Mohon tunggu...
KOMENTAR
Lyfe

Ada Apa dengan Glorifikasi Saipul Jamil?

6 September 2021   17:43 Diperbarui: 6 September 2021   17:47 290 2
Saat ini sedang menggema istilah Glorifikasi terkait pembebasan Pedangdut Saipul Jamil dari penjara. Istilah Glorifikasi itu sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti, sebuah proses, cara, perbuatan meluhurkan maupun  memuliakan.

Dari pengertian tersebut maka bisa disimpulkan bahwa apa yang telah terjadi saat Saipul Jamil bebas dengan cara dikalungkan bunga, diarak keliling di atas mobil mewah, adalah sebuah tindakan atau perbuatan meluhurkan maupun memuliakan sang Pedangdut.

Tindakan itu kemudian memunculkan polemik di tengah publik. Pasalnya, mantan suami Dewi Perssik itu tak pantas dan layak diperlakukan seperti itu, mengingat kejahatan yang dilakukan oleh Ipul amatlah kontradiktif dengan glorifikasi tadi.

Saipul Jamil diketahui pernah melakukan kejahatan pencabulan terhadap anak di bawah umur pada 2017 lalu. Atas perbuatannya dia dijerat pasal 292 KUHP tentang pencabulan dan divonis tiga tahun penjara.

Vonis itu membuat Saipul Jamil keberatan sehingga dia naik banding ke Pengadilan Tinggi (PT) DKI Jakarta. Namun majelis justru menambah hukumannya menjadi 5 tahun penjara. Itu terjadi lantaran Saipul Jamil diketahui menyuap panitera Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, untuk meringankan hukumannya tersebut.

Melihat latar belakang kasus hukum yang menjerat Saipul Jamil tadi, jelas yang namanya kejahatan tetap kejahatan. Apapun itu jenis kejahatannya, Saipul Jamil harus membayar mahal perbuatannya dengan mendekam cukup lama di hotel prodeo.

Kini setelah melewati masa hukuman dan sudah dapat menghirup udara bebas, publik malah menghukum pria yang biasa disapa Ipul itu.

Hukum publik itu, entah siapa yang memulai, jelas menyasar kepada tindakan perlawanan hukum yang pernah dilakukan Ipul yaitu tadi, perbuatan pencabulan atau ada juga yang menyebut Ipul seorang pedofil.

Karena perbuatan melanggar hukum tadi, maka apa yang sudah terjadi saat pembebasan Ipul beberapa hari lalu kemudian disandingkan dengan narasi kontradiktif. Bahwa seorang fedofil tak pantas mendapatkan perbuatan diluhurkan atau dimuliakan.

Jadi sejatinya siapa sesungguhnya orang yang harus meluhurkan dan memuliakan Ipul? Bukankah kedua tindakan atau cara tersebut akan lebih pantas diberikan kepada para orang-orang yang bersih?

Lantas siapa sesungguhnya yang menarasikan adanya glorifikasi Saipul Jamil itu? Saya rasa orang awam tidak akan sampai sejauh itu memikirkannya. Jadi jelas disini siapa sebenarnya pihak-pihak yang ada di belakang layar "drama" pembebasan Saipul Jamil itu.

Kalau kita mau "fair", sebenarnya persoalan yang sama pernah terjadi ketika seorang penyanyi besar tersandung kasus video porno beberapa tahun silam.

Saat sang penyanyi bebas, euphoria kebebasannya begitu menggema. Namun saat itu, buntutnya tak terlalu panjang. Artinya, sang penyanyi walau disambut gegap gempita oleh fans dan masyarakat, tak ada itu istilah glorifikasi atau polemik berkepanjangan.

Bahkan masih di peristiwa itu, sang penyanyi terkenal tadi sudah langsung berkarya lagi dan disambut hangat masyarakat.

Ini berbeda dengan Saipul Jamil. Penyambutan kebebasannya dipersoalkan, ruang berkaryanya pun disendat oleh sejumlah pihak. Pasalnya pasca dibebaskan, sebuah aksi pemboikotan lewat sebuah petisi bergema meminta pihak stasiun televisi tak menampilkan Ipul berdendang seperti sediakala.

Dari sini sudah dapat ditafsirkan betapa mudahnya orang menilai orang. Padahal jika mau berkaca dari yang sudah-sudah, semestinya  ini tak perlu terjadi.

Saya pribadi melihat, bahwa tata cara penyambutan Saipul Jamil saat bebas dari penjara, tak lebih dari sebuah syukur yang dituangkan ke dalam bentuk entertain semata. Soal kejahatan yang pernah dilakukan Ipul, biarlah Ipul sendiri yang merasakan dampaknya. Toh siapa sih orang yang mau kembali terperosok ke dalam lubang yang sama? (Sang-06092021)

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun