Mohon tunggu...
KOMENTAR
Humaniora Pilihan

Tren Kecemasan New Parents dan Parents To Be

11 September 2016   21:37 Diperbarui: 11 September 2016   23:55 128 5
Anak adalah amanah dan karunia Allah. Ada landasan tanggung jawab yang mengiringi langkah kita mendidik dan mengasuhnya. Dalam proses itu, semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk sang anak. Semua orang tua pasti mendambakan agar kelak sang anak menjadi orang yang sukses, berdikari, berdaya saing, kreatif, dan berakhlak baik.

Di masa depannya nanti, sukses atau tidaknya sang anak akan dikembalikan kepada orang tuanya. Berhasilkah orang tua mencerahkan masa depan sang anak? Pertanyaan ini yang kemudian menimbulkan rasa cemas di hati orang tua.

Beberapa orang tua mengklaim diri mereka sebagai the best parents karena merasa telah berhasil mengarahkan dan mendidik anaknya dengan cara yang baik dan benar, sehingga anaknya tumbuh menjadi anak yang cerdas, tangkas, pemberani, ceria, dan berprestasi.

Di lain pihak, sebagian orang tua merasa pesimis dan khawatir tak mampu menjadi orang tua yang bisa diandalkan oleh sang anak. Jika saya boleh jujur, sebagai seorang wanita yang baru merasakan tantangan menjadi seorang ibu selama kurang-lebih setahun sejak kelahiran anak pertama, rasa pesimis ini seringkali menghantui pikiran saya, bahkan sejak anak saya masih dalam kandungan. Saya merasa tak pantas menyandang predikat orangtua, dikarenakan minimnya kapabilitas dalam hal pengasuhan anak.

Baby blues (sering juga disebut Postpartum Distress Syndrome adalah perasaan sedih dan gundah yang dialami oleh sekitar 50-80% wanita setelah melahirkan bayinya - dikutip dari doktersehat.com) juga sempat melanda batin saya beberapa saat setelah melahirkan, ketika memandang wajah bayi kesayangan kami terlelap dalam dekapan saya. Segala bentuk kecemasan berkecamuk, diliputi rasa takut jikalau kelak kami tak mampu membahagiakan dan mewujudkan segala cita-citanya.

Sebuah Tanda Tanya Besar Tentang Masa Depan Anak

Fakta berbicara. Rasa cemas ini tak hanya melanda saya sebagai new parents (orang tua baru). Sesekali dalam beberapa obrolan dengan teman-teman sesama new parents dan parents to be (calon orang tua), mereka mencurahkan rasa yang sama: Sebentuk kecemasan berwujud tanda tanya besar akan masa depan sang anak.

Dalam sebuah obrolan via Blackberry Messenger (BBM), seorang teman saya bernama Arina, ibu muda dengan 2 anak menuturkan pengalamannya. "Anak pertama saya lahir saat usia saya boleh dikata masih sangat muda untuk memiliki anak, 20 tahun. Di usia itu, saya khawatir tak mampu meng-handle segala urusan perihal anak kami. Saking takutnya, saya terus saja kepikiran hingga daya tahan tubuh melemah. Saya sempat dirawat di rumah sakit karena ini."

Arina juga menuturkan bahwa saat itu ia sempat merasakan krisis kepercayaan terhadap suaminya sendiri. Ia takut jangan sampai kesibukan suaminya membuatnya lupa akan hak dan kewajibannya sebagai ayah. "Saya pun berinisiatif untuk membuat surat perjanjian di atas materai yang ditandatangai oleh suaminya, yang berisi pernyataan menyangkut kewajiban ayahnya untuk memenuhi hak anaknya sampai ia besar nanti sudah sanggup mencari nafkah sendiri.". Dituturkan lagi oleh Arina bahwa ia pernah berpikir untuk menyekolahkan anaknya di lingkungan pesantren yang bisa menjamin kebaikan akhlaknya, bilamana kelak mereka sebagai orang tua tak cukup mampu melakukan itu ketika saja rasa pesimis itu datang lagi tanpa diminta.

Lain lagi pengalaman teman sebangku saya saat SMA, Ningsih, yang saat ini juga sudah berstatus ibu dengan 2 orang anak, "Masa-masa awal sehabis melahirkan adalah masa terberat dalam hidup saya. Sering sekali saya merasa iba saat menatap wajah lugu anak saya ketika masih bayi, apalagi bila kami hanya berdua di kamar. Bukan hanya mengasihani anak kami, saya juga kasihan pada diri saya saat mengukur kemampuan sendiri dalam hal pengurusan anak. Sedih karena pesimis tak mampu menyokong pertumbuhan dan masa depan anak saya, terutama dari segi materi, saya merasa kekurangan karena saat itu saya belum bekerja. Karena kepikiran ini terus, saya sering menangis. Suami saya sampai berinisiatif mengajak saya ke psikiater untuk konsultasi."

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun