Mohon tunggu...
KOMENTAR
Edukasi

Buang Sikap Meremehkan, Kembali ke Jalan yang Benar

19 Januari 2021   00:05 Diperbarui: 19 Januari 2021   00:17 104 3

Anda seorang pemimpin? Harusnya sih iya. Sekalipun tidak memimpin banyak orang, minimal memimpin diri sendiri. Belum lama ini, penulis terusik dengan hal-hal seputar kepemimpinan. Tidak gampang menjadi seorang pemimpin. Dibutuhkan integritas, kecakapan memimpin, wawasan yang luas, kemampuan berkomunikasi, mampu berpikir holistik, mengikuti perkembangan yang terjadi, memiliki pengikut, sampai bagaimana merespons sesuatu dengan bijak. Selain beberapa hal ini, pasti masih banyak area lain yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Pemimpin juga menjadi sorotan. Pemimpin menjadi seseorang yang akan dilihat pertama. Hal ini dialami oleh semua pemimpin. Karena itu, sangat penting bagi pemimpin untuk bersikap benar, berintegritas, bijaksana, dan mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Itu idealnya.

Namun, tidak semua pemimpin seperti itu. Ada pemimpin yang memiliki kekurangan-kekurangan, yang mungkin malah membuat para pengikut merasa tawar hati mengikuti kiprahnya. Salah satu kelemahan dari suatu kepemimpinan adalah adanya sikap meremehkan pengikut atau anggotanya. Tidak dimungkiri bahwa seseorang yang dipilih menjadi pemimpin adalah orang yang memiliki kemampuan lebih dibandingkan orang-orang lainnya. Namun, bukan berarti pemimpin bebas menyatakan penilaian pribadinya dengan cara-cara yang kurang tepat sehingga membuat pengikutnya menjadi tawar hati.

Beberapa hal yang penulis amati tentang sikap meremehkan ini bisa terlihat pada:

1. Mengunggulkan kemampuan sebelum melihat kinerja atau bukti dari kerja.
Pemimpin bisa dan bebas memberikan penilaian atas seseorang yang baru . Namun, alangkah lebih baik apabila penilaian tersebut berlandaskan pada hasil keja yang sudah dilakukan, bukan hanya berdasar pada pengakuan semata dari orang yang bersangkutan. Parahnya lagi jika penilaian tidak berdasar kuat ini dilontarkan sebagai pembanding untuk orang-orang lama yang selama ini sudah dipimpinnya.

2. Terlalu mengagungkan seseorang.
Pemimpin bisa saja begitu terkesima dengan salah satu pengikutnya. Saking kagumnya, pemimpin bisa jadi mendewakannya dan menganggap para pengikut lainnya tidak lebih baik dari orang tersebut. Kadang cenderung memukul rata semua kemampuan pengikutnya dengan dasar penilaian yang tidak objektif. Hanya karena kagum dengan seseorang, kelebihan dan keterampilan pengikut lainnya jadi kabur dan hilang dari memorinya.

3. Mengevaluasi secara kaku.
Setiap pekerjaan pasti harus dievaluasi untuk mengetahui sejauh mana pengembangan dan kualitas progress kerja yang sudah dilakukan. Namun, alangkah lebih baik apabila evaluasi dilakukan dengan terbuka. Pemimpin memang harus berpikir ke depan, tetapi dalam melakukan evaluasi, kita tidak boleh melupakan masa sebelumnya. Keberhasilan sekarang ini tidak terlepas dari susah payah yang dilakukan sebelumnya. Jangan meremehkan atau bahkan melupakan usaha-usaha sebelumnya yang sudah dikerjakan dengan baik. Keberhasilan saat ini bukan muncul secara tiba-tiba, tetapi semua dibangun dari langkah-langkah kecil sebelumnya.

4. Punya kebiasaan meremehkan.
Berbicara tentang kebiasaan, bisa menjadi salah satu pola hidup seseorang. Jika pemimpin cenderung suka meremehkan, ini pertanda kurang baik dalam suatu hubungan dan kerja sama. Kebiasaan meremehkan pengikut/orang-orang yang dipimpinnya tidak akan membawa kebaikan, tetapi membawa bencana dalam suatu kerja sama. Tidak ada orang yang mau bekerja dan nantinya akan diremehkan, tanpa ada apresiasi. Bekerja baik atau kurang baik, hasil yang didapat hanya komplain yang timbul dari rasa tidak puas diri, akan membuat orang-orang merasa sebal dan tidak bersemangat. Setiap usaha, kerja sama, dan apresiasi itu adalah suatu investasi. Jika sebagai pemimpin kita bisa mengapresiasi sesuai apa yang sudah dihasilkan, orang-orang akan merasa dihargai dan dianggap. Hal ini akan memberi semangat dan antusias dalam berkarya lebih baik lagi ke depannya.

Mari kita sama-sama membangun keterampilan hidup yang baik dan berguna bagi diri sendiri dan banyak orang. Sikap meremehkan tidak akan membawa kebaikan. Sikap meremehkan membawa kerugian dan mencuri antusiasme orang, membuat tawar hati, dan mengerdilkan semangat. Mari kita belajar menghargai dan melihat sesuatu dari banyak perspektif supaya kita bisa bijaksana dalam merespons dan menghargai setiap jerih lelah, relasi, dan kerja sama yang ada. 

KEMBALI KE ARTIKEL