Mohon tunggu...
KOMENTAR
Cerpen

Gonjang-ganjing Kahyangan Suralaya

28 Februari 2013   22:00 Diperbarui: 24 Juni 2015   17:31 1532 9

Gonjang-ganjing Kahyangan Suralaya

Oleh :

Pak De Sakimun

Di pasewakan agung Kahyangan Jonggring Salaka atau Suralaya. Sang Hyang Jagat Girinata, yang akrab disebut Batara Guru atau Batara Manikmaya mengundang Batara Brahma dan sebagianpetinggi dewa, minus Batara Narada. Sedang mengadakan musyawarah tentangpesta perkawinan Dewasrani dengan Dewi Dresanala.

Tak selang beberapa lama tiba-tiba ..wuzzzzzzzz..rrrrrr.....gdubraaakkkkk, beberapa dewa tersungkur di hadapan Batara Guru menyusul jatuhnya sebuah benda yang menimpa diri mereka. Benda itu tak lain adalah seorang dewa bernama Batara Tamboro dengan wajah lebam dan babak belurserta berdarah-darah, kulit dibagian wajah melepuh seperti tersiram air mendidih, tersungkur di bawah kaki Batara Guru.

“Heee apa yang terjadi, Tamboro kau tiba-tiba jatuh tersungkur dihadapanku seperti dihempas puting belung, Tamboro cepat bilang, kejadian apa yang telah menimpa dirimu?” tanya Batara Guru kepada dewa yang terjatuh dan menimpa beberapa dewa yang lain itu.

“Duh, pukulun, mohon ampun, saya dilemparkan oleh seorang pemuda yang entah darimana datangnya, yang menanyakan ke dua orang tuanya. Bukan hanya saya, tapi banyak dewa-dewa yang lain menjadi korban anak dhemit karena tak bisa menunjukkan siapa orang tuanya.” Jawab Batara Tamboro sambil merintih kesakitan.

“He...Brahma, Surya, Yamadipati cepat atasi segera, siapapun yang ingin membuat kegaduhan di Kahyangan Suralaya ini segera musnahkan”, perintah tegas Batara Guru kepada dewa-dewa andalannya.

“Baik pukulun, kami laksanakan” jawab dewa-dewa dan bergegas meninggalkan pasewakan.

Di Repat Kepanasan (alun-alunnya para jawata) diantara reruntuhan berbagai macam bangunan dan hangusnya tenda-tenda serta diantara dewa-dewa yang bergelimpangan, Wisanggeni sedang dikeroyok oleh beberapa orang dewa, namun tak satu dewapun yang bisa menyentuh tubuhnya. Siapapun yang menyentuh Wisanggeni pasti tangannya melepuh, bahkan dalam jarak satu depa saja dewa-dewa sudah merasa kepanasan. Ada yang terbakar jubah kadewatannya ada yang gundul hangus seluruh rambutnya tak tersisa sehelaipun rambutnya. Batara Panyarikan (sekretarisnya dewa, atau BPS kahyangan) mendekati Raden Wisanggeni dan mengivestigasi dengan detail.

“Hei anak muda, siapakah namamu” Batara Panyarikan mengawali investigasinya.

“Namaku Wisanggeni!, napa!?”, jawab Wisanggeni singkat.

“Darimana asalmu?” sambung Batara Panyarikan sambil membuka tabletnya dan mencari di database, untuk menemukan nama Wisanggeni, tapi nihil, tidak ditemukan nama Wisanggeni dalam database titah marcapada.

Aku bocah kleyang kabur kanginan, ora dhangka ora kayang, ora sanak ora kadang (tidak jelas asal-usulnya dan tidak punya sanak keluarga)” timpal Wisanggeni dengan nada menantang.

“Orang tuamu siapa, ayah dan ibumu berada dimana?” sambung Batara Panyarikan.

“Aku tidak tahu anak siapa, berarti aku tidak tahu siapa ayah dan siapa ibuku, makanya aku pergi ke kahyangan ini untuk menanyakan hal itu!” timpal Wisanggeni tegas.

“Hahahaha...kamu ini lucu, kamu sendiri tidak tahu siapa orang tuamu, apalagi orang lain” ejek Batara Panyarikan.

“Lho katanya dewa itu tahu segalanya, ngerti sakdurunge winarah (tahu sebelum terjadi), kok nggak tahu saya anak siapa. Percuma kamu jadi dewa, kalau begitu turun saja kamu ke marcapada menjadi pedagang apa petani, lucuti semua atribut kadewatanmu!” tantang Wisanggeni.

“Lancang pangucapmu anak muda, nih rasakan tamparanku.......ampuuunnn” teriakan Batara Panyarikan sebelum tamparannya hinggap ke wajah Wisanggeni, langsung lari terbirit-birit karena tangannya terasa terbakar bara tempurung kelapa.

Batara Brahma yang dikenal sebagai dewa api, melihat kejadian itu segera bersedekap mengeluarkan ajiannya Sasra Dahana (sasra=seribu, dahana=api) dengan memusatkan pikiran, seluruh tenaga dalamnya dikerahkan untuk menyemburkan seribu api diarahkan ke tubuh Bambang Wisanggeni....grubug..grubug...bwuuurrrr.....rrrggghhhh. Diluar dugaan, ternyata api itu tidak sanggup menyentuh tubuh Wisanggeni, justru kembali ke arah Batara Brahma dan membakar apa saja yang dilaluinya.

“Toloooong.....aduuuhhh...puanaassss” teriak Batara Brahma lari tunggang langgang menghadap Batara Guru.

“ Jadi kamu juga tidak sanggup membunuh anak muda itu Brahma” tanya Batara Guru kepada Batara brahma.

“Betul pukulun, terserah sanksi apa yang akan dijatuhkan kepada saya, pokoknya saya tidak sanggup melawan anak setan itu pukulun jawab Batara Brahma pasrah pada Batara guru.

Jalan terakhir, sebagai jurus pamungkas,kamu Yamadipati (dewa pencabut nyawa) tiada jalan lain kecuali mencabut nyawa pemuda yang sudah bosan hidup itu, sekarang juga!” perintah Batara Guru kepada Batara Yamadipati (“malaikatpencabutnyawa”nya dewa).

Ngestokaken dhawuh pukulun (siap melaksanakn perintah)” jawab Batara Yamadipati sambil bergegas menuju tempat Wisanggeni yang sedang menghajar dewa-dewa.

Setelah Wisanggeni diperkirakan sudah lengah, Yamadipati segeramenghambur menginjak bahu Wisanggeni dan menjambak rambutnya dan menghentaknya keras-keras (apa begitu ya caranya mencabut nyawa) untuk mencabut nyawa Wisanggeni. Namun......”Huaduuuhhh....tuoloong, tanganku hanguuuussss”, Batara Yamadipati gagal mencabut nyawa wisanggeni lantaran tangannya melepuh bersama melelehnya cincin yang dikenakan di jari tangan Yamadipati.

Batara Guru kebingungan dan pusing melihat semua para dewa tidak ada yang bisa mengalahkan pemuda itu. Bahkan lebih kalut lagi manakala melihat Batara Brahma dan Batara Yamadipati juga tidak sanggup mencabut nyawa perusuh Kahyangan Suralaya itu.

Batara Guru menyesal, kenapa dalam keadaan genting seperti ini Kakanda Batara Kaneka Putra atau Batara Narada tidak kelihatan sama sekali. Padahal biasanya setiap ada masalah di Kahyangan Suralaya Batara Narada lah yang mencarikan solusinya. Maka sebagian para dewa diutus mencari Batara Narada dan sebagian lagi menghalang-halangi Wisanggeni agar tidak terlalu jauh masuk ke dalam ruang yang sangat sakral bagi dewa-dewa.

Setelah Batara Narada ditemukan, Batara Guru meminta kepada Batara Narada untuk ikut membantu menyelesaikan masalah atau mencarikan jalan keluarnya gonjang-ganjing yang sedang terjadi di Kahyangan Suralaya.

“Saya mau membantu Adi Guru, tapi ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh Adi Guru” ujar Batara Narada diplomatis.

“Baiklah Kakang Kanekaputra, apapun syaratnya akan saya penuhi” Batara Guru mengiba kepada batara Narada.

“Hanyaaaa, sebelum saya mengajukan syarat yang harus Adi Guru penuhi, apakah Adi Guru masihmempercayai saya, atau mau mengindahkan nasihat saya?”

“Tiada orang lain yang layak saya percayai kecuali Kakang Kanekaputra” Batara Guru meyakinkan Batara narada.

“Baik, kalau begitu untuk meredakan gonjang-ganjing Kahyangan Jonggring Salaka, ada beberapa syarat yang wajib, sekali lagi wajib dilaksanakan oleh Adi Guru”

“Baik Kakang Narada”

“Pertama, Adi Guru harus minta maaf pada saya secara tulus. Ke dua, Adi Guru harus turun ke marcapada untuk menemui Raden Harjuna. Ke tiga, Adi Guru juga harus minta maaf kepada Raden Harjuna. Setelah Harjuna bersedia memaafkan Adi Guru, mohonlah kepada Harjuna untuk kembali membantu para dewa yang sedang dilanda prahara. Ke empat, setelah kahyangan kembali normal situasinya seperti sediakala, kembalikanlah Dewi Dresanala kepada Raden Harjuna. Itulah solusinya jika ingin kahyangan kembali kondusif.” Ultimatum Batara Narada kepada Batara Guru.

“Baiklah Kakang Batara Narada, apapun perintah dan permintaan Kakang Kanekaputra akan saya laksanakan” jawab Batara guru.

“Tunggu dulu, sebagai tambahan, semua itu harus ditulis di atas segel atau kertas bermeterai, untuk pertanggung jawabannya kelak jika Yayi Manikmaya cidra ing janji (tidak menepati janji)”

“Baiklah Kakang, akan saya laksanakan. Dan marilah kita segera turun ke marcapada menemui raden harjuna, Kakang” ajak Batara Guru.

“Yayi Manikmaya pergi sendiri diiringi beberapa dewa, saya tidak ikut ke marcapada, siapa nanti yang mengendalikan keamanan di kahyangan jika saya pun ikut ke marcapada”

“Benar Kakang, Kakang Narada memantau situasi di kayangan saya mohon diri sekarang juga akan turun ke marcapada bersama beberapa dewa untuk segera menemui Raden Harjuna”

“Cepatlah Adi Guru, jangan menunggu kayangan musnah, Adi Guru duga-duga digawa, ngati-ati aja keri (tetap waspada dan berhati-hati)”

Drodhog..drodhog..drodhog kepergian Batara Guru diiringi gending srepeg manyura.

Daaannn..maaf......wonten candhakipun (to be continued).

*****

Sebelumnya:

Bayi Yang Lahir Tidak Diharapkan

Bangkitnya Sang Bayi Dari Kawah Candradimuka

*****

Solsel, 01-03-2013

Pak De Sakimun

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun