Mohon tunggu...
KOMENTAR
Nature Pilihan

Makin Sulit Bedakan Bank Sampah dengan Perosok dan Pengepul Sampah

5 Desember 2021   11:30 Diperbarui: 5 Desember 2021   11:50 733 1
"Kami memang masih konvensional dalam pengelolaan sampah. Memang masih sedikit sampah yang kami kelola tapi yang penting kami sudah berkontribusi mengurangi volume sampah ke TPA," kata seorang akademisi yang juga Ketua Bank Sampah di Jawa Tengah.

"Bank sampah itu tempat menjalankan ibadah yang berkaitan dengan lingkungan, sosial, edukasi dan ekonomi. Ekonomi terakhir, jangan dibalik," katanya lagi dalam webinar Soft Launching Bank Sampah Kampus Negeri di Jawa Tengah.

Demikianlah pendapat akademisi yang sekaligus praktisi Bank Sampah. Akademisi seperti inilah yang banyak di Indonesia. Menjalankan praktik pengelolaan sampah dengan konvensional dan prinsip "yang penting berkontribusi".

Tampaknya memang baik, tapi sebenarnya tidak. Konvensional di sini maksudnya bukannya tidak modern karena tidak ada peralatan canggih di dalam pengelolaan sampah. Konvensional dalam hal ini maksudnya adalah bekerja tanpa dasar regulasi atau bahkan melanggar regulasi.

Bank sampah yang dijalankan akademisi semuanya atau nyaris semuanya memiliki pola kerja yang sama dengan pelapak, perosok, dan pengepul. Parahnya mereka bersaing dan bahkan ingin menyingkirkan usaha-usaha rakyat pelapak, perosok, dan pengepul yang ada lebih dulu dari Bank Sampah.

Di satu sisi para akademisi pelaku Bank Sampah ini menampakkan kehebatan Bank Sampah yang dikelolanya. Namun, di sisi lain mereka juga menampakkan betapa tidak berdayanya Bank Sampah yang mereka kelola. Sehingga, Bank Sampah itu tampak lemah dengan tujuan agar mendapat bantuan, suntikan dana dan apapun namanya yang penting gratis untuk meningkatkan kinerja Bank Sampah itu.

Bank Sampah Salah Jadi Percontohan
Bank Sampah seperti yang dikelola akademisi itulah yang dijadikan role model atau percontohan oleh masyarakat. Sehingga, Bank Sampah yang ada di masyarakat mempunyai sifat paradoksal aneh seperti dengan Bank Sampah yang dikelola para akademisi. Hebat tapi butuh bantuan.

Masyarakat membentuk dan menjalankan Bank Sampah sama dengan para akademisi itu menjalankan Bank Sampah. Tapi bedanya, masyarakat menjadikan orientasi terbalik seperti yang dikhawatirkan akademisi Jawa Tengah di atas. Jika akademisi menjalankan dan mendampingi Bank Sampah dengan orientasi ibadah melalui pengabdian pada lingkungan, edukasi, sosial lalu ekonomi. Maka Bank Sampah di masyarakat dijalankan secara murni ekonomi, tapi tetap selalu mengatakan aktivitas itu sebagai kegiatan edukasi, sosial, dan lain-lain agar dianggap kegiatan yang tidak cari keuntungan.

Bank sampah yang demikian terus bertumbuh seperti jamur di musim hujan. Cepat tumbuh, cepat mati juga seperti jamur jika datang musim kemarau. Kebanyakan bank sampah dengan model di atas tidak berkelanjutan karena permasalahan yang kompleks. Namun masalah utamanya pasti berkaitan dengan kecilnya keuntungan dalam jual-beli sampah mereka lakukan.

Memang bank sampah akan mati atau setidaknya mati suri jika mengedepankan bisnis atau jual beli sampah. Maka sudah benar adanya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ((LHK) menjadikan bank sampah sebagai sosial engineering untuk mengubah perilaku masyarakat dalam mengelola sampah melalui edukasi dan sosialisasi. Meski belakangan Kementerian LHK juga "mengingkari" fungsi bank sampah sebagai social engineering dan menjadikan bank sampah mirip seperti pelapak, perosok, dan pengepul.

Sekarang ini semakin sulit membedakan antara bank sampah dengan pelapak, perosok, dan pengepul. Karena bank sampah bekerja seperti pelapak, perosok, dan pengepul sampah. Dan sebaliknya juga begitu: pelapak, perosok, dan pengepul mengaku sebagai bank sampah. Namun yang jelas dari keduanya itu, hanya sedikit berkontribusi pada masalah sampah. (nra)


KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun