Mohon tunggu...
KOMENTAR
Politik

Tunduk Pada Partai, Jokowi Bukan Pemimpin yang Berani

23 Desember 2013   23:40 Diperbarui: 24 Juni 2015   03:33 189 3
"Karena kan wali kota saja belum selesai, Bapak sudah ke sini, lalu belum apa-apa, Bapak jadi presiden. Saya rasa terlalu maruk kalau Bapak mau semua, tapi tak selesai sebelumnya," ujar salah satu peserta dialog publik bertemakan "Membangun Pelayanan Publik yang Profesional dan Antikorupsi". Kalau Anda ingin melihat beritanya silahkan kunjungi http://megapolitan.kompas.com/read/2013/12/23/1618219/Ketika.Seorang.Ibu.Sebut.Jokowi.Maruk.

Hmmm, saya kurang puas dengan jawaban Jokowi pada berita di atas.... -_-. Pertanyaan pedas yang mungkin ingin saya sampaikan Anda bekerjasama untuk rakyat atau partai?

Saya memang orang yang tidak mengerti masalah politik dan aturan mainnya. Namun melihat seorang pemimpin yang tunduk pada kepentingan golongan tertentu menurut saya bukanlah pemimpin yang tegas dan berani. Makna tegas dan berani harusnya bisa dengan tegas menolak hasyutan golongan tertentu.

Jokowi bukanlah pemimpin yang berani bila selalu tunduk pada kepentingan partainya. Tak ada bedanya kalau begitu dengan politisi lain yang mementingkan golongan partainya. Seorang Jokowi yang notabennya seorang mantan pengusaha harusnya bisa menyelesaikan  permasalahan penting dan genting terlebih dahulu. Dalam hal ini permasalahan jakarta soal kemacetan dan banjir.

Jujur saya merasa tidak respect ketika berbagai media memberitakan wacana beliau menjadi capres pada 2014. Bahkan lebih prihatin lagi dia dijadikan cawapres untuk mendampingi tokoh tertentu, kesannya seperti menjadi boneka untuk kepentingan partai.

Memang di media kalau di tanya pertanyaan apakah ingin menjadi capres? beliau jawab tidak mikir dan masih fokus pada jakarta, kesannya seperti polos dan sederhana saja. Tapi melihat pada masa lalu sewaktu menjadi walikota solo, dia dengan mudahnya tunduk pada keputusan partai untuk menjadikannya sebagai gubernur. Apakah ini akan terulang lagi? Kalau ya, jelas semakin membuktikan kalau beliau penakut dan tidak bisa menjadi pemimpin yang berani.

Entah kenapa saya menjadi yakin kalau sebenarnya pak Jokowi dalam hatinya juga tidak terlalu setuju kalau dirinya maju pada ajang pilpres 2014, mengingat beliau masih mengurusi persoalan jakarta yang belum selesai. Namun sekarang kesannya Pak Jokowi seperti takut mengikuti kata hatinya dan cenderung mengikuti permainan golongan tertentu.

Saya menyayangkan ketika ditanya wartawan soal wacana dirinya maju dalam pilpres, Jokowi kurang tegas ketika menjawab soal itu. Jawabannya pasti selalu dialihkan atau diam sama sekali. Seorang pemimpin yang berani harusnya mengikuti kata hatinya dan  bisa menolak tawaran yang sebenarnya belum saatnya dia terima.

Jadi apa yang membedakan Jokowi dengan pemimpin lain pada umumnya kalau dia tetap nurut pada partainya?  Dalam kasus ini tak ada yang berbeda.

Pembaca sekalian merasa panas kalau tokoh idola Anda saya komentari seperti ini, oke kalau begitu kritikan ini saya lanjutkan kepada masyarakat yang kurang paham dan belum mengerti saja. Untuk masyarakat bayaran yang mendukung jokowi untuk kepentingan tertentu, lain lagi ceritanya.

Masyarakat Indonesia yang mendukung beliau menjadi capres kalau menurut saya kurang tepat jika pada tahun 2014.  Saya sebenarnya tetap mendukung Jokowi menjadi presiden karena kualitasnya yang sudah mendunia. Namun pada tahun 2014 bukanlah saat yang tepat mengingat permasalahan jakarta yang belum selesai.

Rakyat Indonesia kalau tetap memaksa jokowi menjadi presiden di waktu yang cepat, terkesan kalau Bangsa Indonesia hanya mengandalkan satu orang saja. Padahal sebuah negara bisa maju kalau semua komponen bangsanya bersinergi untuk memajukan negaranya sendiri. Jokowi dalam pandangan saya hanya manusia biasa, belum tentu juga beliau bisa memimpin bangsa ini dengan baik kalau komponen bangsanya tidak ikut bersinergi.

Hanya mendukung  Jokowi pada Pilpres namun tidak mendukung kinerjanya saat memerintah sama saja bohong. Apa yang mau diharapkan dari seorang Jokowi yang manusia biasa kalau rakyatnya hanya mau terima beres  tanpa mendukung program-programnya.

Itulah yang terjadi di jakarta sekarang. Rakyat Jakarta kalau menurut saya banyak yang hanya mendukung Jokowi pada Pemilihan gubernur saja, namun kalau disuruh mendukung programnya seperti sterilisasi jalur busway banyak yang melanggar. Jadi buat apa?

Ini juga pertimbangan buat pak Jokowi, boleh jadi semua rakyat Indonesia sekarang berharap bapak menjadi pemimpin bangsa ini. Namun apakah bapak yakin mereka semua bisa mendukung program-program bapak ketika menjadi presiden kelak.

Menurut saya bapak juga harus berani menagih janji kepada rakyat. Selama ini saya melihat banyak rakyat yang hanya mau menagih janji kepada pemimpin. Tapi kalau bapak jokowi berbeda, beranikah bapak menagih janji kepada seluruh rakyat Indonesia untuk mendukung program bapak saat memerintah.

Masuk akal kalau selama ini banyak calon presiden yang menawarkan janji manis kepada rakyat, karena para pemimpin mengharap dukungan suara dari rakyat. Tapi keadaan bapak mungkin berbalik. Kan kalau selama ini rakyat yang mengharapkan bapak maju, boleh dong bapak menagih janji kepada mereka?

Kalau pak Jokowi yang dulunya pengusaha harusnya tahu kondisi win-to-win. Pak Jokowi menjadi capres dalam hal ini kalau tidak mau menagih janji kepada rakyat, berarti posisi bapak yang loser. Dalam transaksi bisnis harusnya kedua belah pihak merasakan manfaat yang sama. Kalau Pak jokowi dalam hal ini hanya berusaha menepati janji saat kampanye namun tanpa jaminan rakyat yang mendukung buat apa jadi pemimpin? Kan hanya membuang energi saja. Ibaratnya mana ada para pengusaha yang mau berurusan bisnis dengan klien yang mau enaknya saja.

Rakyat bukan raja pak Jokowi, mereka itu seperti anggota team dalam perusahaan Anda dulu. Kalau Pak Jokowi punya karyawan, lalu karyawan bapak menyuruh untuk melakukan apa yang sebenarnya merugikan perusahaan, pastilah karyawan itu bapak pecat atau di beri arahan. Begitu pula Indonesia ini, atau saya bilang Jakarta ini yang perlu di prioritaskan dahulu.

Pada paragraf ini, sudah keluar semua uneg-uneg saya. Senangnya tinggal di negara yang memberi kesempatan rakyatnya hak untuk berkespresi  pada berbagai media. Teserah skenario politiknya mau dibuat seperti apa kedepannya. Saya juga gak tahu kedepannya jadi atau gak pak Jokowi nyapres, bisa jadi panggung politik ini seperti drama. Yang diharapkan mendapat ending bahagia, malah di luar dugaan penonton yang mendapat ending sedih. Ini tergantung dari pihak penyelenggara operanya atau dalam hal ini pak Jokowi dan partainya.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun