Mohon tunggu...
de Gegan
de Gegan Mohon Tunggu... LAbuan Bajo | Petani Rempah
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Menulis apa saja dari kampung. Agar dibaca oleh orang orang kampung lainnya, yang kebetulan berada di kota atau di sebelah lingkaran bumi ini.

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Artikel Utama

"Candela" Orang Kampung di Hari Pelantikan Jokowi-Ma'ruf

20 Oktober 2019   19:41 Diperbarui: 21 Oktober 2019   06:15 0 14 3 Mohon Tunggu...
"Candela" Orang Kampung di Hari Pelantikan Jokowi-Ma'ruf
Foto Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden K.H. Maruf Amin (Dok. Setneg)

Tulisan ini sengaja saya buat sebagai bentuk lain dari politik partisipatif dari kami orang kampung. Singkatnya cerita perjuangan orang-orang desa menyambut hari yang penuh sukacita; 20 Oktober 2019 ini.

Orang menyebut Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden sebagai "Pesta Rakyat". Dan  betul, terlepas dari esensi tersebut, orang-orang di desa saya semenjak siang tadi berkumpul dan atau sekadar kongkow bareng di Mbaru Gendang (rumah adat Manggarai). Dengan niat menonton seraya menyaksikan Pakdhe Jokowi dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia untuk yang ke-2 kalinya.

"Jam pisa mulai lantik dise tong ge nana?..(Acara pelantikan Jokowi-Maruf dimulai jam berapa?)" Pekik paman Anton, yang kental dengan logat Manggarainya.
"Ma'u hos kut mulaid tong ga amang..(iya, sebentar lagi akan dimulai, Paman).

Diskusi santai selesai nobar pelantikan Presiden dan Wapres| dokpri
Diskusi santai selesai nobar pelantikan Presiden dan Wapres| dokpri
Selain Paman Anton, beberapa di antaranya datang dari desa sebelah, oleh karena di rumahnya tidak punya TV. Entah dari siapa pula mereka mendapati informasi bahwa hari ini Pakdhe akan dilantik. Karena memang minim informasi. Mereka tinggal di daerah terisolasi.

"Dapat info lantik ho bo ga niamai amang? (Informasi pelantikan ini dapatnya dari siapa, Paman?)," tanyaku.
"Ae.. onemai anak koe so meseng nana (Dari anak sekolah dasar dikampung)," pungkasnya.

Sedikit saya bercerita, di desa mereka juga, rumah-rumah warga hampir semuanya belum dialiri listrik, maka untuk menonton TV harus ke desa saya atau ke desa tetangga dulu, yang yang jaraknya lumayan jauh.

Padahal Indonesia sudah 74 tahun merdeka. Tapi begitulah realitas sosial yang terjadi. Tidak adanya aliran listrik ini membuat mereka tak bisa menikmati kemajuan zaman, semisal menonton TV, memasak menggunakan rice cooker dan apalagi mengoperasikan komputer. Bersyukur saja di desa saya belum lama ini sudah dimasuki listrik.

Akibat dari aliran listrik yang tak kunjung ada ini, selama puluhan tahun warga terpaksa menerangi kediaman mereka di malam hari dengan lampu pelita, warga menggunakan minyak tanah yang di Manggarai- Flores yang harganya 12. 000 per liter.

Miris memang. Selain tak bisa menikmati fasilitas modern, ketiadaan listrik membuat anak-anak usia sekolah di sini tak bisa belajar dengan nyaman seperti kawan-kawan mereka di kota sana.

Selain tidak nyaman, susana gelap di malam hari sedikit kurang kondusif lantaran menjadi sasaran hewan buas yang datang merusaki permukiman warga. Hewan dari hutan datang di malam hari lalu masuk ke dalam dapur dan merusaki peralatan dapur. Dan merekapun kewalahan mengejar dalam kegelapan.

Pelantikan Jokowi dan Harapan Kami Orang Kampung
Suasana Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden baru periode 2019-2024 berlangsung khidmat dan selesai dengan lancar. Keseluruhan rangkaian acara pelantikan ini juga kami ikuti dari awal hingga akhir secara seksama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2