Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud Pilihan

Mentok Pun Jadi Masalah

19 Juli 2022   13:28 Diperbarui: 19 Juli 2022   13:32 288 3


Kisah ini terjadi saat saya dan keluarga merantau ke salah satu desa di Oku Selatan tahun 2016. Saat itu kami mengontrak di sebuah bedeng. Keputusan mengontrak itu kami ambil karena tidak ada pilihan lain.

Memang ada satu kontrakan yang dekat dengan tempat kerja suami saya bahkan kami sudah memberi DP sebagai tanda jadi. Namun, kami membatalkannya setelah melihat foto mbak Kuntilanak yang tersenyum dari balik jendela rumah.  

Untuk sementara, suami saya harus melaju menembus dinginnya udara dan sepinya jalan. Namun, seiring waktu, saya kasihan melihat kondisi fisiknya. Hampir setiap hari dia  batuk dan masuk angin.

Suatu ketika, setelah pulang kerja dan sambil menyantap makan siang, suami saya memulai bercerita. Dia bercerita kalau sebelum naik gunung (sampai di tempat kerja), dia telah menabrak seekor mentok (sejenis unggas yang mirip bebek, yang tubuhnya sedikit lebar dan lehernya pendek) di jalan. Akibat tabrakan itu, perjalanannya menjadi terhambat.

Dia harus menyelesaikan permasalahan itu. Ternyata,  menabrak mentok di sini bisa menjadi masalah besar. Meskipun suami saya sudah meminta maaf dan bersedia membeli mentok yang ditabrak, dia tetap berhadapan hukum ada di sana.

Beberapa warga termasuk pemilik mentok mengelilingi suami saya dan menjelaskan adat di desa bila ada yang menabrak hewan peliharaan mereka. Suami saya sama sekali tidak menyangka kalau menabrak mentok bisa membuat panjang urusan.

Setelah duduk bersama dengan warga setempat, mereka meminta denda dengan besarnya dan jauh dari batas wajar. Suami saya tidak menerimanya. Mentok yang ditabrak masih hidup meskipun keadaannya tidak baik-baik saja.  

Suami mencoba berdiplomasi dengan warga dan dia  hanya bisa memberikan sejumlah uang yang tidak banyak. Setelah mendengarkan penjelasan suami saya, para warga berpikir ulang untuk memberikan sanksi kepadanya. Akhirnya, setelah hampir 2 jam pembahasan, keputusan warga pun diambil. Mereka memaafkan dan segera menyembelih mentok tadi. Saya ikut menghela napas setelah tahu dia tidak jadi  mengeluarkan uang.

Dari kejadian itu, kami mendapatkan pelajaran yang berharga. Bahwa sebagai pendatang pun kami harus tahu bahwa ada hukum adat yang tidak bisa diremehkan. Bahwa merantau itu adalah soal memahami dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar, termasuk adat yang ada di daerah tersebut.

Hukum adat dilakukan bukan sembarang. Itu dibuat untuk menjaga kerukunan, kesatuan, dan keamanan warga di sana. Terbukti, hukum adatlah yang menjaga lingkungan dan masyarakat di sana. Tanpa hukum adat, saya yakin akan banyak kesewenangan terjadi.

Hukum adat menjadi filter bagi daerah untuk terus terjaga dengan kearifannya. Dia hadir menjadi pemersatu dan bukan untuk menyengsarakan warga. Oleh karena itu, menjaga hukum adat untuk terus berkelanjutan adalah keharusan warga dari generasi ke generasi berikutnya.


KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun