Mohon tunggu...
KOMENTAR
Filsafat

One Billion Rising: Marianne Katoppo (II)

16 Februari 2013   20:53 Diperbarui: 24 Juni 2015   18:12 630 0

Teologisebagai

Narasi Kritis Terutama akan Allah

Pembacaan teologis terhadap Raumanen menghidupkan diskusi mengenai kemungkinan mendayagunakan bahasa narasi dalam teologi. Daripada memperlakukan Compassionate and Freesebagai yang lebih jelas (clarity) dan runtut (coherence) menceritakan kisah-kisah akan Allah daripada dalam Raumanen, saya menemukan kejelasan dan keruntutan serupa dalam novel. Temuan kecil ini memberikan sumbangan untuk berangsur mengakhiri pertentangan antara  bahasa sure knowledge dan narrative terutama dalam teologi sistematik. Harapannya, membuka ruang untuk diskusi lebih lanjut mengenai kemungkinan menerapkan bahasa naratif dalam teologi sistematik. Sementara itu, khalayak pembaca akan menemukan situasi yang berkebalikan dalam membaca karya-karya Marianne Katoppo [daripada dalam Pengantar dissertasi ini]. Saya secara singkat membicarakan penggunaan bahasa kisah dalam ilmu-ilmu sosial dan pengkaji sosial mengakui kejelasan dan koherensi di hati tulisan naratif. Marianne Katoppo sepenuhnya percaya bahwa sastra mengekspresikan cita-cita dan gagasan-gagasannya secara sangat baik.[1]Dakwaan terhadap Marianne Katoppo sebagai teolog histeris dan heretik menyerang tepat pada hati teologinya sebagai kisah akan Allah.

Dalam seluruh tulisannya, Marianne Katoppo berbicara singkat mengenai teologi sebagai kisah akan Allah. Marianne menulisCompassionate and Freeseperti surat kawat berisi informasi-informasi penting yang ditransmisikan serangkaian pulsa elektrik. Untuk memahaminya, perlu seorang pengirim surat kawat untuk membaca dan kadang-kadang menafsirkan pesannya. Perspektifnya sebagai seorang perempuan Kristiani Indonesia menyediakan materi pokok, bukan tambahan, untuk memahami teologi sebagai kisah akan Allah. Karya sastranya seringkali menampilkan materi-materi penting untuk memahami kisahnya akan Allah dalam karya-karya teologisnya. Bagian ini berfokus pada pemahaman Marianne akan teologiyang ia mengungkapkannya  baik dalam karya sastra maupun teologi. Pemahaman barunya mengenai teologi merupakan tanggapan kritis terhadap para teolog patriarkal borjuis yang menyibukkan diri dengan mempersolek kata-kata abstrak

Marianne Katoppo mendefinisikan teologi sebagai refleksi keilmuan atau kritis terutama akan Allah. Daripada menjelaskan lebih lanjut definisi untuk memperkayanya, ia memilih untuk berkisah kepada khalayak pembaca mengenai seorang perempuan yang mengisahkan perjumpaannya dengan Allah dalam bahasa puisi.

Tell out, my soul the greatness of the Lord,

Rejoice, rejoice, my spirit, in God my savior;

So tenderly has he looked upon his servant,

Humble as she is.[2]

Marianne Katoppo juga berkisah kepada khalayak pembaca kenangannya berjumpa dengan Ivan Illich di Berlin. Selama percakapan, Ivan Illich secara bernas mendefinisikan teologi sebagai pembicaraan mengenai Allah dan para teolog sebagai “yang berbicara mengenai Allah sedemikian rupa sehingga kata-kata mereka seperti jendela-jendela kecil yang membukakan kepada yang lain untuk melihat keagungan Allah.”[3]

Dalam pengantar Compassionate and Free, Marianne Katoppo mengakui keterbatasan waktu untuk menyelesaikan bukunya. Oleh karena itu, fokus tulisannya lebih pada perkara-perkara pokok. Ia memandang definisi, metode, dan sumber-sumber teologi sebagai tema sekunder. Usaha kontemporer untuk menyistematisasikan teologinya membutuhkan sensitivitas tambahan pada konteks personal, ekklesial, sosial, dan akademik yang membangun refleksi kritisnya tentang Allah. Kwok Pui-lan dan Chung Hyun Kyung menyarankan kepada semua yang menelisik teologi yang para teolog perempuan kerjakan untuk memahaminya dalam konteks luas perkembangan kesadaran teologis perempuan Asia. Sejak akhir 1970an para teolog perempuan Asia membangun konsultasi teologis untuk berbagi materi berteologi, merangsang pemikiran teologis dan menerbitkannya.[4]Ketika mereka berbicara mengenai Allah,

they do not begin with the abstract discussion of the doctrine of the Trinity, the debate on the existence of God, or the affirmation of God as omnipotent, unchanging and immovable. Rather, they focus on God as the source of life and the creative, sustaining power of the universe. In a continent where many people are struggling to acquire basic necessities and human dignity, God is often seen as the compassionate one, listening to the people’s cries and empowering them to face life’s adversities. God is the source of hope, the power overcoming despair and the vision that brings peace amidst ethnic strife, alienation, and oppression.[5]

Menyeruaknya sejarah menjadi istilah penting bagi para teolog perempuan Dunia Ketiga seperti Marianne Katoppo. Ia berbicara mengenai tumbuhnya kesadaran diantara perempuan Asia sebagai pelibat aktif dalam masyarakat. Munculnya Marianne Katoppo, seorang teolog Indonesia dan teolog perempuan Asia pertama yang menerbitkan karya-karyanya dalam bahasa Inggris, juga menandai mengemukanya teologi diantara para teolog perempuan Asia. Sebagaimana khalayak pembaca menyaksikan “menyeruaknya sejarah” dalam kehidupan para perempuan Asia, saya juga melihat menyeruaknya teologi, atau mungkin lebih tepat istilahnya, menyeruaknya Allah dalam kehidupan perempuan Asia. Para perempuan mulai melibatkan diri secara aktif dalam teologi, suatu bidang yang sebelumnya stereotipenya ranah laki-laki. Para teolog perempuan Asia membuka pagar-pagar pembatas yang sebelumnya menghalangi mereka dari berteologi sebagai perempuan.

Marianne Katoppo mendaku kembali kemendesakan menghubungkan, bahkan hubungan kesalingan antara pengalaman perempuan dan refleksi teologis. Marianne mengekspresikan perjuangan tanpa henti, sekaligus ekstase dalam mengawali teologinya ketika bertanya, “How to put this extraordinary experience into words and categories that qualify as theology?”[6]Sebagaimana ia menemukan kegembiraan ketika berkoalisi dengan yang lain untuk memperjuangkan pembebasan, ia juga menemukan sukacita serupa dalam menggeluti teologi. Ia belajar melibatkan diri dalam teologi seperti Maryam yang menari penuh suka cita setelah perang (Kel 15, 20) dan Maria yang mengidungkan Magnificat (Lk 1, 46-55). Bahkan, ia membayangkan teologi sebagai sebuah tarian atau nyanyian.

Posisi Marianne Katoppo sebagai teolog lepas [waktu] dengan mudah memberikan kesan keliru kepada kita bahwa ia mengerjakan teologi ketika memiliki waktu luang. Sebaliknya, kemendesakan perkara-perkara kemanusiaan mendorongnya untuk memprioritaskan subyek-subyek tulisannya. Ia berjuang untuk membebaskan laki-laki dan perempuan, dengan latar belakang agama atau budaya apapun, yang rentan dihadapan kuasa-kuasa anti-Allah. Perkara rakyat miskin yang bekerja di pabrik-pabrik dengan kondisi yang jauh dari manusiawi, sebagai contoh, menjadi priotias utamanya sementara tahbisan perempuan menjadi prioritas sekunder. Orientasinya pada pembebasan, sebagaimana para teolog Amerika Latin, menautkan praksis dan refleksi setelah perjumpaan dengan para liyan menderita dan Kristus. Dalam berteologi Asia,

we cannot limit ourselves to beautifully worded abstract concepts. Of course well-fed, well-dressed bourgeois theologians have all the time in the world for that. But if one really encounters the powerless Christ in the oppressive structures of Asia (and indeed everywhere), it’s very clear that time is running out.[7]

Saya hendak berbagi kepercayaan ini kepada khalayak pembaca bahwa Marianne Katoppo memiliki visi teologi sebagai kisah akan Allah. Marianne memilih menggunakan ungkapan-ungkapan yang lazim di kalangan para teolog saat itu sehingga mereka menerimanya tanpa keberatan. Ia secara bijak menggunakan istilah-istilah standar itu dalam mendefinisikan teologi dan selanjutnya memperkaya pemahamannya atau membawanya pada arah baru.

If women are admitted at all to male-dominated institutions of higher theological education and/or patriarchal church structures, they are expected to theologize by proxy, faithfully to relay the ideas fabricated in male chauvinist (and often white supremacist) contexts. A woman’s own experiences–of discrimination, subordination, and oppression–are denied validity.[8]

Teologi Marianne Katoppo mengalir dari refleksi naratifnya sebagai seorang perempuan Kristiani Asia yang mendaku kembali identitasnya sebagai ciptaan merdeka dan menanggapi panggilan Allah untuk peduli terhadap para liyan yang menderita di dunia global. Ia juga mengisahkan perjumpaan-perjumpaannya dengan Allah sebagai Liyan absolut. Refleksi teologisnya bertujuan untuk mendaku kembali kemanusiaan para liyan yang menderita itu. Marianne menamai Mammon kontemporer dan mengutuk para pengikut anti-Allah. Penilaian hati-hati terhadap teologinya memberikan kepada khalayak pembaca baik refleksi kritis maupun pencarian visinya mengenai manusia dan Allah.

Penggunaan autobiografi, biografi, dan puisi memperlihatkan usaha Marianne Katoppo tanpa henti agar jangan meninggalkan akar sebagai bagian dari komunitas sastrawan/wati dalam mengerjakan teologi [sistematik]. Marianne Katoppo mengambil jarak dari teologi yang murni pengetahuan logis dan merengkuh teologi yang membuka ruang untuk hasrat (passion). Menegaskan pentingnya hasrat dalam teologi, Marianne melawan dominasi pengetahuan logis dalam teologi dan menginkorporasikan hasrat  dalam refleksi tentang Allah. Titik perhatiannya pada hasrat seperti dalam masyarakat Dunia Ketiga jauh dari maksud memenangkan hasrat atas pengetahuan logis.  Hasrat dan bela rasa yang menjadi kata-kata kunci dalam teologi-teologi perempuan Dunia Ketiga yang direfleksikan dalam teologinya, yang menekankan istilah-istilah ini. Ia melukiskan seorang tokoh perempuan sebagai manusia yang bernalar dan berhati. Ia bergabung dengan para teolog perempuan Dunia Ketiga lain yang memandang dirinya sebagai yang “feel called to do scientific theology passionately.… a theology made not only with the mind but also with the heart, the body, the womb.”[9]

Definisi singkat dan deskripsi panjang mengenai teologi oleh Marianne Katoppo secara jelas  menautkan bahasa sure knowledge dan narrative dalam teologinya. Marianne mendayagunakan ilmu-ilmu lain untuk mengokohkan teologi sebagai kajian akademik. Ia “does not replace the other functions of theology, such as wisdom and rational knowledge; rather it presupposes and needs them.”[10] Elsa Tamez juga mengingatkan khalayak pembaca bahwa dunia, di tangan para teolog perempuan Dunia Ketiga, “mencakup nalar (reason) dan rasa (sentiment).”[11]Marianne mengartikulasikan hasratnya akan bahasa teologi dengan rekam jejak atas teks-teks asli Kitab Suci dan penafsiran-penafsiran keliru yang merendahkan perempuan, yang menghalangi mereka untuk menjadi imago Dei. Bahasa teologi yang inklusif menantang para teolog untuk menghindari pengutamaan bahasa laki-laki untuk mengalamatkan Allah. Para perempuan mengajukan gagasan-gagasan akan Allah yang merengkuh semua jender dan menghindari “risk consecrating the traditional functions ascribed to each sex, but now transported into the divine being.”[12]Meskipun para radikal Muslim beberapa waktu belakangan ini mencoba untuk mengecewakan umat Kristiani dari menggunakan Allah sebagai kata bersama untuk menunjuk Tuhan, para teolog Indonesia relatif menghabiskan lebih sedikit waktu untuk berurusan dengan jender Allah. Novel Raumanen mengundang kita untuk menggunakan kata secara jelas sehingga menjauhkan diri dari bahaya kerancuan.

"I am sorry, Raumanen," Philip says. "In my opinion, you should seek permission for abortus provocatus.” The Latin words do not soften the blow. Raumanen frozenly sits in her chair. Philip tells her to ask permission to have abortion?[13]

Choan-Seng Song menghargai kreativitas Marianne Katoppo dalam mendayagunakan kata rahimyang jelas sekali memperlihatkan sumbangannya sebagai seorang perempuan dalam memperkaya teologi Asia. Teologinya secara cerdas menangkap kehidupan rakyat Asia yang memusatkan harapan mereka pada rahim. Rakyat Asia secara intuitif memahami rahim sebagai lokasi perjumpaan antara harapan manusia dengan benih-benih kehidupan.[14] Song menafsirkan teologi rahim yang memandang rahim sebagai lokasi “dimana kehidupan baru berjuang untuk mewujudkan diri” sebagai teologi pembebasan “dalam arti menghadirkan kehidupan dan tatanan baru.”[15] Marianne Katoppo belajar kata-kata penting dalam kehidupan rakyat biasa yang kemudian memperkaya gagasan dalam karya-karyanya. Marianne menangkap pentingnya ibu diantara orang-orang Indonesia dan menulis tentang kasih keibuan Allah.[16]Pada saat bersamaan, ia melihat secara kritis simbol-simbol budaya yang merendahkan perempuan sebagai obyek dan komoditas seksual. Penelisikannya tentang gambaran-gambaran Allah dalam agama-agama lain tujuannya membangun gambaran Allah yang lebih merengkuh semua jender.

Hasrat (passion) dan belarasa (compassion) menjadi kata-kata kunci bagi para teolog Dunia Ketiga sejak penghujung 1970an. Tudingan terhadap Marianne Katoppo sebagai teolog histeris muncul dari kegagalan untuk menamai kehadiran hasrat dalam teologinya. Pengedepanan hasrat jauh dari maksud menyingkirkan pengetahuan logis, tetapi menggugat dominasinya. Elsa Tamez merefleksikan hasrat dan bela rasa lebih lanjut sebagai “dua dimensi manusia yang komunitas akademik menepikannya.” Para teolog perempuan Dunia Ketiga memandang keduanya sebagai yang “moist with mystery” yang memberikan kepada mereka “ways to penetrate into the truth of the things” dan yang memberikan energi kepada mereka untuk memperjuangkan martabat manusia.[17] Kwok Pui-lan memahami teologi Asia sebagai yang “is not written with a pen, it is inscribed on the hearts” dan “emerges from the wounds that hurt, the scars that do not disappear, the stories that have no ending,” and yet “dare to hope.”[18]Menganalisisnya dari perspektif budaya, María Pilar Aquino mengamati bahwa

predominance is given to the rational and logical, to science and production; the world of intuition,  feeling, intelligence, and popular ways of seeing that does not exclusively favor speculative reason is undervalued. Irrationality is considered characteristic of the “feminine” stereotype. In the anthropological (and hence theological) sphere, there is dualism between woman-man, body-soul, matter-spirit, evil-good, and so on, as well as a negative view of sexuality in which women appear as the source of all evil.[19]

Saya mendiskusikan pendakuan hasrat dalam teologi Marianne Katoppo yang bahkan komunitas akademi  memberi label keliru kepadanya sebagai histeris. Usaha membaca teologi Marianne harus berhadapan pula dengan mereka yang menudingnya sebagai heretik. Mariannememandang penderitaan kaum perempuan dan perjumpaan mereka dengan Allah sebagai sumber penting dalam teologi perempuan Asia. Ia mengambil istilah umum patriarki untuk penamaan sementara akar penderitaan mereka. Budaya patriarkal yang bersarang dalam gereja dan teologinya,  menghalangi perempuan sebagai liyan untuk hidup secara penuh sebagai imago Dei yang merdeka dan peduli terhadap sesama.Ia juga memandang Allah sebagai Liyan absolut. Marianne berefleksi tentang Allah sebagai Liyan absolut dari perspektif seorang perempuan Kristiani sebagai liyan merdeka dan peduli terhadap yang lain.

Terbangnya Punai karya Marianne Katoppo secara singkat mendiskusikan tegangan kreatif memasukkan hasrat dan bela rasa dalam kajian keilmuan. Pingkan dan Masri berbicara tentang Dimitry Shostakovich yang komunitas musik mengenalnya sebagai seorang komponis logis dari Rusia. Pelukisan demikian terhadap Shostakavoch seringkali mengebawahkan perlawanannya yang meningkat terhadap rezim Stalin. Rezim penguasa menghalanginya untuk secara artikulatif menyusun musik, dan penyempurnaan teknik musik menjadi satu-satunya kemungkinan yang tersedia baginya jika ingin tetap menghirup nafas kehidupan. Shostakovich menempatkan melodi di hati musiknya. Komposisi musik menghubungkan musik dan bahasanya. Ia menggabungkan teknik dan seni. Komposisi simfoninya dapat mengungkapkan drama penyiksaan, pembantaian dan kelaparan di bawah rezim penindas. Shostakovich menyingkapkan bahwa mayoritas simfoni-simfoninya berbicara mengenai makam. Musik kerakyatan Yahudi mempengaruhinya untuk menyembunyikan keputusasaan mereka melalui tawa dan tarian. Ia membimbingnya untuk mengusulkan tawa seperti komposisi-komposisi lain yang bergaya liris, kedukaan, dan perlawanan. Shostakovich meyakini bahwa musik dapat menghalau kebungkaman yang rezim penindas memaksakannya pada rakyat.[20]

Marianne Katoppo menyelidiki bahasa naratif dengan mendialogkan secara kritis mitos dan sejarah. Marianne menunjukkan bahwa mitos dapat mengekspresikan setara kuatnya dengan sejarah. Namun, dalam sejarah, sebagian orang dan rezim telah menyalahgunakan mitos untuk menutupi kebenaran historis. Marianne  mendayagunakan bukti-bukti sejarah untuk mengurangi penyalahgunaan mitos.

It is now twilight. It is not good to lie down at this time, her father advises Raumanen. According to ancient belief, evil spirits and ghosts roam around the earth during the time. They seek chance to capture the drifting souls.

It is probably just an old fairy tale by her father who displease with his lazy children – and, of course, only lazy people sleep in the late afternoon. We usually gather as family at this time to drink tea or coffee. [21]

Pemerintah seringkali menggunakan mitos pembangunan dan globalisasi untuk menutupi pemiskinan ekonomi. Sebagaimana dalam bagian sebelumnya, Marianne Katoppo menyelidiki Kitab Suci dan menemukan kasih Yesus yang peduli kepada kaum perempuan untuk menghilangkan mitos tentang wanita yang pemeluk mitos ini mencari pembenarannya  dalam Kitab Suci.

Marianne Katoppo yang mengembangkan teologi sebagai narasi akan Allah sungguh menyadari hakekat simbolis bahasa teologi. Sebuah simbol menunjuk pada suatu arah dan jatuh tanda kosong jika gagal sampai pada yang ditandakannya.[22] Marianne Katoppo mencari makna simbolis dari keperawanan untuk menanggapi mereka yang mengidealkannya sebagai puasa dari relasi seksual. Keperawanan menyimbolkan kesuburan hidup yang dicurahkan kepada yang lain oleh para perempuan yang merdeka dan peduli terhadap yang lain. Seorang perawan tidak menghambakan dirinya kepada manusia lain, tetapi mengabdikan kehidupannya kepada Allah. Maria mungkin  hidup sebagai perawan bahkan ketika berhubungan seksual dengan Josef, melahirkan Yesus dan mencapai usia lanjut.

My life journey begins at her womb. When her life journey reaches a final point and she returns to the womb of the earth, why I can’t come to her funeral? Why? How comforting is the memory of mother’s special love.[23]

Marianne Katoppo lebih lanjut berefleksi mengenai penggunaan kata ibudan bapakuntuk Allah. Marianne menyapa Allah sebagai ibu untuk menyimbolkan Allah sebagai Pemberi Kehidupan dan Allah sebagai Bapa untuk menyimbolkan Allah sebagai Kesuburan dan Kreativitas Illahi.[24]Simbol-simbol ini mengekspresikan Allah yang memperhatikan manusia secara penuh kasih. [25] Marianne, dalam novelAnggrek Tak Pernah Berdusta, bermaksud melukis Allah secara baru melalui karakter ayah. Pingkan menghadirkan kembali kenangannya akan ayah yang menghantarnya ke rumah sakit untuk vaksinasi cacar, mengajarinya dasar berhitung, membelikannya baju pesta, duduk di sisi tempat tidur ketika di rumah sakit, dan mengucapkan selama tinggal ketika ia berangkat ke Stockholm.

He is truly a father, Pingkan thinks. He wholly involves himself and takes responsibility for other human beings begotten by him.  Children truly never ask their parents to give them birth. A kid like Ulrike will be called illegitimate in another country child by the community who claim as morally superior to her parents.[26]

Marianne Katoppo juga melukiskan Allah secara baru melalui karakter Andrzej, seorang laki-laki Polandia, yang menghargai hubungan dengan karaker utama Pingkan. Marianne mencirikan Swasti dan Andrzej seperti Raumanen yang simbolnya pohon Flamboyan. Sikap tenang Swasti berlawanan dari betina-betina Belanda yang berusaha untuk secara terang-terangan menggoda pacarnya Jerome.[27] Andrzej hadir dalam kehidupan Pingkan sebagai laki-laki peduli yang kehadirannya memberikan keteduhan kepada Pingkan.[28]Melalui dia, narator melukiskan orang-orang sekarat dan mereka yang wafat prematur karena terhalang untuk sungguh bertumbuh sebagai citra Allah.

Marianne Katoppo mengembalikan makna simbolis keperawanan yang menunjuk pada sikap kualitatif, bukan fakta fisiologis. Keperawanan Maria bersemayam dalam dirinya meskipun ia berhubungan seksual, melahirkan bayi, dan usianya beranjak lansia.”[29]Keperawanan miskin artinya ketika kita memahaminya sebagai fakta fisiologis dari puasa hubungan seksual. Tekanan pada keperawanan sebagai hidup otonom yang subyek membaktikannya kepada yang lain jauh dari maksud kurang menghargai para perempuan yang menjunjung keperawanan fisik. Marianne keberatan terhadap gambaran Maria sebagai sosok tergantung yang hanya menerima kepenuhan sebagai manusia dalam kaitan dengan suaminya Josef dan puteranya Yesus. Ia menolak gambaran domestik Maria sebagai “yang berparas manis, rapuh, dengan mata yang entah tertunduk atau mendongak ke surga – tidak sungguh here and now!”[30]Maria mengalami pendewasaan dalam dirinya dan keterbukaan untuk memberikan kehidupannya kepada Allah menjadikannya perempuan subur. Marianne keberatan dengan mereka yang mengebawahkan peran prokreatif perempuan.

Pengabdian Maria sebagai perempuan merdeka kepada Allah berlawanan dengan penghambaan paksa di bawah penjajah atau rezim penguasa. Marianne Katoppo melukis Maria perspektif Asia secara baru dengan menyatukan gambaran tradisionalnya sebagai “Virgin Most Pure” dengan lukisan barunya sebagai “Virgin of the Most Poor.”[31]Maria, sosok perempuan Asia, pantas mendapatkan penghormatan karena kepekaannya pada keadilan sosial dan perjuangannya untuk perubahan sosial. Ia tumbuh dewasa sebagai seorang imago Deidengan menerima perutusan dari Allah untuk terlibat dalam menghadirkan keselamatan. Perubahan dalam ruang domestik dan hubungan keluarga yang mengubah masyarakat menyingkapkan kemungkinan peran prokreatif sebagai sumber perjuangan. Kidung puitis Magnificatmengungkapkan keterlibatan penuh suka cita sebagai perempuan merdeka dan peduli terhadap sesama dalam sejarah keselamatan. Penerimaan penuh kegembiraannya terhadap perutusan Allah menahbiskannya sebagai teladan bagi semua jender.[32]

Perjumpaan-perjumpaan intensif Marianne Katoppo dengan komunitas-komunitas agama lain memberikan sumbangan pada gagasannya untuk memahami Allah melampaui dikotomi laki-laki dan perempuan. Mereka yang beragama lain seringkali tanpa kesulitan menampilkan Allah baik sebagai laki-laki dan perempuan. Marianne memperlihatkan kepada kita kecenderungan kuat gereja untuk lebih menggunakan karakter laki-laki untuk Allah dan mengabaikan sisi Allah yang lain yang seringkali bertaut dekat dengan karakter perempuan. Dengan menekankan sisi perempuan Allah, ia mengembalikan konsep simbolik akan Allah dan menyingkapkan bahaya memperlakukannya secara harfiah. Marianne meyakinkan kita untuk melihat keterbatasan untuk semata-mata menggunakan simbol laki-laki untuk Allah. Allah Kehidupan, Pendengar ratapan kaum tertindas, dan Sumber Pengharapan menjadi tema-tema besar dibandingkan dengan doktrin Trinitas, keberadaan Allah, atau kemahakuasaan Allah.[33]

Selain melukis simbol-simbol baru Allah, Marianne Katoppo melihat pentingnya menamai anti-Allah yang bersaran diantara manusia dan masyarakat. Katoppo menamai Mammon sebagai “the real poverty-maker”[34]dan secara kritis menilik kehadirannya selama era Pembangunan. Terdapat sebuah pantai indah di Bali, tulisnya,

from which you can watch glorious sunsets. Until a dozen or so years ago, the local people mainly earned their living through fishing, and the beach was lined with fishing boats. Now that hotel syndicates have discovered just how lucrative beautiful beaches and glorious sunsets can be, you will not see a single fishing boat. Now people earn their living by providing accommodation to young tourists willing to rough it, and by catering to the older variety who want to eat fresh lobster in comfort. Prostitution, male and female, has soared. In other words, from the productive sector, people have switched almost entirely to the service sector.[35]

Pada era Pembangunan, produk-produk teknologi dapat menjadi illah-illah baru. Marianne Katoppo mengajukan kritik terhadap pemiskinan umat manusia karena minimnya kemesraan dan kasih di bawah Rezim ekonomi baru.[36]

Looking at the towering buildings at the center of Stockholm with concrete, glass and neon lights, Pingkan thinks: Is this the so-called Development? Stiff and cold towers reach the sky, but human hearts that longs for intimacy and affection scatter on the roadsides?[37]

Para pengikut Kristus di era Pembangunan hendaknya peduli terhadap para korban kejahatan seksual di tempat kerja dan korban peminggiran politik.[38]Marianne Katoppo mengidentifikasikan kaum liyan yang menderita dengan Kristus ketika menyatakan bahwa “the face of the exploited non-person is the face of Christ.”[39]Gereja Indonesia yang peduli akan berpaling dari model kolonialnya sebagai “people wearing shoes” dengan para teolog yang makan kekenyangan dan borjuis, dan hidup dalam kemiskinan Injili.

Dalam mengembangkan teologi sebagai kisah akan Allah, Marianne Katoppo bergabung dengan para perempuan lain yang mendaku diri sebagai para subyek yang memiliki, membaca, dan menafsirkan Kitab Suci. Marianne berkisah tentang para suster Ursulin yang bekerjadengan sekitar enam ratus pekerja seks komersial di lokalisasi Kramat Tunggak. Di samping pengetahuan umum dan pendidikan kesehatan, para suster itu juga memberikan studi Kitab Suc Seorang mucikari  bercerita tentang seorang pekerja seks komersial bernama Inem yang selalu membawa Kitab Suci dan membacanya ketika memperoleh kesempatan.[40]Marianne menyeleksi teks-teks Kitab Suci dalam menuliskan sebuah teologi perempuan Asia. Ia kadang-kadang merekam jejak bahasa asli dari teks-teks Kitab Suci tertentu dan mendapati terjemahannya mengasingkan perempuan. Tamez menamainya sebagai “intentional selection” yang mulai dari konteks, dan mengarahkan penafsir atau pembaca biasa untuk memilih teks-teks Kitab Suci yang berfungsi sebagai terang untuk kaki dan terang untuk melihat arah jalan. Cara pembacaan Kitab Suci yang demikian membebaskan hermeneutika Kitab Suci dari bahaya manipulasi dan antipengetahuan.[41]Dalam membaca teks-teks Kitab Suci, Marianne mendaku kembali perempuan sebagai subyek dan menamai pembacaan dan penafsiran teks-teks Kitab Suci sebagai hermeneutika rahim (hermeneutics of womb).Tanpa mengurangi sikap hormatnya terhadap Kitab Suci sebagai teks-teks suci, Marianne mendekati teks-teks itu tanpa ketakutan.

Pujian dan Kritik

Sebuah penerbit Katolik Indonesia pada awalnya menunjukkan ketertarikan untuk menerjemahkan Compassionate and Freepada tahun 1980 dan mendiang Kardinal Justinus Darmojuwono berkenan untuk menulis Kata Pengantar. Namun, penerbit tiba-tiba menghentikan proyek penerjemahan itu karena pemerintah Indonesia mengkategorikan buku itu dalam rumpun teologi pembebasan.[42]Penolakan sebagian teolog Indonesia terhadap Compassionate and Freemuncul karena prasangka bahwa Marianne Katoppo menulis sebuah teologi perempuan yang kebarat-baratan. Mereka khawatir, bahkan takut bahwa Marianne mengadopsi sebuah teologi feminis Barat dan ragu akan keyakinannya yang menjadikan perempuan sebagai tema besar di Asia. Perjumpaan dengan kaum perempuan Asia, terutama Indonesia, yang menderita di bawah rezim-rezim antiallah menjadi titik berangkatnya dalam merefleksikan Allah. Meskipun telah menggunakan istilah teologi perempuan daripada teologi feminis untuk membantu khalayak pembaca menangkap sumbangannya dalam merefleksikan pengalaman perempuan akan Allah, khalayak pembaca baru menikmati Tersentuh dan Bebasdua puluh delapan tahun setelah penerbitan pertamanya dalam bahasa Inggris.

SebagaimanaRaumanenmelukiskan baik sukacita maupun dukacita dalam mentransformasikan Indonesia dari masyarakat tradisional menuju masyarakat pluralistik, Compassionate and Freemenggambarkan baik kegembiraan maupun penderitaannya untuk mentransformasikan teologi tradisional yang “considered to be the monopoly of European/German theologians”[43]ke teologi Indonesia. Ketika mengisahkan teologinya, ia memperhitungkan para perempuan Dunia Ketiga, baik Kristiani maupun yang komunitas-komunitas beriman lainnya, yang menjumpai Allah. Alih-alih berlalu dari mereka, terjunnya dalam sejarah Indonesia menghindarkannya dari bahaya melukiskan Maria, Yesus, dan Allah secara abstrak ketika menafsirkan Kitab Suci Ibrani dan Kristiani dari perspektif seorang perempuan Kristiani Indonesia. Teologinya merupakan kritik terhadap “the theology of the Church [that] has been oppressive and superficial with regard to the poor.”[44]Pemahamannya mengenai Allah sebagai Liyan absolut yang melampaui pemahaman manusia membuka kemungkinan bagi khalayak pembaca untuk memuji dan mengajukan kritik terhadap narasi Marianne akan Allah.

Kajian ini menawarkan pandangan yang segar akan teologi Marianne Katoppo sebagai kisah akan Allah kepada khalayak pembaca. Kesegarannya akan terasa jika khalayak pembaca perhatian pada teologinya yang berangkat dari kisah-kisah para liyan Kristiani Asia. Ia mencoba untuk mengembalikan bahasa teologi sebagai sarana untuk pembebasan manusia. Pembacaan sepihak terhadap karya-karyanya seringkali akibatnya kesalahpahaman entah terhadap proyek sastra atau teologinya. Setelah menziarahi tulisan-tulisan Marianne, saya mohon izin kepada khalayak pembaca untuk memandang diri sebagai saudara mudanya dalam komunitas teologi Indonesia. Membaca Compassionate and Freekembali bahkan setelah dua puluh delapan tahun setelah penerbitannya, saya masih dapat merasakan panggilannyauntuk menyertakan pengalaman perempuan dalam refleksi teologi dan penafsiran Kitab Suci. Pada bagian sebelumnya, saya sengaja memperlihatkan diskusi panjangnya mengenai bahasa teologi karena bahasa sebelumnya menjadi alat penindasan terhadap kaum perempuan. Dalam Pengantar baru untuk terjemahan Indonesia dari Compassionate and Free, Marianne mengingatkan pembaca bahwa teologinya sekaligus rangkaian kata dan praksis pembebasan.[45]

Katoppo mengenangkan suatu pertemuan teologi ketika para pejabat gereja berbagi tanggung jawab mencuci piring dengan yang lain setelah santap makan. Ia menghargai Aloysius Pieris dan Tissa Balasuriya sebagai dua teolog laki-laki Asia masyur yang bergabung dalam perjuangan dengan para perempuan Asia untuk pembebasan perempuan. Ia menggarisbawahi pernyataan Tissa Balasuriya mengenai gerakan emansipasi kaum perempuan yang

has emerged and developed without much direct support from the churches. The churches have tended to be the last refuge of male dominance. They have given male chauvinism not only a practical expression, but also a theological and even a quasi-divine legitimacy. The Catholic church, once again, can claim to be the most rigid and uncompromising in this respect too.[46]

Rekan-rekan teolog laki-laki lain semula mengira feminisme sebagai isu yang terbatas untuk para perempuan kelas menengah di Dunia Pertama. Pada fase awal membangun teologi perempuan Asia, para teolog perempuan Asia mengambil jarak dari para teolog perempuan Dunia Pertama dan para teolog laki-laki Dunia Ketiga dalam mendefinisikan teologi.[47]

Teologi, bagi Marianne Katoppo, sebagaimana saya membaca karya-karyanya, merupakan perjuangan terus-menerus untuk mengungkapkan gagasan-gagasan dan cita-citanya. Menuliskan Compassionate and Freesebelum peristiwa “irruption within the irruption” ini, khalayak pembaca dapat membayangkan kerja keras Marianne Katoppo mendefinisikan teologi yang di satu sisi dapat mengungkapkan cita-cita dan gagasan-gagasannya, dan di sisi lain para rekan teolog lain dapat menerimanya tanpa keberatan.Ecumenical Association of Third World Theologians (EATWOT) bahkan telah menjadi ruang pergumulan bagi Marianne Katoppo untuk mendaku kembali suaranya untuk berteologi sebagai seorang perempuan Kristiani Asia. Selama pertemuan mengenai “Irruption of the Third World” yang penyelenggarannya di New Delhi pada tahun 1981, Katoppo memohon kepada peserta pertemuan untuk menggunakan bahasa inklusif untuk Allah dan dihadapan Allah. Pernyataan Mercy Amba Oduyoye menyoroti pentingnya mendengarkan usulan Marianne.

It sounded like a joke to some when Marianne Katoppo of Indonesia . . . called the attention of the session to the necessity to watch our language about God and before God. It was not intended as comic relief; it was the irruption within the irruption, trumpeting the existence of some other hurts, spotlighting women's marginalization from the theological enterprise and indeed from decision-making in the churches.[48]

Ketika mereka bertemu kembali pada 1983, para teolog perempuan Asia berhasil meyakinkan peserta perempuan mengenai peran istimewanya. Marianne Katoppo berbagi persahabatan dengan Tissa Balasuriya, Aloysius Pieris, dan Choan-Seng Song, yang telah menginspirasinya dan menjadi rekan kerja untuk memperjuangkan pembebasan.[49]Ekumene akademik ini, sebagaimana saya menamainya, seringkali memerlukan kerendahanhati untuk saling belajar antarteolog dari berbagi bagian dunia. “Marianne’s thought is ahead of the time of many Indonesians. Many of us who have struggled to liberate Indonesian women owe debt to her struggle,” tutur Siti Musdah Mulia, direktur International Conference on Religion and Peace (ICRP).[50]Para teolog Asia juga mengalami orang para teolog lain menyalahtafsirkan dan bahkan mencelanya.  Pembicaraan bab ini menghantar saya untuk mendiskusikan pendefinisian kembali teologi oleh Choan-Seng Song, yang mengajukan teologi kisah dan menerima pengakuan internasional pada bab berikutnya.

[1] Pusat Data dan Analisa TEMPO 1985-6.

[2] Marianne Katoppo, Compassionate and Free, vi.

[3] Marianne Katoppo, xvii.

[4] Chung Hyun Kyung, Struggle to be the Sun Again: Introducing Asian Women’s Theology, 6th Edition (Maryknoll, NY: Orbis Books, 1994), 101; Kwok Pui-lan, Introducing Asian Feminist Theology, 25-6.

[5] Kwok Pui-lan, Introducing Asian Feminist Theology (Sheffield, England: Sheffield Academic Press, 2000), 66.

[6] See Kwok Pui-lan, Introducing Asian Feminist Theology, 26.

[7] Marianne Katoppo, Compassionate and Free, 40.

[8] Marianne Katoppo, 9.

[9] Virginia Fabella and Mery Amba Oduyoye, “Introduction,” in With Passion and Compassion: Third World Women Doing Theology, ed. Virginia Fabella and Mery Amba Oduyoye (Maryknoll, N.Y.: Orbis Books, 1988), ix.

[10] Gustavo Gutierrez, A Theology of Liberation: History, Politics, and Salvation, Translated and Edited by Sister Caridad Inda and John Eagleson (Maryknoll, NY: Orbis Books, 1973), 18.

[11] Elsa Tamez, “Reading the Bible under a Sky without Stars”, in The Bible in the World Context: an Experiment in Contextual Hermeneutics, Edited by Walter Dietrich & Ulrich Luz (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans, 2002), 4.

[12] María Pilar Aquino, Our Cry for Life, 138.

[13] Marianne Katoppo, Raumanen, 91.

[14] Choan-Seng Song, Third-Eye Theology, 128; Marianne Katoppo, Compassionate and Free, 115.

[15] Choang-Seng Song, 137.

[16] Marianne Katoppo, Compassionate and Free, 95-6.

[17] Elsa Tamez,“Reading the Bible under a Sky without a Star,” 6.

[18] Kwok Pui-lan, “God Weeps with Our Pain” in EAJT/2:2/84, 1.

[19] María Pilar Aquino, Our Cry for Life: Feminist Theology from Latin America, 2nd Edition, Translated from the Spanish by Dinah Livingstone (Maryknoll, NY: Orbis Books, 1994), 36.

[20] Laurel E. Fay, Shostakovich:A Life (New York, NY: Oxford University Press, 2000), 167.177-9. 268; David Fanning, Ed., Shostakovich Studies, Reprinted (New York, NY: Cambridge University Press, 2007), 6-7.

[21] Marianne Katoppo, Raumanen, 92.

[22] Marianne Katoppo, Compassionate and Free, 113.

[23] Marianne Katoppo, “Perjalanan,” Antologi Cerita Pendek Wanita Cerpenis Indonesia, ed. Koririe Layun Rampan, with introduction Sapardi Djoko Damono (Yogyakarta: Bentang Budaya:Indonesia), 160-71.

[24] Marianne Katoppo, Compassionate and Free, 97.

[25] Marianne Katoppo, Compassionate and Free, 97.

[26] Marianne Katoppo, Terbangnya Punai, 66.

[27] Marianne Katoppo, Anggrek Tak Pernah Berdusta (Jakarta, JKT: Gaya Favorit Press, 1979), 8.

[28] Marianne Katoppo, Terbangnya Punai, 95.

[29] Katoppo, Compassionate and Free, 23. 26-8.

[30]Ibidem.

[31] Marianne Katoppo, 30.

[32] Marianne Katoppo, 33.

[33] Kwok Pui-lan, Introducing Asian Feminist Theology, 65-6.

[34] Katoppo, Compassionate and Free, 28.

[35] Katoppo, 40-1.

[36] Marianne Katoppo,  Compassionate and Free,  34.

[37] Marianne Katoppo, Terbangnya Punai, 73.

[38] Katoppo, Compassionate and Free, 12-3.

[39] Katoppo, 40.

[40] Marianne Katoppo, Compassionate and Free, 71-5.

[41] Elsa Tamez, 7-8.

[42] Marianne Katoppo, Compassionate and Free, xvii.

[43] Marianne Katoppo, Compassionate and Free, 1.

[44] Marianne Katoppo, 12.

[45] Marianne Katoppo, Compassionate and Free, xvii; Marianne Katoppo, “Veni Pater Pauperum,” dalamJournal of Theological Reflection 49 (1985), 20.

[46] Tissa Balasuriya, The Eucharist and Human Liberation (Maryknoll, NY: Orbis Books, 1979), 52.

[47]Sebagaimana dikutip dalam Rosemary Radford Ruether, “Liberation Theology and African Women’s Theologies,” dalamBlack Faith and Public Talk: Critical Essays on James H. Cone’s BlackTheology and Black Power (Waco, TX: Baylor University Press, 2007), 168; Mercy Amba Oduyoye, "Reflections from a Third World Woman's Perspective," dalamIrruption of the Third World: Challenge to Theology, Papers from the Fifth International Conference of the Ecumenical Association of Third World Theologians, August 17 19, 1981, New Delhi, India, ed. Virginia Fabella and Sergio Torres (Maryknoll, N.Y.: Orbis Books, 1983), 247 sebagaimana dikutip dalam Letty M. Russel, Church in the Round: Feminist Interpretation of the Church (Louisville, KY: Westminster John Knox Press, 1993), 30.

[48]Sebagaimana dikutip dari Letty M. Russel, Church in the Round (Louisville, KY: Westminster /John Knox Press, 1993), 30.

[49] Katoppo, Compassionate and Free, 113-5.

[50] Web Warouw, “Mengenang Marianne Katoppo: Tuntutan Reposisi Teologis Perempuan Asia” dalam Koran Sinar Harapan, 3 November 2007.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun