Mohon tunggu...
KOMENTAR
Cerpen

Ibuku Tidak Biasa

18 November 2020   06:00 Diperbarui: 18 November 2020   06:06 51 0

Ibuku adalah guru SD, ibuku mengajar orang lain disekolah namun juga tidak lupa mengajar anak-anaknya dirumah, ibuku pernah bercerita kepadaku tentang bagaimana dia bisa menjadi guru dan melahirkan tiga anaknya, sejak tamat sma ibu melanjutkan kebangku perkuliahan diploma 3, setelah tamat ibu menikah dengan bapakku lalu beberapa tahun ibu melahirkan 2 anak yang berselisih 4 tahun, 3 tahun setelah itu ibu melahirkanku setelah aku lahir ibu kembali melanjutkan bangku kuliah sarjana dikampus baru didesa bapakku, dan pada saat itu mungkin ada beberapa orang yang aneh melihat ibuku, setelah menyelesaikan sarjana 1, ibuku magang sebagai guru sementara di SD 05 kembang kerang, setelah satu tahun lebih magang dan aku sudah tumbuh besar, ibuku resmi menjadi guru tetap, bapakku pergi merantau entah kemana aku tidak tau saat itu, intinya bapak sedang mencari nafkah untuk kami. ibu adalah sosok yang aku kagumi, ibu mengurus tiga anak sementara sosok ayah merantau mencari nafkah di luar kota, sementara itu ibu dirumah mengajari aku suatu hal sebelum aku duduk dibangku SD, salah satunya adalah ibu mengajariku membaca dan menulis. aku kagum dengan ibu, ibu mampu membesarkan anak-anak seperti kami sendirian dan kadang dibantu oleh bibi-bibi kami atau adik tiri ibu, sosok ibu tidak pernah berubah sejak aku masih kanak-kanak, ibu selalu bilang untuk terus menuntut ilmu dengan rajin, sebelum aku duduk dibangku sekolah dasar aku sudah bisa membaca dan menulis dengan cukup. ibu menyerahkanku (mendaftarkanku) ke peantren tempat dimana anak-anak belajar mengaji, di pesantren kami diajari cara solat, rukun solat, cara baca qur'an dan banyak lagi, setelah pulang ngaji ibu dirumah selalu bertanya, "apa yang adek pelajari malam ini di pesantren" seru ibu, dengan mata membinar akupun menjawab, "kami diajari cara-cara solat bu" saut ku, ibu bertanya lagi "coba adek contohin, ibu ingin lihat". Akupun mempraktekkan nya dan ibu tersenyum melihatku. Ibu juga ibu banyak orang, setiap pagi ibu berangkat ke sekolah untuk mengajar sebagai guru,  seragam yang itu-itu saja, tas yang itu-itu saja, dan sepatu yang itu-itu saja menemaninya dalam memberi pengetahuan kepada murid-muridnya, sementara aku yang belum memasuki bangku sekolah hanya asik bermain dengan anak tetangga sampai waktu untuk ngaji tiba. Sebelum aku memasuki bangku sekolah dasar aku sudah bisa membaca dan menulis berkat ibu, Sangat jarang anak-anak didesaku bisa membaca dan menulis sebelum masuk bangku sekolah, karena pada saat aku kecil dulu, didesaku tidak ada sekolah seperti TK ataupun PAUD, TK dan PAUD biasanya ada diluar desaku yang kemungkinan hanya anak-anak dari kelas atas saja yang dapat sekolah di TK dan PAUD. Aku sendiri tidak memasuki sekolah TK atau PAUD, karena sekolah TK dan PAUD ku sudah ada dirumah bersama ibu. Pergi pagi pulang siang itulah ibu, lalu setelah aku memasuki bangku sekolah dasar ibu beberapa bulan sebelumnya sudah resmi menjadi guru tetap di SDN tempat dia magang atau ngejob dulu, yaitu SDN 05 KEMBANG KERANG, meski begitu tempatku sekolah dan tempat ibu mengajar berbeda, karena didesaku ada 2 sekolah dasar yang tidak terlalu jauh dari rumahku, ada SDN 01 dan SDN 05, aku dimasukkan ke SDN 01 oleh ibu sedangkan ibu mengajar di SDN 05 akupun bertanya pada ibu, "bu kenapa aku tidak sekolah ditempat ibu saja" tanyaku dengan polos, "adeeek, dimanapun tempat kita sekolah tidak masalah, yang masalah itu jika kita tidak sekolah" tutur ibu. Ketika aku masih anak-anak dulu, aku tidak begitu memahami maksud dari kata-kata ibu, namun setelah dewasa, sekarang aku baru memahami maksudnya, bahwa maksud ibu adalah, dimanapun tempat kita belajar tidak masalah yang menjadi masalah adalah jika kita tidak belajar, mungkin juga makna lainnya adalah untuk belajar kita tidak perlu bersekolah karena kita bisa belajar dimana saja, namun melalui sekolah kita memiliki rumah kedua sekaligus tempat belajar yang nyaman, dan juga sekolah bisa dimana saja, sekolah tidak hanya berupa tempat yang ada bangku dan papan tulisnya, kita bisa menjadikan tempat manapun sekolah kita, contohnya seperti kita sekolah pertama kita adalah ibu dan pada saat kita kecil dan diasuh oleh ibu, ibu lah sekolah kita sejak itu, karena pada dasarnya sekolah adalah tempat dimana kita bisa belajar. kekagumanku dengan ibu tidak berhenti sampai sekarang, kini aku sudah dewasa dan duduk dibangku kuliah dan dimasa pandemi ini kuliah sementara dilakukan dengan cara online atau dirumah saja, namun meski begitu ibu setiap hari tetap ke sekolah, aku tidak tahu untuk apa ibu ke sekolah dimasa pandemi ini, tapi setelah bertanya dan sering mengantar ibu ke sekolah aku mengerti, ternyata ibu sekarang menjadi bendahara sekaligus guru disekolah, yang aku kagumi setiap aku mengantar ibu kesekolah didepan gerbang sekolah aku melihat murid-muridnya lalu menyapa ibu, "assalamualaikum bu guru" seru mereka serempak, "waalaikumsalam" tutur ibu lalu murid-muridnya bergantian cium tangan ibu. Saat dewasa ini aku mulai berfikir bahwa ibu sangat berhasil mendidik murid-muridnya mungkin dari segi sopan santun, namun itu prestasi yang cukup bagus, karena banyak orang-orang pintar tapi sombong dan bahkan tidak sopan dan tidak menghormati orang yang lebih dewasa dari dia, yang utama itu adalah sopan santun dan ilmu lainnya akan menyusul. Murid-murid ibu tidak hanya sopan ketika disekolah saja, tapi ketika beberapa muridnya berpapasan dijalan atau dimanapun muridnya akan menyeru, "asalamualaikum bu guru" lalu ibu menjawab dan muridnya mencium tangan seperti biasa. Hal itulah saat ini membuatku berprasangka bahwa ibu bukan hanya ibuku tapi juga ibu orang lain yang kumaksud adalah murid-muridnya, tapi hal itu tidak membuatku cemburu karena ibu tetaplah ibuku, karena ibu disekolah hanya menjalankan tugasnya. sejak kecil setelah pulang habis mengajar disekolah, ibu menyempatkan waktunya sebentar untuk mengajariku membaca dan menulis, setelah aku bisa membaca dan menulis ibu juga mengajariku menghitung dan banyak hal lainnya, bahkan setiap aku dibangku sekolah baik itu bangku SD, MTS, MA dan bahkan saat ini dibangku kuliah, ibu selalu menaehatiku ketika aku salah lalu mengajariku mana yang benar.  Aku berterima kasih kepada ibu karena telah mengajariku banyak hal sebelum aku masuk ke bangku sekolah sampai aku masuk bangku sekolah, mulai dari membaca dan menulis dan juga mengajariku banyak pengetahuan lainnya, aku juga berterima kasih kepada ibu karena telah sabar mendidik banyak anak disekolah dan tiga anak dirumah, ibu kau memang sungguh pahlawan tanpa tanda jasa. ibu adalah sosok yang luar biasa dan tak akan ku lupakan apalagi sakiti hatinya, aku hanya berharap kepada ibu untuk tetap sabar mendidik dan mengajari kami sampai kami bisa membuatmu bangga suatu saat nanti.

KEMBALI KE ARTIKEL