Mohon tunggu...
KOMENTAR
Catatan Artikel Utama

Tidak Semua Tukang Tambal Ban Adalah Penebar Paku di Jalan...

25 November 2011   01:45 Diperbarui: 25 Juni 2015   23:14 1341 3
[caption id="attachment_144363" align="aligncenter" width="614" caption="Pak Sodikin Seorang Tukang tambal ban yang bersahaja"][/caption] Semalam, saat saya hendak menuju ke rumah kawan di daerah Karet Tanah Abang, Jakarta Pusat. Tiba-tiba saja laju motor saya agak berat dan sedikit kurang keseimbangan. Karena penasaran lalu saya turun dari motor dan mengecek roda belakang motor, ternyata ban nya bocor... Waduh, mana sudah malam begini, sekitar jam sembilan begini memang masih ada yang buka tambal ban? Pikir saya sembari mengernyitkan dahi. Sebab kalau tidak sampai ketemu, bisa berabe urusannya. Terpaksa saya menuntun motor kesayangan sejak tahun 2004 lalu untuk mencari tambal ban terdekat. Saat kaki mulai terasa lelah, saya melihat ada lampu berwarna kuning dengan tulisan Tambal Ban, langsung saja saya melonjak kegirangan bak seorang yang mendapat durian runtuh. Setelah sampai, kemudian ban dalam motor saya di periksa oleh Bapak tukang tambal ban tersebut yang bernama Pak Sodikin. Sambil memperhatikan cara beliau mencongkel ban dalam saya agar keluar dari roda, saya iseng-iseng bertanya kepadanya. Sambil tak lupa menawarkan rokok untuk sekadar lebih mengakrabkan diri, saya pun mengajak ngobrol pada beliau. Dengan pakaian yang masih kotor dan penuh oli dan debu, beliau tetap antusias dalam menjawab pertanyaan yang saya tanyakan. Saat saya menyerempet soal seringnya pengendara kendaraan yang bocor ban karena terkena ranjau paku di jalan, beliau langsung bangkit dari tempat duduknya, dan menghisap rokok sedalam-dalamnya. "Bang, ga semuanya kami tukang tambal ban kelakuannya kayak gitu. Biar susah begini, kami masih punya perasaan, ga mungkin di rumah kasih makan anak bini pake duit begituan." Sambil mengangkat menyalakan api untuk menggarang tempelan karet di ban saya yang bocor, kemudian beliau melanjutka. "Emang sih, banyak diberitain kalo yang nyebar ranjau paku itu kebanyakan tukang tambal ban sendiri. Tapi ga juga lah, justru mereka itu orang iseng atawa perampok di jalan. Malah kami yang kena imbasnya..." Saya hanya bisa mendengarkan ceritanya, sembari sesekali melirik raut wajahnya tampak kecapekan karena dari pagi sudah mencari nafkah di teriknya matahari, dan hingga malam pun tetap bergelut untuk membawa pulang uang kepada anak dan istrinya di rumah. Kemudian beliau pun kembali melanjutkan cerita, tentang bagaimana orang yang datang ke tempatnya dengan muka dongkol, sebab kendaraan yang dikendarai bocor ban. Beliau pun hanya bisa mengelus dada, menerima kelakuan para pengendara yang sebenarnya tidak tahu menahu, karena ulah segelintir orang iseng di jalan. Dengan ongkos tambal ban rp 6.000 per lobang, dan pompa angin rp 1.000 per roda, tentunya penghasilan perhari tidak begitu mencukupi. Setelah dipotong makan, kopi, rokok, bayar cicilan tabung, dan juga ongkos pulang-pergi ke rumahnya di daerah Kampung Melayu. Ia berusaha untuk menyisihkannya buat dibawa ke rumah, kalau ada sisa di tabung untuk keperluan rumah tangga serta sekolah empat anaknya yang masih kecil. Menurut beliau, impiannya hanya satu, yaitu melihat keberhasilan anak-anaknya dengan usaha yang sudah digeluti selama belasan tahun ini. Setelah selesai, menambal ban yang bocor. Kemudian saya pamit untuk melanjutkan pergi ke rumah kawan. Tak lupa saya mengucapkan banyak terima kasih kepada beliau, sebab dapat suatu pelajaran berharga. Bahwa hidup itu harus dirasakan dan tidak sekadar mendengar kata orang. Bagi saya pribadi, Pak Sodikin adalah salah satu Pahlawan. Sebab kalau tidak ada beliau, entah bagaimana jadinya saya di jalanan pada malam hari yang daerahnya terkenal rawan.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun