Mohon tunggu...
KOMENTAR
Cerpen Pilihan

Sepiring Kwetiau Goreng

9 April 2021   17:30 Diperbarui: 9 April 2021   17:35 218 23

Dia heran mengapa tiap kali pergi keluar untuk makan, aku selalu memesan kwetiau goreng.

"Emang nggak ada menu yang kamu suka selain itu? Ayolah, pesan yang lain!" katanya. Dia adalah suamiku. Terkadang dia mengatakan dengan lembut dan baik, namun tak jarang dia sewot.

Kesewotan akan terjadi ketika aku memesannya kala liburan di luar negeri. Dia mungkin kesal melihatku begitu antusias saat menemukan penjual kwetiau goreng yang enak di jalan.

"Mbok ya udah, cari makanan khas sini saja? Kwetiau dimana-mana ya sama! Nggak jauh bedalah..." katanya waktu itu.

Aku memang keras kepala. Melihat kwetiau di negeri orang justru semakin membuatku penasaran. Lain "tangan" tentu lain rasa. Beda daerah pastilah beda "gaya". Suamiku semakin pusing dengan tingkahku.

"Aduh, kamu ini benar-benar terobsesi! Jangan-jangan kamu sudah kelainan?!" katanya kepadaku. Sepertinya dia sudah kewalahan dengan "hobi"ku. Tapi aku bersyukur dia tetap sabar dan mau menungguku menghabiskan sepiring makanan surgaku itu.

"Aku sebenarnya senang melihatmu makan kwetiau. Aku pun jadi suka. Tapi sekali-kali gantilah menu dan seleramu, " pintanya padaku.

Entahlah, mungkin benar ada "kelainan" seperti yang dia bilang. Tapi harusnya dia bersyukur karena harga sepiring kwetiau ini lebih murah dibanding harga makanan di restoran yang sebenarnya hanya untuk sebuah gengsi.

Lama-lama suamiku sudah maklum dengan kebiasaanku. Sesekali masih protes, namun tak segencar biasanya.

"Biar cepat kaya, makannya kwetiau goreng aja ya? Sepiring berdua lagi, " candanya padaku. Akupun tertawa.

Sampai akhirnya, ketika aku dan dia pergi berdua terjadilah diskusi itu. Di sebuah restoran besar di tepi pantai. Sebenarnya kami napak tilas kali pertama berkencan.

Diiringi alunan musik lembut, dia membuka pembicaraan. "Beb, kulihat keluarga di Bandung nggak terlalu suka juga dengan kwetiau goreng. Kok kamu bisa gila sama kwetiau goreng sih?"

"Ya ampun... itu lagi dibahas? Namanya suka ya suka aja lah... Mama memang nggak suka. Dia lebih sering memasak masakan Sunda, " sahutku.

"Terus kok kamu suka? Gimana ceritanya?" tanyanya. Aku menarik nafas panjang.

"Kamu penasaran banget? Jangan-jangan kamu mulai jatuh cinta juga ya? Hahaha " jawabku sekenanya.

"Bukan. Aku tuh sebenarnya nggak masalah. Cuma heran kok bisa bertahun-tahun orang bisa suka makanan sampai segitunya. Apalagi sekarang sudah banyak makanan korea, jepang, atau apalah, " sahutnya.

"Lha selera itu nggak bisa dipaksa. Suka drakor kan nggak harus suka makanan korea!" jawabku mempertahankan pendapatku. Suamiku mulai sedikit berubah air mukanya.

"Aku juga heran, semua kwetiau goreng kamu suka. Mau yang disana-sini... Ala Pontianak, ala Jawa, ala Penang... Semua enak dan enak banget di lidahmu!" timpalnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Aku tersenyum karena memang benar adanya. "Ya namanya suka, samalah dengan orang yang suka petai atau jengkol. Kalau ditanya ya suka aja. Mau disambel, direndang, digulai, diapakan saja ya demen kalau memang hobi!"

Mungkin jawabanku tidak memuaskan. Dia bergumam. "Atauuuu... sebenarnya itu gara-gara mantanmu yang oriental itu? Ah, tahulah aku!" katanya dengan semburat cemburu. Aku terkejut mendengarnya. Segera saja kusahuti komentar ngawurnya.

"Ya nggak lah... nggak usah cemburu gitu? Hmm... kamu bener ingin tahu mengapa aku suka kwetiau goreng?" tanyaku lembut. Aku tahu dia sudah mulai naik emosinya. Tak disahuti pertanyaanku.

"Oke, akan kuceritakan mengapa aku bisa suka banget dengan kwetiau, " kataku memulai penjelasan.

Kujelaskan sedetil mungkin apa yang aku rasakan terhadap makanan ini. Aku katakan padanya bahwa setiap orang punya "comfort food" masing-masing. Jejak rasa yang dihadirkan oleh lidah pada tiap orang itu tak sama.

Kalau kamu sering melihat tayangan Street Food Asia, kamu akan tahu bahwa makanan tak hanya sesuatu yang dikunyah dan masuk ke tubuh untuk mengenyangkan. Makanan adalah gambaran budaya dan perjuangan hidup.

Aku ingat ada mbah Satinem, penjual lupis legendaris di Jogja. Ketika bercerita tentang lupis, aku melihat bahwa sebenarnya beliau menceritakan sejarah hidup dan perjuangannya.

Sejarah manis dan pahit bersama ibunya yang dikhianati bapaknya. Namun, justru dari situ beliau "menghidupkan" kembali semangat sang ibu yang dulunya berjualan lupis. Ya, itu yang setidaknya tercerna oleh otakku saat menonton film dokumenter itu.

Dari situ, aku bayangkan begini. Tubuh kita terdiri dari badan, jiwa, dan roh. Badan jasmani tentu akan merespon ketika makanan masuk. Namun, bagiku tak hanya sampai disitu. Ketika jiwaku membutuhkan kenyamanan dan ketenangan, jika waktunya tepat, makanan meninggalkan jejak rasa yang istimewa dalam diri.

"Kamu tahu, dulu aku pernah galau, kecewa, marah hingga aku tak tahu arah. Aku tak tahu bagaimana harus melangkah dan memaknai hidup. Di tengah pikiran yang berkecamuk hebat itu, aku akhirnya berhasil menyepi sendiri di tengah keramaian, " kataku pelan. Dia menyimak dengan serius.

"Tak sekali-dua kali aku melakukannya. Tiap hari Sabtu siang, aku menuju sebuah restoran mie di mall. Aku memesan sepiring kwetiau goreng ayam waktu itu. Minumnya es teh manis. Entahlah, tiap kali menyantapnya hatiku senang, " lanjutku.

"Berapa lama kamu kayak gitu? Sendirian?" tanyanya.

"Hmmm... hampir setahun. Ya sendirilah! Mungkin kamu akan bilang lebay. Tapi itulah pencarian jati diriku sendiri. Quarter-life crisis, maybe?

Tapi tahukah, ketika makanan itu kusuap kemudian masuk ke tubuhku, aku seolah mendapat kekuatan tak hanya secara fisik namun kekuatan hati, "

"Kamu sangat melankolis sekali! Drama atau kamu sengaja mendramatisir? Sesadis itu kah kegalauan masa mudamu? " sahutnya padaku. Aku menarik nafas panjang.

"Hmmm... bisa jadi. Bukankah kamu tahu aku bukan tipikal perempuan yang bisa drama? Katamu aku perempuan bodoh hihihihi

KEMBALI KE ARTIKEL