Mohon tunggu...
KOMENTAR
Bisnis Pilihan

Arah Baru Pengembangan Bisnis Komoditas Pertanian Tanaman Kelor di Wilayah Nusa Tenggara Timur

20 Juni 2020   10:30 Diperbarui: 20 Juni 2020   10:40 172 4

Sektor pertanian menjadi sektor lahan ekonomi yang menjadi penopang besar bagi perekonomian negara. Indonesia menjadi negara dengan kemampuan sektor pertanian yang cukup terkenal di dunia. Tidak mengherankan banyak sekali produk – produk pertanian yang diekspor ke berbagai belahan dunia. 

Komoditas pertanian yang sering kali menjadi produk unggulan yakni komoditas tanaman hortikultura dan buah – buahan. Hal ini terjadi dikarenakan beragamnya varietas tanaman buah di Indonesia. Namun, tidak hanya produk hortikultura saja yang mampu bergerak dalam pasar internasional. Salah satu tanaman unik di Indonesia yakni kelor atau moringa juga menjadi produk potensial dan dicari di pasar internasional.

Tanaman kelor atau dalam dunia internasional dikenal dengan nama tanaman moringa merupakan tanaman dengan segudang manfaat dan kaya akan kandungan gizi didalamnya. tidak mengherankan produk tanaman kelor diperdagangkan hingga ke pasar internasional. Moringa merupakan tanaman khas dari wilayah himalaya dimana tanaman ini mampu tumbuh baik dengan kondisi lahan yang tergolong sedikit air. 

Pembudidayaan tanaman kelor sendiri tidak terlalu rumit dan dapat dilakukan secara sederhan pemeliharaannya. Produsen tanaman kelor di dunia sendiri masih didominasi oleh produk dari wilayah india, sekitar 70%. Dimana lainnya dipenuhi oleh negara lainnya dan Indonesia termasuk didalamnya.

Produsen tanaman moringa di Indonesia terbesar dan mampu memproduksi dalam skala yang besar yakni di wilayah Blora Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur. Dua wilayah di Indonesia ini menjadi sentra produksi tanaman kelor dunia baik dalam bentuk daun basah maupun olahan daun kering. 

Nusa Tenggara Timur saat ini tidak hanya mampu memproduksi produk daun kelor berskala ekspor namun juga mampu mengembangkan industri jangka panjang. Hal ini dibuktikan dengan adanya pembangunan laboratorium pengembangan tanaman moringa di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Nusa Tenggara Timur telah menyiapkan lahan seluas 100 hektare dengan tujuan pembangunan perkebunan tanaman kelor dan laboratorium penelitian tanaman kelor. Dengan berkembangnaya teknologi saat ini dengan persaingan dalam pasar global, maka pengembangan produk kelor harus terus dikembangkan. 

Laboratorium penelitian tanaman kelor nantinya akan melakukan penelitian dan pengembangan jenis tanaman kelor yang mampu menjawab kebutuhan pasar global. Laboratorium penelitian ini akan mengembangkan dan mengolah produk tanaman kelor dalam bentuk daun kering sebagai kebutuhan industri.

Perkebunan dan laboratorium penelitian kelor ini didukung oleh pemerintah wilayah NTT sendiri dengan pengawasan dari Bapelitbangda NTT. Tujuan utama pengembangan perkebunan kelor dalam skala besar ini berguna menjawab kebutuhan industri akan produk olahan kelor baik dalam bentuk daun kering ataupun tepung kelor. 

Produk kelor dalam kebutuhan industri khusunya di Indonesia masih belum mampu sepenuhnya dipenuhi oleh produsen nasional, sehingga impor produk kelor juga berlangsung. Hal ini menjadikan sektor industri kelor masih terbuka lebar bagi para pelaku usaha budidaya tanaman kelor.

Penjualan dan perdagangan produk olahan kelor saat ini tidak terlalu mengalami fluktuasi harga. Produk olahan tanaman kelor berupa daun kering sendiri sering kali tidak mengalami penurunan harga dan cenderung naik tiap periodenya. Harga terendah dalam penjualan produk kelor kering sendiri berkisar Rp. 25.000 per kilogramnya, harga ini merupakan harga terendah yang ada di pasar. 

Industri dan pengembangan tanaman moringa di Indonesia masih berada dalam skala kecil dan masih belum menjadi lirikan bagi mayoritas pengusaha pertanian di Indonesia. Jika dilihat dari peluang bisnisnya, industri kelor merupakan usaha yang menguntungkan.

Adanya pendekatan dari segi kajian ilmiah dalam pengembangan industri tanaman kelor menggambarkan sektor tanaman kelor akan menjadi produk global yang potensial. Meskipun industri tanaman kelor  di Indonesia masih belum mampu memenuhi kebutuhan industri global, dengan dibangunnya laboratorium penelitian ini mencerminkan arah baru pergerakan industri kelor yang maju. Industri tanaman kelor dalam produk jualnya mengutamakan produk olahan daun kering, namun dengan melihat prospeknya di pasar dunia tidak mengherankan tanaman kelor atau moringa yang disebut sebagai tanaman emas ini akan menjadi lahan basah pengembangan sektor pertanian kedepan di Indonesia.


Sumber :

Kurniawan,H. 2019. Pertumbuhan semai kelor (moringa oleifera) asal Nusa Tenggara Timur. Unilak, 3(2) : 12-33.

Bappelitbangda.nttprov.go.id/perkebunan-dan-laboratorium-kelor

KEMBALI KE ARTIKEL