Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud Pilihan

Old Habits Are Hard To Die

1 Agustus 2014   13:46 Diperbarui: 18 Juni 2015   04:42 66 2
Hari Rabu kemarin untuk pertama kalinya saya naik kereta api listrik (krl) dari stasiun Tanah Abang ke Bogor bersama seorang teman. Tujuan saya ke Bogor di hari ketiga libur Lebaran kali ini adalah untuk berburu foto di Kebun Raya Bogor, plus wisata kuliner. Saya sudah mendengar banyak berita tentang commuter line Jabodetabek, terutama sejak sistem tiket elektronik diperkenalkan pertengahan tahun lalu. Berita yang saya dengar cukup berimbang, dari kondisi kereta yang lebih nyaman karena menggunakan AC, sampai kondisi penumpang yang begitu berdesak-desakan seperti ikan sarden di jam-jam sibuk, dan jadwal kereta yang beberapa kali terlambat parah akibat gangguan listrik atau gangguan lain.

Mengapa tidak menggunakan mobil? Alasan pertama adalah alasan ekonomis. Biaya bensin Jakarta Bogor pp versus harga tiket kereta api listrik Jakarta Bogor sebesar Rp.9.500,- benar- benar bagaikan bumi dan langit. Alasan kedua adalah karena saya buta jalan dan alasan terakhir, karena saya ingin mencoba naik krl. Keputusan yang tepat karena saya cukup menikmati perjalanan pertama saya dengan krl.

Commuter line Jabodetabek menggunakan sistem tiket elektronik. Cukup menyebutkan stasiun tujuan terakhir kepada petugas loket, maka ia akan menyebutkan harga tiket yang harus dibayar. Di setiap gateway masuk dan keluar ada petugas jaga yang selalu siap sedia membantu penumpang yang kesulitan untuk tap tiketnya di atas mesin gateway.

Untuk mengetahui kereta mana yang harus kita naiki, kita harus pasang telinga terhadap pengumuman petugas di stasiun, dan bertanya kepada petugas keamanan yang berjaga di pinggir jalur kereta. Kereta tujuan Bogor tiba pukul 08.30, dan kami pun masuk...Perjalanan dimulai...

Semua bangku sudah terisi dan kami harus berdiri. Gerbong cukup penuh, umumnya yang bepergian adalah keluarga dengan membawa beberapa anak kecil. Suasana di dalam gerbong cukup riuh. Setelah beberapa stasiun awal, kami berhasil bergeser dari posisi di depan pintu gerbong ke bagian tengah, dengan harapan bisa mendapat tempat duduk bila penumpang yang duduk di depan kami turun.  Harapan yang akhirnya tidak terwujud karena rombongan penumpang yang duduk di depan kami punya tujuan akhir yang sama..Bogor!

Dalam waktu kurang lebih 3.5 jam perjalanan saya naik kereta bersama masyarakat pengguna krl pulang pergi Jakarta Bogor, ada beberapa fenomena atau kebiasaan yang saya lihat. Beberapa di antaranya adalah :

1. Pergi dalam rombongan besar

Dalam perjalanan menuju Bogor, kami satu gerbong dengan rombongan yang beranggotakan kurang lebih 17 orang, yang separuhnya adalah anak kecil. Karena perjalanan yang cukup jauh, salah satu anak kecil, dalam rombongan mereka menangis kencang, karena tidak tahan ingin keluar. Usianya sekitar 5 tahun, dan hampir di setiap perhentian ia berkata, "Habis!" Sang ayah yang luar biasa sabar, berusaha membujuk putranya," Keretanya sedang isi bensin."

Bujukan yang tidak mempan, dan anggota keluarga yang lain pun turut serta berusaha membujuk sang anak yang semakin tidak sabar. Dari bergantian menggendong, memangku, memberi minum, mainan dan si anak tetap menangis semakin keras. Saat itu saya sempat menyesal mengapa saya tidak mendengarkan musik via earphone dalam perjalanan ini. Sekarang sudah terlambat karena cukup susah mencari handphone beserta earphone di tas saya, dalam posisi bergelantungan.

Salah satu keuntungan pergi dalam rombongan besar adalah susah senang ditanggung bersama. Rombongan ini kedengarannya tidak stress atau memarahi si anak. Mereka tetap bercanda dan berusaha terus membujuk si anak sampai akhirnya tangisnya reda dan ia mulai bisa tertawa di 15 menit terakhir menjelang stasiun tujuan, Bogor. Well, better late than never..

2. Makan minum jalan terus

Walaupun ada tanda dilarang makan minum di dalam gerbong, kebiasaan ini tetap dijalankan. Di perjalanan pagi, saya melihat seorang ibu beserta dua anaknya makan nasi bungkus menggunakan tangan. Di perjalanan pulang Jakarta, beberapa rombongan keluarga bergantian makan camilan dan minum minuman botol, bahkan ada yang meninggalkan sisa botol plastik dan plastik makanan di dalam gerbong.

Mungkin salah satu tujuan dilarang makan minum di dalam gerbong adalah untuk menjaga kebersihan dan aroma di dalam gerbong, karena sekarang semua gerbong menggunakan AC. Tapi dalam kondisi perjalanan yang cukup lama dan demi menenangkan anak kecil yang ikut bepergian, tampaknya akan sulit untuk menghilangkan kebiasaan ini.

3. Lesehan diperbolehkan

Sekali lagi karena jarak perjalanan yang cukup jauh, cukup banyak orang yang duduk lesehan di lantai kereta. Sebenarnya ada pengumuman dilarang duduk yang dipasang di dinding gerbong. Bahkan ada anak kecil yang tidur-tiduran, merangkak dengan gaya berenang di lantai kereta.

4. Naik secepat mungkin untuk mendapat tempat duduk

Tempat duduk sangat berharga. Pengumuman dahulukan yang turun, hanya bertahan sampai dua penumpang pertama turun, dan setelah itu gerombolan orang di belakang kita akan mendorong kita masuk gerbong. Kemudian segeralah pergunakan mata sejeli dan secepat mungkin untuk mencari tempat duduk yang tersedia, dan berlari untuk mendapatkannya!

Mungkin butuh waktu sampai masyarakat kita bisa mematuhi semua peraturan yang digariskan operator kereta api. Tetapi ada satu yang membuat saya bersyukur...tidak ada yang merokok di dalam gerbong!

Perjalanan yang cukup menyenangkan. Ada kebiasaan yang bisa dimaklumi, ada pula yang perlu diingatkan agar dipatuhi. Semoga kita bisa menjadi lebih dewasa agar perjalanan dengan kereta api listrik dengan fasilitas yang nyaman ini dapat semakin kita nikmati.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun