Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud Pilihan

Tradisi Lebaran "Wah" Orang Betawi Pinggiran yang Mulai Punah

9 Juni 2019   12:30 Diperbarui: 9 Juni 2019   13:11 201 2
Umat islam baru saja merayakan hari Raya Idul Fitri. Perayaan atas kemenangan setelah berpuasa selama tiga puluh hari di bulan Ramadhan. Dari waktu ke waktu,  perayaan Hari Raya Idul Fitri atau yang biasa disebut lebaran tersebut nyatanya menjadi hal yang biasa saja. Tidak ada yang istimewa dan terlalu singkat.

Kalau menengok dua puluh lima tahun kebelakang,  tradisi lebaran pada saat itu sangat jauh berbeda dengan sekarang. Khususnya perayaan di tempat saya tinggal,  warga betawi yang berada dipinggiran kota Jakarta. Dulu,  hari lebaran merupakan sesuatu yang 'Wah' dan bisa dikatakan sangat terasa ajang silahturahminya jauh hari sebelum hari tersebut tiba.

Apa saja kah tradisi yang mulai menghilang dari kebiasaan berlebaran warga betawi?

1. Dodol

Dodol,  wajik,  uli,  tape dan geplak merupakan makanan mewah yang menjadi makanan wajib pada saat lebaran bagi warga betawi tempo dulu.  Setiap rumah pasti akan menyediakan makanan tersebut sebagai suguhan bagi para tamu dan juga hantaran kepada sanak saudara.

Bukan tentang rasa makanan tersebut,  tetapi makna cara pembuatannya yang membuat penulis teringat hingga saat ini.  Dodol merupakan kue yang di buat secara bergotong royong. Warga biasanya mulai mempersiapkan jauh hari sebelum lebaran tiba.

Ketika puasa menginjak hari ke lima belas, para warga akan berkumpul untuk menentukan hari  pembuatan Dodol dimulai.  Biasanya,  dilakukan secara bergantian dari rumah ke rumah mengingat proses pembuatannya yang terbilang lama dan membutuh banyak tenaga manusia.

Para wanita dewasa dan ibu-ibu berbagi tugas di pagi hari. Ada yang mempersiapkan adonan, menyalakan api pada tungku dan ada pula yang menyiapkan makan untuk di santap bersama orang-orang yang terlibat dalam pembuatan kue tersebut.

Sedangkan para lelaki baru akan menjalankan tugasnya setelah  kue sudah mulai mengental. Proses yang cukup lama,  menghabiskan kurang lebih dua belas jam. Biasanya, setiap rumah akan menghabiskan sekitar berpuluh-puluh liter beras untuk pembuatan dodol tersebut.

Setelah matang,  dodol biasanya akan di simpan pada wadah dari anyaman bambu yang di sebut tenong dan ada juga yang di bungkus dengan daun pisang atau yang biasa di sebut pulungan.

Pulungan-pulungan tersebut biasanya akan diberikan pada warga yang ikut membantu pembuatan kue tersebut dan juga akan di berikan sebagai Berkat ( bingkisan untuk di bawa pulang oleh orang yang datang berkunjung pada saat lebaran nanti). Sedangkan tenongan akan diberikan sebagai hantaran pada sanak family yang lebih tua dalam silsilah keluarga,  dipasangkan dengan uli.

2. Semur Daging Kerbau

Kerbau merupakan hewan yang dipilih untuk di sembelih sebelum lebaran tiba. Menurut para orangtua,  dipilihnya hewan tersebut karena tekstur daging dan potongannya tidak mengempis pada saat di masak.

Biasanya, para warga membentuk kelompok-kelompok jauh-jauh bulan sebelum lebaran untuk membuat arisan. Warga biasa menyebutnya 'Andil',  arisan warga untuk membeli daging kerbau. Setiap bulannya,  anggota yang tergabung dalam Andil tersebut akan menyetor uang kepada para ketua kelompok. Besar kecilnya setoran tergantung dari berapa banyak daging yang di pesan.

Mereka tidak menggunakan cara kilo,  tetapi 'tandingan'.  Satu tanding berisi kurang lebih sepuluh kilo daging kerbau. Setiap rumah biasanya memesan paling sedikit satu tanding. Daging kerbau tersebut akan di bagikan dua hari atau sehari menjelang lebaran. Daging tesebut diolah menjadi semur dan akan diberikan sebagai hantaran kepada para saudara yang lebih tua dalam silsilah keluarga pada hari terakhir di bulan puasa.

Lauk yang juga di jadikan hantaran bersama daging kerbau adalah oseng lengkiyo,  toge dan kacang panjang, ikan gabus kering , ikan tembang dan ikan perek goreng dan sayur kentang.  Para anak biasanya di tugaskan mengantarkan rantang-rantang tersebut ke rumah-rumah yang dituju. Dan biasanya akan diberi uang dari orang yang dihantarkan rantang berisi nasi dan lauk pauk tersebut.  Sedangkan bingkisan dodol dan uli akan dijadikan bingkisan tepat pada hari lebaran sambil bersalam-salaman.

3. Petasan

Kemeriahan lebaran akan makin terasa semarak dengan adanya petasan yang dipasang oleh warga yang secara sukarela melakukan hal tersebut. Tidak tanggung-tanggung,  bermeter-meter petasan yang sudah di persiapkan jauh hari sebelum lebaran tiba dan akan di bakar di hari pertama idul fitri.

Biasanya, petasan tersebut dinyalahkan setelah semua keluarga berkumpul di rumah. Rangkaian petasan yang telah di rajut sedemikian rupa tersebut akan digantungkan di atas pohon hingga menjuntai ke bawah.

Suara petasan tersebut di jadikan penanda bahwa lebaran dan bersilahturahmi sudah bisa dimulai. Suara sahut-sahutan petasan menggema dan membuat lebaran jadi lebih semarak.

4. Arak-arakan ondel-ondel

Ondel-ondel biasanya akan di arak keliling kampung pada hari ketiga lebaran.  Dulu, di kampung ini ada ondel-ondel yang sangat terkenal dan dinantikan kedatangannya oleh para warga.  Minah namanya,  ondel-ondel cantik milik sesepuh bernama Wak Irih. Banyak warga yang percaya bahwa ondel-ondel bernama Minah tersebut mempunyai kekuatan magis. Itu sebabnya, dia akan di keluarkan dari rumah oleh si empunya hanya pada saat hari raya idul fitri.

Menurut cerita para orangtua, arak-arakan tersebut dilakukan untuk menghindari malapetaka yang akan terjadi di kampung ini. Ada mitos yang mengatakan bahwa pada zaman dahulu,  kampung dimana saya tinggal sekarang ini pernah terserang penyakit cacar. Kemudian,  setelah Minah di arak keliling kampung maka penyakit tersebut hilang dengan sendirinya. Dan konon katanya,  Minah akan menangis jika tidak di arak keliling kampung pada saat lebaran tiba.

Ketika rombongan ondel-ondel itu datang,  para warga akan rela memberi sejumlah uang pada rombongan arak-arakan tersebut. Mereka juga akan mengambil hiasan daun beringin yang ada di kepala ondel-ondel Minah. Hiasan tersebut ditaruh di atas pintu rumah dan di percaya akan mengusir segala malapetaka yang akan datang.

Saat ini arak-arakan ondel-ondel memang masih dilakukan. Tetapi tidak di sambut antusias para warga.  Mereka menganggap arak-arakan tersebut sama saja seperti ondel-ondel yang  mengamen di hari-hari biasa. Ondel-ondel Minah itu sendiri,  entah berada dimana saat ini. Hilang bersamaan dengan meninggalnya si empu pemilik ondel-ondel tersebut.

Tradisi unik tersebut memang masih ada yang melakukannya hingga saat ini, tetapi hanya beberapa saja dan bahkan ada yang hilang sama sekali. Kue-kue asli betawi sudah mulai berganti dengan makanan modern seperti biskuit dan sebagainya. Semur daging kerbau berganti dengan olahan lain, tidak terdengar lagi suara petasan di hari lebaran serta arak-arakan ondel-ondel Minah yang  di sambut antusias para warga.

Kemeriahan lebaran saat ini pun tidak terasa seperti dua puluh limaan tahun lalu. Tidak terlalu terlihat gotong royong antar sesama warga seperti dulu. Jumlah warga asli Jakarta atau biasa di sebut suku Betawi yang sudah tidak banyak ditemukan lagi adalah salah satu pemicu hilangnya tradisi tersebut.

Pola dan gaya hidup praktis juga menjadi salah satu alasan tradisi tersebut mulai ditinggalkan. Masyarakat cenderung memilih hal-hal praktis ketimbang menyibukan diri dengan urusan olahan makanan yang membutuhkan proses panjang dalam pengerjaannya.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun