Mohon tunggu...
Acek Rudy
Acek Rudy Mohon Tunggu... Konsultan - Palu Gada

Enterpreneur, Certified Public Speaker, Blogger, Author, Numerologist. Mua-muanya Dah.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Lady Godiva, Antara Pajak dan Penyimpangan Seksual

20 Oktober 2021   14:40 Diperbarui: 20 Oktober 2021   14:45 179 11 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Lady Godiva, Antara Pajak dan Penyimpangan Seksual (suneducationgroup.com)

Lady Godiva adalah simbol keadilan, namun ada juga yang bilang ia penyakit sosial.

Alkisah pada abad pertengahan, di kota Conventry, Inggris, pajak mencekik rakyat. Permohonan penurunan cukai telah diberikan kepada bangsawan Leofric yang berkuasa di sana, tapi tak membuahkan hasil.

Bahkan istri sang bangsawan, Lady Godiva juga bisa melihat kenyataan. Betapa pajak yang tinggi menyengsarakan hidup rakyatnya. Ia pun ikut bermohon-mohon kepada suaminya yang keras hati.

Bosan dengan rengekan istrinya, sang bangsawan pun menawarkan sebuah proporsal yang tidak masuk akal. Ia akan menurunkan pajak jika Lady Godiva bersedia telanjang naik kuda di siang bolong.

Ternyata Lady Godiva menyanggupinya. Ia naik kuda tanpa busana. Hanya rambut panjang yang menutupi sebagian tubuhnya.

Pengumuman pun dikeluarkan. Untuk menghormati sang putri, seluruh rakyat setuju untuk tinggal di dalam rumah. Kecuali seorang lelaki yang bernama Tom. Ia tidak bisa menahan nafsunya. Mengintiplah dirinya dari balik jendela. Lantas banyak yang mengatakan Tom menjadi buta setelahnya.

peeping tom (conventrytelegraph.net)
peeping tom (conventrytelegraph.net)

Tentunya happy ending menjadi akhir dari kisah, Leofric sang penguasa akhirnya menurunkan pajak bagi rakyatnya.

Kebenaran kisah Lady Godiva masih menjadi perdebatan. Ada yang menyebutkan jika ini adalah kisah nyata yang terjadi pada tanggal 10 Juli 1040.

Tapi, beberapa ahli sejarah menyatakan jika tidak ada catatan tentang sosok Lady Godiva di Conventry. Yang ada hanyalah Godifu, seorang wanita yang menikah dengan pengusa setempat pada abad ke-11. Ia bukanlah orang penting, karena sejarah tidak banyak membahasnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan