Mohon tunggu...
KOMENTAR
Pendidikan

Otokritik “Wahyu Memandu Ilmu”

13 November 2009   17:51 Diperbarui: 26 Juni 2015   19:21 435 0
Salam, Sunan Gunung Djati-Sebenarnya pertanyaa ini saya ingin sampaikan pada seminar tadi siang yang katanya seminar international, Namun dalam seminar itu saya masih kurang “mudeng” dengan alur pembicaraan dari Pak Osman lalu ke Pak Nanat dan Pak Tafsir.., Bahkan kok saya malah berfikir.,”forum tersebut hanya sebagai forum untuk “meng-absahkan” konsep wahyu memandu ilmu., Menurut Prof. Nanat : wahyu memandu ilmu dibangun sebagai cara untuk menghilangkan dikotomi-dikotomi yang ada dalam ilmu pengetahuan barat dan ilmu pengetahuan islam.,lalu dimana islamisasi pengetahuan nya? Kalou memang konsep “wahyu memandu ilmu” digagas.,justru menurut saya (yang bodoh ini).,sedikit rancu.,kaerna ada kata2 “memandu”.,dengan kata lain kata tersebut jelas membuat satu strata dikotomi baru terhadap islam dan ilmu.,atau wahyu dan ilmu., Jadi mungkin saja konsep wahyu memandu ilmu ini, menyelamatkan ilmu dari pengaruh pemikiran2 para kaum anti-islam,.,namun belum bisa “meng-equal- kan” atau menyamaratakan antara wahyu dan ilmu., Selanjutnya!saya ingin mengutip dari makna “islamisasi pengetahuan versi al faruqi “Islamisasi ilmu pengetahuan berarti mengislamkan Ilmu pengetahuan moderen dengan cara menyusun dan membangun ulang sains sastra, dan sains-sains pasti alam dengan memberikan dasar dan tujuan-tujuan yang konsisten dengan Islam. Setiap disiplin harus dituangkan kembali sehingga mewujudkan prinsip-prinsip Islam dalam metodologinya, dalam strateginya, dalam apa yang dikatakan sebagai data-datanya, dan problem-problemnya. Seluruh disiplin harus dituangkan kembali sehingga mengungkapkan relevensi Islam sepanjang ketiga sumbu Tauhid yaitu, kesatuan pengetahuan, hidup dan kesatuan sejarah. Hingga sejauh ini kategori-kategori metodologi Islam yaitu ketunggalan umat manusia, ketunggalan umat manusia dan penciptaan alam semesta kepada manusiadan ketundukan manusia kepada Tuhan, harus mengganti kategori-kategori Barat dengan menentukan presepsi dan susunan realita” (Al-Faruqi. Islamization of knowledge: the general principles and the workplan dalam Knowledge for what? Islamabad-Fakistan: National Hijra Council, 1986, hlm.34)” Jadi islamisasi ilmu pengetahuan bukan hanya masalah kurikulum dan konsep,.tapi ada upaya pembangunan ulang sains / “knowledge”,dan sebagainya.,dan sebagainya.,lau apa yang terjadi dalam kurikulum universitas yang memakai konsep “wahyu memandu ilmu”? So! Masalah ini.,sebenarnya masih perlu banyak dikilas.,dan saya masih perlu banyak penjelasan dari para konseptor “wahyu memandu ilmu”., Maklum baru coba-coba belajar filsafat ilmu nich,hehe

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun