Mohon tunggu...
KOMENTAR
Puisi Pilihan

Puisi | Kota yang Jalang

21 November 2018   22:22 Diperbarui: 21 November 2018   22:32 214 5
Kali ini. Di sore yang berjejal-jejal. Kota besar ini mendadak binal.

Disusupkannya cerita tak senonoh di gawai bapak yang sedang tekun menjelajahi pasar bursa. Bapak itu langsung menutup pasar bursanya.
Disisipkannya gambar nyaris telanjang di gawai seorang anak sekolah yang sedang belajar persamaan matematika. Kontan anak itu membuang aplikasi matematikanya.

Sore yang pejal memasuki malam yang gatal.

barisan paha mulus terpajang halus. Di stasiun dan halte yang sedang sibuk mendandani dirinya dengan pelajaran tentang akhlak. Sebagian besar pandangan mata lantas menunduk. Agar tepat sasaran. Tidak kehilangan manisnya penglihatan.

Peradaban cukup brutal untuk mengajarkan banyak hal nakal.

tidak lagi memandang usia. Karena peradaban sudah demikian renta. Terbungkuk-bungkuk. Terbatuk-batuk. Menunggu ajal datang. Tapi justru malah semakin jalang.


Jakarta, 21 Nopember 2018

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun