Mohon tunggu...
KOMENTAR
Humaniora

Perang Gallipoli, Happy Anzac Day

25 April 2015   13:25 Diperbarui: 17 Juni 2015   07:41 2534 0
Perang Gallipoli, PD1

Happy Anzac Day

Perang Gallipoli adalah salah satu perang paling berdarah pada PD1, dimana Entente (Britania Raya dan Republik Prancis) melakukan invasi skala besar ke Kesultanan Islam Ottoman. Pendaratan pasukan Entete (Inggris, Prancis, Australia, New Zealand dengan elemen pasukan India) dari Mediterranean Expeditionary Force (MEF) dipimpin oleh Jenderal Hamilton dimulai 25 April 1915 gagal menembus pertahanan Army Kelima Ottoman yang dipimpin oleh Field Marshal Liman von Sanders, selama 8 bulan pertempuran berdarah. Ratusan ribu tentara gugur dari kedua belah pihak.

Pasukan MEF Entente mendarat di tiga lokasi:

- Cape Helles

- Anzac Cove

- Suvla Bay

Ketiganya berada di wilayah pertahanan Korps III Ottoman yang dipimpin oleh Esat Pasha, membawahi Divisi 7, 9, 12, dan 19. Dengan divisi cadangan dari Korps IV.

Sebagai perbandingan, pada perang kemerdekaan, seluruh Indonesia dikuasai Inggris

Pendaratan tanggal 25 April dilakukan di Cape Helas dan Anzac Cove. Pendaratan tidak terjadi mendadak karena sejak Maret niat MEF sudah nyata. Field Marshal Sanders memiliki 4 minggu untuk mempersiapkan pertahanan. Pasukan Ottoman di reformasi selama 12 tahun oleh Jerman, dipimpin Baron von Goltz sebagai penasehat Sultan. Hampir seluruh alutsista Ottoman dibeli dari Jerman, sehingga pasukan Ottoman di Gallipoli cukup moderen.

Sekalipun demikian kali ini Ottoman berhadapan dengan MEF Inggris yang persenjataannya jauh lebih lengkap, serta didukung supremasi laut, dimana naval gun Inggris dan Prancis dapat menjangkau jauh ke daratan. Keunggulan alutsista utama Inggris adalah jumlah artileri dan senjata mesin yang di zaman itu merupakan senjata state-of-the-art.

Di Cape Helas, pasukan MEF Divisi 29 Inggris mendarat di 5 lokasi, berhadapan dengan Divisi 9 yang dipimpin oleh Halil Sami Bey. Halil Sami berhasil menghalangi pasukan MEF merebut dataran tinggi Alticepe yang menjadi target pendaratan.

Di Anzac Cove, pasukan ANZAC dari Australia dan New Zealand berhadapan dengan Resimen Infantri 27 dari Divisi 9 Halil Sami. Pasukan Anzac maju dengan cepat hingga sekitar 8 km dari pantai. Menghadapi resiko besar, Esat Pasha memerintahkan Divisi 19 untuk mengirimkan 1 batalion untuk mendukung Resimen 27. Kemal Pasha komandan Divisi 19 segera berangkat memimpin langsung Resimen 57, dan langsung menyerang ujung tombak Anzac. Esat Pasha kemudian memberikan tambahan 2 Resimen kepada Divisi 19 Kemal Pasha, yang secara efektif menghentikan beachead Entente di Anzac Cove.

Selama 3 bulan pasukan MEF Inggris dan Army Kelima Ottoman bertarung tanpa hasil di 2 pantai. Pada 6 Agustus, Inggris melakukan pendaratan baru di Suvla Bay. Pendaratan ini terkoordinasi dengan gerak maju pasukan di Anzac Cove yang menembus dataran tinggi Sari Bair yang menghubungkan antara Suvla Bay dengan Anzac Cove.

Di Suvla, Korps IX MEF dipimpin Jenderal Stopford melakukan pendaratan 4 Divisi menghadapi batalion pasukan kecil yang dipimpin Mayor Wilhelm Willmer. Kemal Pasha di saat yang sama menghadapi serangan frontal pasukan Anzac di Sari Bair, sempat mengirim 1 batalion untuk menghadang Korps IX di Suvla.

20.000 infantri Entente harus dihambat oleh 1.500 infantri Ottoman selama 2 hari sampai Divisi 7 dari Korps III dan Divisi 12 dari Korps IV dibawah Feizi Bey tiba dari Bulair, sekitar 50 km dari Suvla.

Jenderal Stopford adalah jenderal tua yang lamban, selama pendaratan tanggal 6, si Jenderal tidur di kapal, dan baru mendarat sehari kemudian, tanggal 7. Komandan MEF Jenderal Hamilton terpaksa turun langsung memeriksa lambannya gerakan pasukan.

Di pihak Ottoman Feizi Bey yang baru tiba di Suvla menolak perintah Sanders untuk segera menyerang Korps IX, spearhead MEF di Suvla. Field Marshal Sanders yang marah memecat Feizi Bey dan mengangkat Kemal Pasha untuk menjadi komandan seluruh pasukan Ottoman di sepanjang Anzac Cove sampai Suvla, wilayah pertahanan Anafarta.

Memimpin kekuatan yang sama dengan Entete, Kemal Pasha segera mengorganisasikan pertahanan di Suvla. Jenderal Hamilton mengganti Jenderal Stopford yang lamban dengan Letjen Julian Byng, namun pertahanan Ottoman sudah terbangun dengan baik sehingga berbulan-bulan tidak dapat ditembus oleh pasukan Entente.

Bulgaria memberi izin pasukan Jerman melintas ke Ottoman, sehingga Jerman mulai mengirim sejumlah besar senjata dan artileri, termasuk artileri berat seperti Krupp.

Dengan jumlah pasukan berimbang, Entente selama ini mengandalkan keunggulan alutsista artileri untuk menekan infantri Ottoman yang fanatik, infantri Ottoman didominasi oleh orang Arab di Levant (sekarang Palestina, Irak, Siria, Lebanon). Akses darat dari Jerman akan meningkatkan artileri Ottoman sehingga keunggulan MEF akan hilang dan pasukan ekspedisi terancam.

Kehadiran kasel AL Jerman di perairan Ottoman mulai mengancam kapal-kapal Entente. Hal ini membuka prospek mengerikan dimana MEF tidak dapat di evakuasi dari ketiga pantai Ottoman.

Jenderal Hamilton juga diragukan kemampuannya karena sudah 8 bulan invasi pendaratan tidak menghasilkan kemajuan berarti. Karena itu Entente memutuskan untuk menarik mundur pasukan dari Ottoman. Salah satu kekalahan memalukan Inggris dan Prancis dalam PD1.

Sekalipun kalah di Gallipoli, kekuatan industri Entente (Inggris, Prancis, kemudian bergabung Russia, US, dan negara-negara bekas jajahan Ottoman) berhasil mengungguli negara-negara Central (Jerman, Austria, Ottoman, Bulgaria). Sehingga pada akhir PD1 Ottoman harus menyerah pada Inggris dan Prancis.

Perang Gallipoli memiliki banyak arti penting bagi bangsa-bangsa di dunia:

Bagi Kesultanan Islam Ottoman, Perang Gallipoli adalah salah satu kemenangan terbesar terakhir sebelum akhirnya menyerah pada Entente pada akhir PDI. Perang ini memberikan harapan kebangkitan Kesultanan Islam Ottoman yang sebelumnya mengalami kemunduran dan disintegrasi besar-besaran serta kekalahan perang karena militer lemah yang hanya mengandalkan semangat. Kemunduran militer Ottoman ditandai oleh kekalahan telak dalam perang melawan Kekaisaran Russia.

Bagi Australia dan New Zealand, perang ini menandai awal keterlibatan kedua koloni Inggris tersebut dalam Perang Dunia yang berdarah. Gallipoli merupakan pengalaman pertama perang besar bagi Australia maupun New Zealand. Prestasi pasukan dan keberhasilan evakuasi menandai peningkatan kapabilitas militer Australia dan New Zealand sebagai pasukan moderen kelas dunia, karena itu diperingati sebagai hari militer Australia dan New Zealand: ANZAC DAY.

Lagu mengenang 50.000 tentara Anzac yang gugur di Gallipoli

The Band Played Waltzing Matilda

https://www.youtube.com/watch?v=WG48Ftsr3OI

Bagi Republik Turki, Perang Gallipoli menandai kelahiran pahlawan nasional, bapak bangsa Turki, Kemal Pasha, yang sukses memimpin Divisi 19 mempertahankan Anzac Cove, serta kemudian menjadi panglima Korps pasukan Ottoman yang menghadapi invasi MEF sepanjang pantai Anzac Cove hingga Suvla.

Bagi Jerman, kesuksesan Field Marshal Sanders membuktikan keberhasilan reformasi militer Ottoman yang dilakukan selama 8 tahun, membuat pasukan Ottoman yang sangat lemah pada perang Russia-Ottoman, menjadi sanggup menghadapi kekuatan militer utama dunia: Inggris dan Prancis.

Bagi Inggris dan Prancis, kekalahan di Gallipoli menginspirasi ekspedisi militer yang lebih besar dan lebih kuat ke Timur Tengah, yang akhirnya dapat menundukkan Kesultanan Ottoman yang tidak pernah terjadi selama 800 tahun.

Bagi dunia militer, kegagalan pendaratan Gallipoli menjadi dasar bagi pembentukan doktrin pendaratan amfibi besar selanjutnya. Seluruh operasi militer pendaratan amfibi belajar dari pengalaman kegagalan Gallipoli. Studi perang Gallipoli merupakan bahan wajib bagi perwira marinir, maupun infantri di negara kepulauan seperti Indonesia.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun