Mohon tunggu...
KOMENTAR
Pendidikan Artikel Utama

Respon Terhadap Diskusi Teknologi untuk Pemerataan Pendidikan

4 April 2015   22:58 Diperbarui: 17 Juni 2015   08:32 53 2
Tulisan ini adalah respon terhadap diskusi Teknologi untuk Pemerataan Pendidikan yang video-nya bisa dilihat disini

Proyek Hole in The Wall adalah bukti bahwa anak bisa belajar sendiri. Ada pencapaian belajar yang berhasil diraih oleh anak-anak yang menggunakan komputer yang disediakan oleh Prof Sugata Mitra.

Hole in The Wall, One Laptop per Child, dan kemudian e-Sabak di Indonesia hanyalah alat. Sistem-lah yang harus kita bangun, untuk pastikan bahwa seluruh siklus belajar bisa dinikmati anak-anak.

Siklus belajar yang diawali oleh keterlibatan (engagement) dimana ketertarikan anak berhasil dibangun dan ditangkap untuk disambungkan ke sebuah topik bahasan. Dalam proyek Hole in The Wall, anak-anak dibuat tertarik melalui game dan aplikasi menggambar. Amat alamiah, sesuai dengan tahapan perkembangan mereka.

e-Sabak yang dirancang oleh Kementerian Pendidikan Republik Indonesia, baiknya memikirkan gamification.

Setelah anak-anak terlibat dalam sebuah topik pembahasan, kita ajak mereka untuk mengeksplorasi seluruh variabel yang menyangkut topik bahasan, melalui kegiatan bertanya, riset, pengamatan, dll. Peranan e-Sabak akan menjadi sangat berharga disini, jika e-Sabak dilengkapi oleh sejenis RPUL yang dulu amat terkenal di jaman saya sekolah (ensiklopedia), dan segala macam buku elektronik, video, animasi, dan bahkan aplikasi simulasi.

Itu kalau e-Sabak tidak terhubung ke jaringan. Jika terhubung ke jaringan, akan ada ledakan belajar yang dahsyat di Indonesia.

Guru yang kuantitas dan kualitasnya amat terbatas di pelosok Indonesia, akan amat terbantu jika e-Sabak terhubung dalam jaringan. Guru di pelosok bisa mengambil peran sebagai fasilitator dan administrator, yang menghubungkan anak-anak Indonesia ke “Pusat Belajar” di Kementerian Pendidikan (virtual, tentunya). Pusat Belajar ini akan jadi tempat bertanya dan tempat berbagi. Anak-anak bisa berbagi (misalnya) video percobaan menggunakan kertas lakmus (setelah menonton video di e-Sabaknya) dan mengunggahnya ke Pusat Belajar. Para tenaga ahli pendidikan yang tergabung dalam tim yang direkrut oleh Kementerian Pendidikan, lalu merespon video yang diunggah, dengan memberikan respon yang tepat dan sesuai. Disinilah fase menjelaskan dan fase penerapan terjadi.

Bahkan tidak hanya tim yang direkrut oleh Kementerian Pendidikan yang bisa merespon di Pusat Belajar ini, tapi anak-anak Fakultas Ilmu Keguruan yang hendak menerapkan ilmunya, bisa ikut nimbrung. Para relawan yang bekerja di laboratorium perusahaan-perusahaan ternama pun bisa ikut terlibat. Bahkan siswa dari sekolah lain pun bisa ikut berinteraksi di Pusat Belajar ini.

Ledakan!

Oleh karena itu, tidak bisa tidak, Kementerian Pendidikan Republik Indonesia, harus bekerjasama dengan Kemenkominfo supaya backbone internet Indonesia diperbesar dan jangkauan jaringan dibuat semakin meluas.

Kalau tidak bisa, ya e-Sabak ini dahulu, yang sementara kita gunakan. Bisa juga sih seminggu sekali, guru di pelosok, pergi ke Dinas Pendidikan Kota atau Propinsi, untuk upload atau sinkronisasi e-Sabak dengan Pusat Belajar. Sehingga anak-anak tetap bisa mengirim video dan menerima respon, meski tidak real-time.

Pada saatnya nanti, seluruh hasil kerja siswa yang mereka lakukan di e-Sabak, akan menjadi portofolio mereka. Bahkan pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan, bisa tercatat dengan baik dan jadi bahan portofolio yang baik. Nantinya, kita akan bisa melihat gradasi pertanyaan seorang anak, dari waktu ke waktu. Ini amat menarik, bagi para pendidik.

Saya selalu pendidik, merasa amat senang melihat Kementerian Pendidikan RI yang berada pada jalur yang benar, dalam pemertintahan kali ini. Semoga tetap pada jalurnya dan bahkan bisa menerapkan berbagai percepatan-percepatan yang diperlukan. Amin.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun