Mohon tunggu...
Rudy Gunawan
Rudy Gunawan Mohon Tunggu... Numerolog

Pemegang Rekor MURI sebagai NUMEROLOG PERTAMA di INDONESIA. Member of IPSA (Indonesian Professional Speakers Association). Enterpreneur, Speaker, Author, Numerologist.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Popularitas Penulis Wanita di Kompasiana, Beda dengan Pasar di Indonesia?

24 April 2021   05:09 Diperbarui: 24 April 2021   05:21 377 62 32 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Popularitas Penulis Wanita di Kompasiana, Beda dengan Pasar di Indonesia?
Popularitas Penulis Wanita di Kompasiana, Beda dengan Kenyataan Pasar di Indonesia (kompasiana.com)

Ini bukan tulisan propokatip. Meskipun, berasal dari ide propokatip Engkong Felix pada artikelnya yang berjudul; "Rendahnya 'Nilai Jual' Perempuan Kompasianer."

Idenya sederhana, Engkong membandingkan top 50 penerima K-Awards bulan Maret 2021 dari jenis kelamin. Tercatat hanya 8 nama wanita.

Gaya hipotesis si Engkong selalu menarik dan masuk akal (kadang). K-Rewards berhubungan dengan jumlah keterbacaan artikel. Berpikir sederhana, penerima K-Rewards biasanya juga adalah penulis aktif.

Jadi, kesimpulan sementara: 1) Di Kompasiana, penulis wanita lebih sedikit jumlahnya dari penulis lelaki. 2) Penulis wanita produktivifitasnya kurang, dan 3) tulisan penulis wanita kurang diminati.

Tapi, stop sampai di sini, jangan julid dulu.

Tentang Gender Penulis di Kanal Fiksi

Saya kemudian melakukan sedikit riset dan menemukan sebuah tulisan yang menarik dari sumber (cnnindonesia).

Hetih Rusli, editor fiksi Gramedia Pustaka Utama mengatakan bahwa penulis wanita lebih digandrungi di Indonesia. Tersebab Pasar pembaca fiksi juga didominasi oleh kaum wanita.

Konon, perempuan lebih punya banyak waktu dari lelaki. Termasuk membaca novel. Stigma pun terbentuk, wanita lebih memahami bahasa wanita. Sedangkan lelaki "kurang sensitif" memahami ranah wanita.

Lebih lanjut, Hetih juga menyebutkan jika penulis wanita lebih banyak jumlahnya.

"Menyebutkan nama penulis wanita Indonesia jauh lebih mudah ketimbang penulis pria," pungkasnya.

Penyebabnya karena masyarakat Indonesia masih memiliki paradigma yang patrilineal. Profesi penulis masih dianggap kerja sampingan yang belum tentu menghasilkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN