Mohon tunggu...
KOMENTAR
Cerpen

Bad Boy is Ulung Dwiputra Wijaya

6 Juni 2012   15:45 Diperbarui: 25 Juni 2015   04:19 263 0

Nama pria ini adalah Ulung Dwiputra Wijaya, anak kedua dari Alm Bapak Sutardi Singawijaya. Teman-teman memanggilnya dengan Ulung. Sebuah nama yang cukup unik menurutku. Ulung itu berarti ulet, handal, ahli, piawai, dan segala macam yang berarti hebat. Mungkin Ayahnya menginginkan putra keduanya menjadi manusia yang handal, hebat dan piawai. Itu kesimpulan pribadiku yang aku ambil setelah mendengar nama lengkapnya.

Saat aku menulis artikel ini, usianya 21 tahun 6 bulan 6 hari. Zodiacnya adalah scorpio. Dia ini tipikal pria yang aku bilang cukup macho, manis, dan memiliki ciri khas laki-laki. Tubuhnya yang tangguh dan dadanya yang cukup bidang cukup membuat gadis sepertiku bernafsu untuk memeluknya dan didekapnya. Aku bilang dia bernafas seperti lelaki karena dia memang lelaki tulen. Meski sekarang perutnya yang mulai tambun, membuatku rindu jika sehari saja tidak mencubitnya.

Dia sekarang sedang disibukkan dengan urusan pendidikannya yakni sedang menempuh Tugas akhir sebagai syarat kelulusan Diploma. Ya, dia adalah mahasiswa jurusan teknik mesin konsentrasi perawatan mesin di sebuah Politeknik di Kota semarang. Selain kesibukan kuliah, dia juga adalah anak yang cukup rajin membantu ibunya. Dan salah satu kesibukannya yang bisa dibilang cukup menyita waktu dan tidak lazim adalah melayani semua tingkah aneh gadis sepertiku. Yup, dengan sangat bangga dan percaya diri kubilang “Aku Jeanny Ivones adalah kekasih dari Ulung Dwiputra Wijaya, cowok terkeren, pria termacho, dan lelaki tangguh yang sudah memiliki hatiku.”

Ulung ini adalah tipikal lelaki Bad Boy menurutku, dia itu sedikit “nakal”. Dan baru aku tau setelah menjalin hubungan dengannya selama lebih satu tahun tepatnya saat ini satu tahun 17 hari, hemm sungguh bukan tipikal lelaki yang membosankan. He has a taste. Dia punya “hal” yang akan selalu dirindukan wanita. Aku juga heran kenapa aku selalu merindukannya, hampir setiap hari kita bertemu, tapi rasanya setiap hari aku juga rindu. Begitulah yang kurasakan jika bersamanya, senang, sebel, jengkel, rindu, gemas, dan segala macam rasa.

Awalnya aku sungguh tidak tertarik dengan dia. Bagiku dulu dia itu hanya cowok dekil, kumal, gak rapi, tiak doyan belajar, suka kelayapan, dan jenis lelaki tidak jelas. Aku langsung memberikan stereotype demikian saat pertama kali melihatnya. Waktu itu, dia memakai celana pendek, rambutnya yang panjang dikuncir kuda, bajunya yang selalu berwarna gelap (hei hei, kebanyakan baju lelaki memang begitu aness), dia yang hitam (tapi manis sih kalo dilihat-lihat, hahaha), dan terlihat tidak pernah mandi (itu karena dia belum mandi). Aku sungguh sangat anti dengan pria macam demikian. Bayanganku saat itu, amit-amit aku punya pacar kayak dia.

Aku mengenalnya dari teman satu kamarku Nurul Fikriyah yang satu kampus tapi beda jurusan. Dulu mereka sering bermain atau jalan bersama dengan teman yang lain ada Fadha, adhy, Zek, Hemas, Nyit-nyit, dan siapa lagi ya aku lupa. Hehehe. Awal aku mulai dekat dengannya adalah saat temenku ini sering keluar malam, dan aku lah yang selalu jadi satpam untuk membukakan pintu kos. Waktu itu kalau tidak salah nurul menghubungi hapeku menggunakan nomornya.

Singkat cerita, semua berawal dari keberangkatanku ke Jakarta untuk hospital tour. Aku meminjam camera digital milik Ulung ini. Saat itu posisi statusku masih tidak jelas aku berhubungan dengan siapa. Aku meminjam cameranya. Dia datang malam-malam dnegan adhy, dan aku sedang dikunjungi oleh lelaki yang saat ini entah kemana rimbanya. Aku melihatnya hanya kupandang sebelah mata, karena bagiku dan buatku dia itu lelaki yang telah kuberi stereotype seperti diatas kusebutkan. Sama sekali tidak menarik dan tidak membuatku tertarik. Cukup hanya sebagai kenalan saja.

Sesungguhnya kawan, aku sudah termakan dengan omonganku sendiri. Ya, buktinya lama-kelamaan stereotype yang sudah kubangun runtuh seketika saat aku melihatnya berbeda bentuk ehmmm maksudku penampilan dan ketika aku sudah mengenalnya lebih jauh dan dalam.

Niatku mengembalikan kamera dan sebagai tanda ucapan terimakasihku adalah dengan alibi mengajaknya makan malam. Saat itu aku ingat betul aku memakai kerudung merah, rok merah, baju putih dan cardigan abu-abu. Sedangkan ulung memakai celana pendek dengan jaket hitamnya. Aku mengiriminya pesan untuk berjanji bertemu dan makan bersama, jam 08.00 malam sepulangnya dari kuliah. Dan aku juga heran denganku kawan, kenapa aku merasa ulahku ini sembunyi-sembunyi seperti aku tidak ingin orang lain terutama teman sekamarku tau akan hal ini, bisa berakibat jadi polemic dan gossip.

Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 malam, padahal aku sudah bersiap dari 15 menit yang lalu. Huffttt belum datang juga. Ini orang gak bisa ontime pikirku. Kukirim pesan padanya menanyakan dimana dan jadi atau tidak. Dia bilang baru pulang kuliah. Aku sudah mengecapnya sebagai lelaki yang tidak ontime saat janjian, ahh bukan tipeku. Waktu berlalu dan akhirnya suara motor vega mulai terdengar. Ulala, dia seperti pangeran masa kini yang menunggangi kuda vega biru. Upppsss, aku tidak akan tertarik aku tidak akan tertarik, begitu kataku dalam hati. Setelah semua semakin jelas dan dia ada dihadapanku. Oh My God, he was different than I expected. Dia berubah, lebih rapi, lebih segar, lebih terlihat manis, lebih lebih dan lebih..sepertinya aku tertarik. Hmmmmmm….thats really really a man.

Makan malam pun sudah seperti konferensi pers untukku. Bagaimana tidak sepanjang acara makan malam ini aku banyak sekali bercerita. Baru kutau dia ini adalah lelaki yang mau mendengarkan, dan dia adalah pendengar yang baik (point yang kusuka). Juga aku suka pada saat dia mendengarkan aku bercerita. Aku sepertinya benar-benar mulai tertarik padanya. Acara makan malam selesai dan dia mengantarkanku pulang, aku merasa malam itu tak ingin berakhir sampai disitu saja, tapi aku segera tersadar bahwa dia itu bukan siapa-siapaku dan hanya sebatas teman, aku yakinkan lagi bahwa dia itu bukan tipeku. Aku mengucapkan terimakasih atas acara makan malam yang sangat menyenangkan.

Oh Tuhan, dari hari ke hari aku mulai merindukannya, mungkinkah aku jatuh cinta padanya. He isn’t my type but I really miss him, I wanna meet him soon.

Saat ini dia adalah kekasihku, sahabatku, dan segalanya bagiku setelah orang tua dan keluargaku. Di kota semarang ini, dialah satu-satunya yang bisa kuandalkan dan dialah satu-satunya yang dapat mengertiku. Aku selalu merindukannya, merindukan kekonyolan yang dia buat, aku rindu digoda olehnya meskipun kadang aku jaim tapi aku jujur sangat suka. Aku rindu saat aku memegang lengannya yang kuat, mencium tangannya yang kasar dan besar. Aku rindu saat dia memelukku. Perutnya yang tambun itu aku rindu untuk mencubitnya. Rindu pada kumis dan janggutnya yang kasar meski kadang aku mengeluh jika dia mendekatiku menggunakan itu. Aku juga rindu dia yang selalu menuruti keanehan dan kegilaanku. Aku rindu padanya, setiap hari dan aku selalu mengharapkan kedatangannya. Jujur saja sampai saat ini pun jika aku hendak bertemu dengannya aku masih merasa berdebar-debar seperti kencan pertamaku dengannya. Dan aku masih harap-harap ceams seperti aku baru jadian dengannya.

Doaku untuk kekasihku Ulung Dwiputra Wijaya, semoga engkau sehat selalu. Semoga Allah melindungimu dimanapun kau berada. Jadilah kamu Hamba yang taat pada Allah, anak yang berbakti da orang tua, saudara yang pengasih, Imam yang baik, lelaki yang kuat, teman yang penyayang, dan pribadi yang tegar , tangguh, dan sabar. Semoga kelak aku bisa menjadi istrimu :D, saat kau jadi suamiku nanti, InsyaAllah aku akan senantiasa berbakti padamu karena kau adalah imam untuk keluarga kita nanti.

I love you, aku sayang kamu, dan aku selalu merindukanmu..

:D

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun