Toto Priyono
Toto Priyono Kariyawan Swasta

Bagi saya, hal yang paling mengecewakan sempitnya pengetahuan. "Intuisionisme"

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Hidup Sebagai Lajang, Apa yang Harus Dilakukan?

19 Maret 2019   12:11 Diperbarui: 20 Maret 2019   17:12 796 9 2
Hidup Sebagai Lajang, Apa yang Harus Dilakukan?
Pemandangan pinggir Pantai Menganti, Kebumen, Jawa tengah [Gambar: Dokpri]

Apa betul kopi itu selamanya rasanya pahit? Sepertinya itu tidak selama ada upaya meracik dengan bahan yang dapat menambah manis. Kata teman, "saya-lah si bujang lapuk itu", horor memang, ada-kalanya  membuat parno. 

Tetapi apapun itu namanya tidak menjadi masalah. Kenyataan-nya saya memang masih membujang dan entah sampai kapan akan mengakhirinya. "Hidup seperti dalam ketidakpastian langkah kaki yang harus ditempuh".

Ada pepatah bilang, "Truk saja gandengan masa kamu tidak" menjadi pertanyaan, sebegitukah analogi ungkapan bagi seseorang yang melajang? Sulit disangkal memang, analogi apapun rasannya pantas jika hidup dalam kesendirian. Tunggu! Ini bukanlah akhir, tetapi awal dari, percayalah!

Ini memang tidak mudah, tetapi cukup menenangkan pikiran jika berpikir saat ini. Saya ingin ibaratakan, "kelajangan", jika manusia itu burung. Ia bisa terbang setinggi-tingginya tanpa beban "ia harus pulang ke rumah menjumpai Anak dan Istrinya". 

Memang terkesan seperti urakan, kadang pula ia tersesat. Berimajinasi tentang gaya hidup "Anak Jalanan" pantas disematkan pada kelajangan. Untuk itu, membuat kelajangan berbeda-pun harus mutlak dilakukan sebagai "Lajang" itu sendiri. Di tambah dengan kehidupan modern yang semakin kompleks dari sisi tata kehidupannya.

Tetap seberapa jauh Layangan itu terbang, ia punya dasar yang kuat untuk menahan supaya layangan tidak terbang secara tidak beraturan. Pasti, dengan kepolosan Anak kecil-pun ia tahu, harus mengikatkan benang yang dijadikan mediator terbangnya Layangan. Agar pada saat angin datang dengan kecangnya, ia tidak akan terbawa angin itu, karena dasar dari pegangnya kuat.

Sama halnya kelajangan yang harus direkam dengan baik. Lajang berarti bebas, tanpa terikat, tidak ada Istri yang menunggu dirumah, Anak yang merengek minta ditemani Ayah-nya. Bukan kelajangan tidak ada kesempatan ada ,"untuk menjadi ditunggu Istri", "menemani bermain Anak". Lajang hanya diistimewakan oleh waktu.

Namun kebebasan dalam "Lajang" memilih dirinya, untuk menentukan menjadi apa selagi masih hidup dalam kelajangan. Waktu yang dilebihkan jika dibandingkan dengan seorang yang sudah menikah. Kepuasan dalam menjadi Lajang: ia menetukan sendiri, mau "jadi" atau, untuk "apa" dirinya. Tiada yang lain, dirinya sendirilah yang menetukan. Menyesali atau mensyukuri dimasa ia sudah tidak melajang lagi?

Dalam bayang semesta pikiran memang mengoda imajinasi, jika waktu itu berlalu, seseorang akan terbawa berpikir, apa yang sudah dilakukan Ibaratnya, "penyesalan datang pada akhir keadaan setelah tersadar". 

Jika penyesalan datang di awal namanya "pendaftaran", itulah cloteh orang-orang menghibur dirinya sendiri. Karna tidak ada ungkapan selain menghibur dirinya. Agar tidak terlalu jauh juga ia hidup dalam penyesalannya yang ia buat sendiri. Ceroboh dalam mengambil keputusan!

Artikulasi "Lajang" sendiri sangatlah luas jika, bila mau dijabarkan. Ibarat Manusia itu "mau menjadi" haruslah sadar bahwa di dalam kebebasannya terdapat potensi yang harus digalinya. 

Meskipun harus dengan banyak berpikir, tetapi bukan masalah, sisa waktu sampai kapan Jodoh itu datang sebagai ajang menemukan diri sendiri dan mengaktualisasi diri secara pasti, bahasa kininya "bukan kaleng-kaleng".

Terdapat tantangan, kelajangan ibarat "belajar" di waktu tersenggang dalam hidup manusia. Mungkin di luar sana banyak orang frustasi. "Ayolah menikah", kalau bisa "semuda mungkin", mereka berpikir sederhana saja. Tidak menuntut apapun bagi dirinya sendiri. Ia, seperti ikut dalam logika formal yang tertanam masyarakat tradisional. Bahwa Usia 20-an sudah pantas untuk menikah dan "kefrustasian hidup" sendiri menjawab tantangan itu. 

Bolehlah kita sebagai lajang muktahir menilik gagasan kembali menikah. Saya tidak bilang "menikah itu buruk", justru saya ingin bilang "menikah sangatlah baik". Siapa yang tidak mau menikah dalam hidup ini? Karena ada ungkapan hidup ini hanya sekali. Mungkinkah seseorang di sana memikirkan hal yang sama? 

Selain melestarikan "Spesies", menikah juga membuat kita mempunyai teman hidup. Atau setidaknya, sebagai manusia yang dihidupi oleh orang tua, menghidupi Anak sendiripun bukan hanya prestasi, akan menjadi kesempurnaan hidup itu sendiri sebagai manusia. Ditambah dengan berbagai penelitian tentang menikah "paling menarik adalah perubahan dalam kepribadian".

Memang, sedikit-banyak, benarnya ada dalam penelitian itu. Menikah berarti "membangun keluarga", adanya status membuat sadar, jika telah menikah mengubah diri sangat mungkin dan wajib dilakukan. 

Dalam bersosialisasi dengan tetangga, menekan sisi egois diri kita, bahwa setiap keputusan bukan atas nama sendiri, memulainya kesadaran sebagai orang tua dari anak-anak kita dan masih banyak perubahan kepribadian yang lain, tentunya sangat banyak!

Oleh karena itu, kelajangan yang di istimewakan oleh waktu. Menurut saya periode dalam hidup "Lajang" adalah periode emas dalam hidup Manusia. Lajang sebagai jembatan persiapan dalam menatap pernikahan.

Jika dalam keadaan "Lajang" kita sudah bekerja dan mendapat penghasilan, akan mempengaruhi kehidupan kita setelah menikah nanti, percayalah! Dengan catatan, hidup lajang sendiri itu "Prihatin". Hidup prihatin dalam pengertian saya adalah hidup yang berorentasi pada masa yang akan datang. Istilah bahasa Jawa "ngapaknya" itu "ngemuti go dina ngesuk maning, esih ana dina". Saya yakin, bila direncanakan dengan baik, hidup dalam pernikahan pasti akan lebih mudah.

Dengan berbagai alasannya, "Lajang"sebagai jembatan emas periode hidup manusia. Saya menyimpulkan beberapa hal yang harus dilakukan seorang Lajang, juga pelajaran yang didapat dari lajang itu sendiri.  Akan lebih baik lagi jika "Lajang" mau dan sudah bekerja. Beberapa hal yang harus dilakukan lajang:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2