Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Liberal Javanese People

Bagi saya, hal yang paling mengecewakan sempitnya pengetahuan, "Intuisionisme". Tertarik dengan : Filsafat Romantisisme, Sosial-Budaya, Sastra dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Desa, Kota, dan Manusia

22 Oktober 2019   17:20 Diperbarui: 29 Oktober 2019   09:21 0 5 0 Mohon Tunggu...
Desa, Kota, dan Manusia
ilustrasi: Wisatawan saat mendatangi dan berfoto di kampung tematik ala Jepang di Gang Kepatihan, Jalan Veteran, Kelurahan Kebon Kelapa, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. (KOMPAS.COM/RAMDHAN TRIYADI BEMPAH)

Tentang yang banyak orang katakan sebagai: "Tidak pas dengan prinsip atau tujuan hidup yang mereka terapkan. Tetapi yang tergambar dalam angan, adakah mereka tahu secara pasti bahkan mungkin gamblang apa yang ditujunya sendiri?

Sesekali aku ingin menggambarkan, perubahan adalah waktu, dan saat; disanalah memanggil untuk dituju. Tempat-tempat yang terkujung, aku tidak ingin menetapkan untuk tetap terus aku kunjungi.

Namun, dengan berbagai sebab itu, apakah benar ada sesuatu yang harus manusia itu tolak dikala: ia " manusia" harus berjalan apa adanya sebagai manusia yang butuh akan kehidupan itu?

Wacana dan menjadi wacana; ia bukan saja dapat membuat manusia menjadi puyeng didalamnya. Mereka manusia berwacana terkadang bingung sendiri memandang dunianya. Bahkan jika mau untuk berpikir dan mengkaji lebih dalam kembali, mereka manusia pemikir: hidup akan terus didalam pemikirannya sendiri.

"Manusia pemikir: "berjalanlah tanpa sebab. Karena sebab tidak akan menunjukanmu bagaimana menjadi dirimu sendiri secara utuh. Perjalanan ibaratkan air dari sumber, biarkan ia berjalan bagaimana: ia sendiri ingin dan akan diarahakan untuk berjalan".

Tentang tujuan, bukankah hidup manusia ini dari kosong untuk di isi, dan sebagai isi itu sendiri; hanya saat dan waktu yang dapat menjawabnya? Ada saat; karena disana pula ada tujuan, tentu yang dapat menjawab tujuan hidup adalah saat: seperti yang katanya malam ini sembari berpikir dari Stasiun Purwokerto menuju Stasiun Gambir, Jakarta!

Seperti biasa, orang-orang berjejer dengan berbagai rasa. Bukan gelisah tetapi sedikit jengah dengan: tidak lebihnya karena mereka masuk dalam lingkungan tersebut. 

Untuk itu berbicara tentang kebutuhan, di sanalah ia "manusia" harus tetap menjemput apa yang harus terjemput dalam: "Ia "manusia" menjalani hidupnya sendiri sebagai bagian dalam kebersamaan menjadi masyarakat yang butuh".

Kota dan berbagai masa dari waktu itu membalasnya, bukan saja harus ternikmati sebagai bagian wadah manusia itu sendiri. Tetapi bagaimana dengan gerutuan orang-orang disana yang mempersepsikan bahwa: rumah di kota seperti Jakarta dan pinggirannya harganya bisa enam atau delapan rumah di kampung?

Tidak ubahnya, sistem produksi ini, tetap meskipun yang didalam kota menjadi ukuran dengan mengukur diluarnya. Pemenang dari hidup adalah orang-orang yang mempunyai uang di abad 21 ini, dan di manakah letak banyak uang tersebut? Tetap yakni didalam Kota!

Saat ini yang dikatakan abad 21. Tidak ada kampung atau desa berkumandang dalam hal ini. Semesta berpikir akan bagaimana hidup ini seharusnya seperti sudah mengglobal bahkan diruang sudut manapun sudah menjemput kenyataannya sendiri. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3