi dihentikan karena jumlah temuan semakin sedikit. Pada Sabtu lalu misalnya, Tim SAR tidak menemukan satu pun bagian tubuh korban.

"Berdasarkan pantauan tersebut, kami dari tim SAR Basarnas pusat mengambil keputusan bahwa operasi SAR ini secara terpusat itu disudahi atau ditutup," kata Syaugi.

Operasi yang telah dilakukan sejak hari jatuhnya pesawat, yaitu pada 29 Oktober 2018 tersebut, telah menemukan sejumlah potongan tubuh korban (sebanyak 196 kantong jenazah). Semua potongan bagian tubuh korban itu telah diserahkan ke RS Polri untuk diidentifikasi.

Baca juga: Hentikan Pencarian Korban Lion Air, Kepala Basarnas Minta Maaf

Syaugi berharap, proses identifikasi dapat sesuai dengan manifes pesawat, yaitu ada 181 penumpang dan 8 awak dalam pesawat nahas tersebut.

Syaugi menyebutkan, Kantor SAR Jakarta dan Bandung tetap siap menerima laporan bila nelayan atau masyarakat menemukan tanda-tanda adanya korban.

"Melaksanakannya berapa lama? Terus. Karena mereka ini setiap hari tugasnya itu siaga 24 jam. Jadi kapan pun apabila masih ada, dia akan kerjakan itu," ujar Syaugi.

Sementara itu, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memastikan proses pencarian black box berisi cockpit voice recorder tetap berlanjut walau operasi pencarian korban dihentikan.

"Kami belum tahu sampai kapan pencarian ini bisa kami lakukan, tentunya juga kami harus nantinya berpikir masalah biaya karena biaya pencarian black box ini cukup masif (besar)," kata Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono.

Menurut Soerjanto, operasi pencarian black box membutuhkan dana banyak karena melibatkan teknologi-teknologi canggih.

KNKT bahkan berniat menambah alat canggih baru bernama sub-bottom profiling yang tengah dipersiapkan di Surabaya.

Baca juga: Cari Barang Milik Suaminya, Istri Korban Lion Air Sambangi Posko Basarnas

"Ada equipment baru yang on boat-kan di ROV yaitu sub-bottom profiling yang bisa mendeteksi benda-benda di dalam lumpur sampai kedalaman empat meter," kata Soerjanto.

Ia berharap, alat itu bisa mendeteksi keberadaan black box berisi CVR yang diduga terendam di bawa lumpur dasar laut.

Selain itu, operasi pencarian black box juga akan didukung oleh sepuluh penyelam yang dikerahkan Badan SAR Nasional.

Hingga Sabtu sore, total 79 korban jatuhnya pesawat yang telah teridentifikasi di RS Polri. Pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang itu jatuh di Tanjung Karawang, Jawa Barat, pada 29 Oktober pagi.

Pesawat itu mengangkut 181 penumpang dan 8 awak. Semua penumpang dan awak diduga tewas dalam kecelakaan tersebut.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x