Mohon tunggu...
KOMENTAR
Lyfe

Pelajaran Hidup Dalam Film "Life of Pi"

26 November 2012   04:44 Diperbarui: 24 Juni 2015   20:40 1804 4
Kemarin (25/11/12) setelah mengantar dan menunggui Jaimee les anggar, saya tiba-tiba tidak punya acara sama sekali. Sepupu saya yang biasanya menyusul ke sekolah anggar sebelum kami pergi libur bersama, sehari sebelumnya memberitahu saya kalau dia harus pergi ke suatu tempat karena ada urusan.
Saya bingung juga mau kemana apalagi tidak ada janji dengan siapapun. OK, saya langsung memutuskan untuk menonton film saja. Kebetulan lokasi sekolah anggar Jaimee dekat dengan dua bioskop jadi langsung saja saya menuju ke UA Taikoo Shing Plaza.

Antrian pembelian tiket tak seramai biasanya, cenderung sepi malah. Tak lama kemudian, selembar tiket Life of Pi 3D sukses mengurangi isi dompet :)

Tak banyak yang saya ketahui tentang Life of Pi. Saya tahu film ini juga tanpa sengaja, ketika makan di McDonald's bersama sepupu, saya melihat trailernya di layar TV yang tersedia di sana. Kesan pertama tak begitu menggoda tapi penasaran juga setelah melihat penggalan-penggalan film yang diiklankan. Dalam hati saya bergumam, "Boleh juga. Nonton ah kalau keuangan agak lega."

Sambil menunggu waktu pemutaran saya memutuskan untuk makan siang dan windows-shopping di jajaran pertokoan di lantai bawah. Lumayan lapar mata karena melihat etalase penuh kamera besar dan kecil, dari point to shoot sampai DSLR seharga sebuah mobil, belum lagi lensa dan aksesoris fotografi lainnya.

Ok, saya mau berhenti sampai di situ saja sebelum saya bercerita, eh tepatnya mengeluh dan membuat Anda sebal mendengar bagaimana iman saya goyah melihat pemandangan surga (baca : separuh toko terpajang gear berbagai merk kamera)

Kembali ke film, setelah menunggu agak lama dan waktu tayang agak molor dari jadwal, penonton dipersilakan memasuki house 6 dimana film diputar.
Film dimulai dengan percakapan seorang novelis dan seorang pria India setengah baya yang pada awalnya membuat saya bingung siapa dia. Beberapa menit pertama menceritakan bagaimana si pria India diberi nama "Pi" dan seperti tipikal orang India (menurut saya), pria tersebut tidak menjawab to the point malah mendongeng panjang lebar.

Singkatnya, pria India yang akhirnya saya ketahui bernama Pi (sang tokoh utama) mendapatkan namanya dari nama sebuah kolam renang di Prancis dimana pamannya terpesona dengan suasananya lalu memutuskan memberi nama keponakannya sesuai nama kolam renang tersebut.

Dan voila… sang keponakan diberi nama Piscine Moletor Patel. Cerita berlanjut dimana di sekolahnya, nama Piscine diplesetkan menjadi "Pissing" dan jadi olok-olokan teman sekolahnya. Sampai suatu hari, Piscine di sekolah barunya mendahului memperkenalkan diri di muka kelas, dengan cara yang unik sebelum guru-gurunya mengabsen namanya.

Beberapa kali dicoba tapi usahanya kurang berhasil dan dia tetap jadi bahan tertawaan teman-teman sekelasnya hingga suatu ketika, di kelas Matematika, dia membuat teman satu sekolahnya terpana ketika dia memperkenalkan namanya sebagai "Pi" dan berhasil menuliskan tiap digit dalam pi yang biasanya hanya ditulis 3.14 saja.

Film ini alurnya agak membosankan tapi terkadang loncatan-loncatan dalam cerita membuat emosi teraduk-aduk. Seringkali saya terdiam menahan haru, sedih, cemas walau baru saja terpingkal-pingkal melihat tingkah Pi kecil. Terutama cerita masa kecilnya yang menceritakan perjalanannya menemukan Tuhan.

Semua agama dicobanya, semua agama dipeluk dan diamalkan yang akhirnya membuat penonton terpingkal-pingkal melihat Pi pergi ke gereja tapi juga mengerjakan sholat di rumah tapi tetap menjadi orang Hindu pada saat bersamaan. Adegan makan bersama yang membuat tersenyum simpul karena lamanya Pi berdoa sebelum makan, maklum dia berdoa 3 kali menurut 3 agama yang sedang dianutnya.

Cerita berlanjut dimana ayah Pi memberitahu kalau mereka sekeluarga beserta binatang-binatang milik mereka ke Kanada. Saya lupa bercerita bahwa keluarga Pi mengelola sebuah kebun binatang peninggalan orang Prancis di atas tanah pemerintah yang akhirnya diminta kembali oleh pemerintah yang memaksa keluarga Pi harus pindah.

Di tengah suasana serius membicarakan kepindahan mereka diibaratkan petualangan Columbus menemukan benua Amerika dan Pi menimpali dengan lucu, "But Columbus was looking for India." karena Pi tidak mau meninggalkan India.

Tapi mau tidak mau mereka harus pergi juga karena segala surat dan keperluan migrasi sudah dipersiapkan ayah Pi.

Pelajaran hidup pun dimulai ketika kapal yang mereka tumpangi diserang badai dan akhirnya karam di perairan Marina Trench (palung terdalam di dunia). Hanya Pi yang selamat ketika kapal sekoci jatuh ditimpa seekor zebra lalu di tengah badai, Pi menyelamatkan "seseorang". Ternyata "seseorang" tersebut adalah harimau Bengali milik keluarganya yang bernama Richard Parker.

Dapat dibayangkan reaksi Pi ketika tahu apa yang baru saja diselamatkannya. Setelah hari terang dan badai mulai reda, Pi tambah terkejut karena ternyata masih ada seekor Hyenna (hewan dari Afrika yang mirip anjing, suaranya mirip orang tertawa dan pemakan bangkai). Lalu terlihat di kejauhan seekor Orangutan bernama Orange Juice yang juga milik ayah Pi, duduk terapung di atas jaring berisi bertandan-tandan pisang.

Hyenna di atas sekoci adalah mimpi buruk karena dia membunuh satu per satu binatang di atas sekoci, pertama zebra lalu orangutan. Lalu Richard Parker muncul dan membunuh hyenna. Terdengar suara tangis melengking seorang anak kecil dari deretan bangku tepat di belakang saya. Proses seleksi alam yang terpampang di layar rupanya terlalu mengerikan untuk ukuran anak-anak.

Setelah itu adegan demi adegan diisi dengan perjuangan Pi hidup di tengah laut bersama seekor harimau yang kapan saja bisa memangsanya jika dia lengah. Sampai di titik dimana Pi berhasil membuat Richard Parker, sang harimau menurut padanya.

Ada bagian-bagian film dimana Pi sangat putus asa karena selain kehilangan keluarganya dalam sekejap mata, dia sekarang juga sendirian di tengah samudra hanya berteman Richard Parker.

Banyak yang ditemui Pi sepanjang perjalanannya mempertahankan nyawa. Malam yang bertabur bintang dengan laut penuh ubur-ubur yang bercahaya serta makhluk-makhluk mikroskopis yang juga bercahaya. Indahnya fajar merekah di tengah laut tenang juga pemandangan luar biasa ketika matahari perlahan terlelap di peraduannya. Secercah pelangi di antara awan hitam yang bergulung setelah badai mereda seakan memberi harapan bahwa selalu saja ada hal indah terselip dalam kesulitan dan kesusahan hidup.

Hal menakjubkan dan tak paling tak masuk akal adalah ketika Pi menemukan sebuah pulau hijau tak berpantai yang berisi pepohonan seperti bakau yang akarnya bisa dimakan. Di sana Pi dan Richard Parker bertemu ribuan atau bahkan ratusan ribu Meerkat (hewan khas Afrika yang mirip tupai yang hidupnya berkelompok).

Di sana Pi menemukan banyak kolam air tawar lalu memutuskan menginap di pulau tersebut.

Tak dinyana ketika malam tiba, pulau yang serupa surga di siang hari berubah jadi neraka di malam hari karena entah kenapa, pulau tersebut mengeluarkan asam yang melumerkan segala makhluk hidup yang ada di sekitarnya. Hal itu memberikan jawaban kepada Pi kenapa Richard Parker memilih kembali ke kapal sekoci ketika malam menjelang dan kenapa ratusan ribu meerkat berebut tempat di atas pohon untuk tidur. Sedikit info tentang meerkat, mereka hewan sosial yang hidup berkelompok dan membuat sarang di bawah tanah jadi meerkat tidur di pohon merupakan sebuah kejanggalan.

Keesokan harinya, Pi mengumpulkan makanan sebanyak-banyaknya, air tawar sebanyak-banyaknya dan tak lupa membawa serta Richard Parker untuk kembali berlayar sebelum mereka dimangsa pulau aneh di tengah laut.
Setelah hampir habis harapan Pi untuk hidup, kapal sekoci yang mereka tumpangi terdampar di teluk Meksiko dimana kebersamaan Pi dan Richard Parker berakhir karena Richard Parker memilih untuk masuk hutan dan meninggalkan Pi yang pingsan karena kehabisan tenaga sampai akhirnya Pi ditemukan para nelayan dan dibawa ke kota untuk di rawat.

Sampai di situ yang saya ingat karena saya tertidur hahahaha dan bangun sesaat sebelum film berakhir yang memperlihatkan keluarga Pi, istri dan 2 anaknya.

Konklusi dari film menurut saya adalah panjangnya perjalanan seorang Pi dalam menemukan Tuhan. Kehilangan segalanya, kesendirian, perjuangan untuk hidup, kepandaian untuk bertahan hidup yang didapat karena terpaksa. Benar-benar murni berisi the power of kepepet dan naluri bertahan hidup. Ada satu kalimat yang masih terngiang di telinga saya, "God is always there for you even if it seems that He abandons you and doesn't care about you. He's always there watching."
.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun