Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud

Resolusi 2014 : Tidak Membuat Resolusi

31 Desember 2013   22:37 Diperbarui: 24 Juni 2015   03:18 112 0

Jika kegilaan bisa diartikan sebagai, melakukan hal yang sama berulang-ulang dan mengharapkan hal yang berbeda.

Itulah yang saya pikirkan saat menurunkan kertas warna warni bertuliskan resolusi tahun lalu di whiteboard saya.

Dari tahun ke tahun, saya selalu membuat resolusi. Semuanya keren, optimistis, beberapa nyaris ambisius. Hal baik yang saya dapatkan dari membuat resolusi tahunan adalah saya jadi tahu hal-hal yang paling memotivasi saya, my own limitation dan saya jadi bisa mengukur kemampuan saya sendiri dalam bidang tertentu. Semakin realistis dan measurable goal nya, makin bisa diprediksi hasil akhirnya. Dan ada rasa bersalah, saat mencoba menulis resolusi yang muluk muluk dan tidak realistis dengan kondisi saat saya menuliskannya.

Dan seperti tahun tahun sebelumnya, resolusi tahunan saya kemarin, bertengger gagah di whiteboard. Bercahaya di minggu minggu pertama. Selang dua atau tiga bulan setelahnya saya semakin tenggelam dalam kesibukan. Plan dan timeline yang sudah dibikin sedemikian rupa, kadang jadi berantakan karena banyak hal terjadi bisa terjadi. Dan ketika semua sudah begitu tidak terkontrol, daftar resolusi menjadi tidak lebih dari pajangan di whiteboard yang pada akhirnya, akan saya maklumi jika tidak tercapai dan apabila tercapai pun, saya tidak heran karena its seems predictable.

Yap... saya ingin melakukan hal yang berbeda. Tidak membuat resolusi apapun tahun ini.

Sebagai gantinya saya ingin lebih fokus pada apa yang dapat saya kerjakan sebaik mungkin. Membuat hal hal kecil yang positif dan membuatnya serutin mungkin, sembari membebaskan diri saya dari daftar resolusi. Saya membuat komitmen pada diri saya sendiri untuk membangun beberapa kebiasaan baru yang sederhana. Seperti ;

·Bangun sedini mungkin

Saya sering terburu buru bangun, menyiapkan segalanya untuk hari itu, sibuk dengan pekerjaan, dan pulang dengan rasa letih, siklus yang hampir sama setiap harinya. Ketika bangun lebih pagi, disaat semua orang belum bangun, dan suasana begitu tenang, saya bisa punya waktu untuk saya sendiri. Saya bisa beribadah lebih tenang, jogging sebentar, membuat teh atau kopi sambil membaca blog kesukaan atau menulis apapun. Kontemplasi jelas jelas hal yang mahal, setelah dunia terbangun dan kesibukan mulai berdatangan.

·Menyisihkan waktu untuk keluarga lebih banyak

Saya sepakat dengan kebanyakan orang bahwa segala hal yang kita usahakan adalah untuk keluarga. Namun saya sendiri sering lupa mengajak ngobrol ibu dan bapak. Bercengkerama dengan saudara atau sekadar duduk duduk setelah makan malam. Kadang ketika sudah pulang pun, otak saya masih mikirin kerjaan kantor. Saat ngobrol sering terasa “sedang tidak di tempat”. Saya ingin lebih banyak “ada” untuk mereka. meletakkan semuanya dulu dan totally be there for them. Sederhana.

·Membiasakan menulis setiap hari

Ini sangat saya butuhkan. Cara saya untuk menenangkan diri sekaligus curhat tanpa ada yang meng interupsi.

·Sedekah (apapun, sesedikit apapun, setiap hari)

Sedekah itu membahagiakan, karena saya yakin itu tidak mengurangi. Tapi menambah. Menambah kaya, menambah saudara , menambah teman, menambah rezeki.

Kegagalan membangun kebiasaan adalah ketika kita berhenti melakukan kebiasaan itu. Jadi meski terlihat sederhana, ini antara saya dan diri saya sendiri. Saya membuka kemungkinan untuk menambahkan daftar habit yang lain nanti. Bisa konsisten itu sudah bagus sekali.

Ini baru awalan saja.

Niat untuk membuka diri terhadap segala kemungkinan. Untuk hidup dalam lingkup hari ini. Live in present and just be here..

Selamat tahun baru 2014

Live well..love well

`nancy

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun