Mohon tunggu...
KOMENTAR
Travel Story Artikel Utama

Kampung Vietnam: Jejak Para Pengungsi di Pulau Batam

9 September 2013   12:30 Diperbarui: 24 Juni 2015   08:08 6126 6

sihardejournal.worpdress.com

“Cerita ini mengibaratkan saya menonton sebuah film Chernobyl Diaries, cerita ini menceritakan sebuah perjalanan wisata enam orang anak muda yang berencana melakukan tour ke sebuah kota mati bernama, Pripyat. Kota ini dulunya adalah tempat para pekerja reaktor nuklir Chernobyl. 25 tahun lalu, di kota ini terjadi insiden maut yang menewaskan seluruh penghuninya. Tapi Stop! Endingnya ndak sama, endingnya perjalanan ini happy ending. Kesamaannya adalah, berwisata ke sebuah kota/ wilayah yang sudah tidak dihuni oleh penduduknya, itu saja hahaha..”

Pohon-pohon besar yang terbentang kokoh di setiap pinggir jalan, membuat suasana hati kami menjadi penasaran memasuki wilayah ini. Sembari diiringi dengan angin sepoi dan tenang membuat suasana menjadi ‘damai’.  Sepintas kaki ini berhenti sejenak, mendengar kicauan burung dan tebaran angin disepanjang jalan, seakan-akan wilayah ini adalah hanyalah milik  kami semata, tanpa ada mahluk hidup yang menempati wilayah ini.

Namun ketika kamu memasuki wilayah ini dalam jarak 500 meter dari pintu masuk, perasaan kamu akan semakin bertambah, ”Ini kawasan apa, Kog begitu banyak bangunan kosong tak bertuan berada di tempat ini?”. Wilayah yang menyerupai perkampungan ini sepertinya sudah lama ditinggalkan seadanya oleh penghuni setempat. Lahan pertanian yang masih terbentang luas, hijau dan subur serta bangunan yang terbentang dalam jarak sekian meter, dan bangunan penjara yang masih berdiri kokoh di perkampungan ini. Anehnya lagi? Kami seperti berada di sebuah wilayah yang terisolasi nyata di  negara Vietnam. Beneran, ini Vietnam?

Jawabannya adalah salah!

Cerita ini adalah nyata, apalagi nama negaranya juga nyata, namun lokasinya yang tidak nyata. Siapa sangka sebuah perkampungan vietnam ini ada di pulau Batam. Ya sebuah pulau kecil perdagangan yang berbatasan antara pulau Sumatera dan Singapore.

Kampung pengungsian Vietnam ini nyata dan terletak jauh di Desa Sijantung, Pulau Galang, Kecamatan Galang, Kota Batam.  “Wellcome to Vietnam .. ya kata-kata ini yang bisa diungkapkan bagi siapa saja yang mengunjungi perkampungan ini. Pasalnya kamu akan menemukan segala kehidupan yang berhubungan dengan Vietnam seperti tulisan, museum bahkan pemakaman para pengungsi Vietnam yang ada di pulau ini.

Ternyata sejarah itu benar, kampung vietnam atau yang dikenal Camp Vietnam ini merupakan area yang pengungsi Manusia Perahu Vietnam. Dulunya mereka ini mencari perlindungan atau suaka pasca terjadinya konflik internal antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan sekitar tahun 1979.

Perahu kapal inilah yang mereka gunakan untuk mengungsi dari negaranya. Nggak kebayang, perahu kecil yang terbuat dari kayu sederhana ini, mampu menyelamatkan mereka dari tingginya hantaman ombak. Percaya ngga percaya, perahu ini ternyata mampu mengangkut sekitar 100 pengungsi waktu itu. Mereka terdampar dan terombang-ambing mengarungi perairan Laut Cinta Selatan, hingga akhirnya mereka ada mencapai daratan wilayah Indonesia, namun sebagian lagi tidak ada yang meninggal di tengah lautan

Bagaimana dengan perahu kecil ini? Ini adalah puing-puing sisa pembakaran dari para pengungsi, pasalnya mereka protes karena tidak lolos untuk mendapatkan kewarganegaraan baru. Perahu ini diangkat dari daratan oleh Pemerintah Otorita Batam, untuk diperbaiki dan dipamerkan ke publik, ya seperti yang dilakukan saat ini.

Mereka terdampar, mereka terombang-ambing mengarungi perairan Laut Cinta Selatan, hingga akhirnya mereka ada mencapai daratan wilayah Indonesia, namun sebagian lagi tidak ada yang meninggal di tengah lautan.

Namun kenapa bisa sepadat itu ya pengungsinya! Melihat kondisi perkampungan ini, memang awalnya pengungsinya sedikit dan awalnya ditampung masyarakat setempat, namun ternyata lama kelamaan perahu lainnya berdatangan. Bukan ke pulau Batam saja, mereka juga masuk ke Pulau Anambas dan Pulau Bintan.

Melihat akses kepulauan ini cukup memadai, terutama akses menyalurkan pengungsi ke sejumlah negara serta mampu menampung 10.000 pengungsi, akhirnya Komisi Tinggi Urusan Pengungsi PBB (UNHCR) dan Pemerintah Indonesia menetapkan pulau Galang sebagai tempat penampungan sementara bagi para pengungsi. Maka dibangunlah seperti barak pengungsian, tempat ibadah, rumah sakit, dan sekolah.

Jika kamu memasuki perkampungan ini yang dipenuhi dengan jejak beragam bangunan, sisa kehidupan dan lahan pertanian sekakan-akan membuat kamu hidup di sebuah wilayah yang terisolasi di area sekitar 80 hektar ini. Dengan jaraknya yang begitu jauh dari kota Batam, interaksi kamu akan tertutup dengan penduduk setempat.

Tidak hanya rumah penduduk, kamu juga akan menemukan penjara kecil yang bertingkat berdampingan dengan pos keamanan.  Dulunya bangunan ini sebagai tempat pengawasan dari tentara Indonesia untuk mempermudah pengawasan, pengaturan, penjagaan keamanan, sekaligus menghindari penyebaran penyakit kelamin Vietnam Rose yang dibawa para pengungsi.  Dulunya penjara ini digunakan untuk memenjarakan para penduduk yang gemar mencuri dan membunuh, dan mencoba melarikan diri, bahkan di tempat isolasi saja mereka berani melakukan pemerkosaan.

Tak heran, setelah kamu melewati gerbang masuk Humanity State, kamu akan menemukan sebuah patung perempuan yang menduduk/ terkulai. Monumen berbentuk perempuan ini, didirikan untuk mengenang tragedi Tinh Han Loai, seorang wanita yang bunuh diri karena malu setelah diperkosa oleh sesama pengungsi.

Kalau kamu datang ke tempat ini, pasti akan menemukan tempat ini. Beneran? Inilah yang disebut ‘pemukiman’ para pengungsi, yang pastinya adalah barak. Ndak kebayang khan, di tempat inilah mereka semuanya berkumpul, sebelum mereka dipulangkan ke Vietnam. Sekarang, kondisi bangunan tersebut dibiarkan begitu saja. ‘histeris’ ingin uji nyali? Silahkan, mungkin cocok untuk menjadi lokasi syuting, karena dulunyah tempat ini dihuni sepanjang tahun 1979-1996.

Ada yang terlupakan juga, ini adalah pemakaman Nghia-Trang Galang, dan ada sekitar 503 pengungsi dimakamkan di sini. Konon ceritanya, mereka yang meninggal adalah akibat penyakit yang diderita selama berlayar berbulan-bulan di laut lepas. Sehingga, sampai sekarang pemakaman ini kerap masih didatangi para kerabat keluarga untuk berziarah langsung jauh-jauh dari Vietnam. Batu nisan yang terdapat di pemakan ini, tak tanggung-tanggung bentuknya sangat besar.

Meski mereka hidup dalam pengawasan ketat, namun pemerintah membangun rumah ibadah,  seperti, Vihara Quan Am Tu, Gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem, gereja protestan, dan juga mushola. Vihara Quan Am TU, merupakan salah satu tempat ibadah yang paling mencolok di situ. Jika kita datang dari kejahuan Vihara tersebut dapat dilihat dengan jelas. Semua bangunan tersebut masih orisinil.

Untuk memasuki wilayah Gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem ini kita harus melalui jembatan kayu yang keadaannya sudah terlihat lapuk namun ternyata masih bisa dilewati pejalan kaki dengan aman. Bagi yang membawa kendaraan roda empat atau roda dua, bisa melewati jembatan jembatan baru yang terbuat dari semen di samping gereja.

Tidak jauh dari Gereja, ada patung Bunda Maria dalam sebuah perahu besar, kamu bisa menaikinya dan berfoto di tempat ini. Sebelah kanannya terdapat dua patung singa yang terdapat dalam tulisan Vietnam dan inggris bertuliskan “O Mary, we are all deeply grateful for your protecting presence on our way to freedom. We always entrust our lives to you. Your care for us will be highly appreciated in our heart forever.”

“Tak kenal maka tak percaya” masih belum percaya dengan keberadaan mereka? ini nih salah satu ruang museum para pengungsi. Di dalam museum terdapat banyak pasfoto para pengungsi, foto keluarga, foto kegiatan para pengungsi, serta benda-benda rumah tangga yang dapat menggambarkan situasi kehidupan di Camp Vietnam.. Dulu  museum  ini adalah kantor UNHCR..seribu foto lebih wajah pengungsi dapat kamu lihat di tempat ini.

Selain museum ada juga bekas bangunan rumah sakit yang masih menyimpan kotak-kotak dan botol-botol obat yang dibiarkan terbengkalai begitu saja, bangkai-bangkai kendaraan roda empat yang sudah berkarat dan ditumbuhi tanaman rambat, serta bangunan-bangunan sekolah bahasa yang hanya terlihat sebagian karena mayoritas dindingnya sudah tertutup tanaman rimbun hingga atap.

Tips:

+ Jika berkunjung ke Camp Vietnam, sebaiknya menggunakan kendaraan mobil, karena jarak tempuh dari kota Batam ke kampung vietnam memakan waktu 2 Jam perjalanan. Sepi dan tanpa kemacetan, membuat kamu harus lebih ekstra hati-hati dalam mengendarai

+ Hati-hati terlewat karena letaknya kurang mencolok. Dengan membayar di loket masuk sebesar Rp. 5000 per mobil dan Rp. 3000 per orang, perjalanan napak tilas bersejarah ini pun dimulai.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun