Mohon tunggu...
KOMENTAR
Puisi Pilihan

Berjalan dengan Tenteram

12 November 2020   02:00 Diperbarui: 12 November 2020   02:14 194 47
Sungguh, dalam semesta yang perempuan itu miliki, perempuan itu sering berjalan angkuh. Menginginkan ladang-ladang kedurjanaan untuk menjadi bagian dalam dirinya. Merancang malepetaka yang bisa dia nikmati. Dan hal itu adalah waktu yang mencelakakan baginya.

Bagaimana pun, perempuan itu sadar telah dihancurkanluluhkan kehampaan. Kelayuan sudah menawan hatinya. Noda susah menimpa dirinya. Dia sering mereka-reka yang hampa dan kosong. Ratapan pun menjadi kepala barisan dalam perjalanannya. Dunia perempuan itu menjadi bukit yang berhutan.

Dan risalah perempuan itu berubah, pada hari itu saat tengah malam ada suara yang memperdengarkan suaranya dengan jelas. Ini waktu perhentian baginya. Dengan sungguh-sungguh perempuan itu ingin berbalik dari kenajisan yang sudah dia lakukan. Dia tidak ingin menerima dan mengalami kebinasaan yang tidak terpulihkan.

Dengan sungguh-sungguh pula perempuan itu akan menghimpunkan sisa waktu yang masih dia miliki untuk manabur sesuatu yang benar kelakuannya. Hingga dia bisa kembali berjalan dengan tenteram.

Tak ingin lagi perempuan itu mencintai kejahatan. Benar, dia pernah bahkan seringkali menyesatkan hatinya sendiri. Terbenam oleh kesuraman hidup. Tidak menerima kenyataan bahwa hidup penuh ketidakadilan.

Untuk menyembunyikan ketidakpenerimaan perempuan itu, dia merelakan diri mencicipi bahkan mengunyah dosa. Pada waktu senggang yang dia lalui, sering dirinya membengkokkan yang lurus. Ah, banyak kepayahan dan kelaliman yang perempuan itu timbun.

Dan sudah selayaknya perempuan itu mengetahui keharusan yang benar. Menerima dengan sadar dan seutuhnya, suara yang dia dengarkan pada hari itu. Dan tidak akan datang malepetaka menimpa dia, tidak dibajak seperti ladang. Perempuan itu sungguh ingin berbenah, dan benar-benar berharap mampu menjadi perempuan yang tidak lagi payah di sisa waktu di perjalanan hidup yang masih dia miliki.

Dan saat kebahagiaan dan keadilan hidup menyembunyikan wajahnya terhadap perempuan itu, biarlah perempuan itu tidak menyayangi lagi waktu kebodohan. Dan tidak lagi terangkum oleh arus air kedegilan, dan penerimaan hidup bukan suatu hal yang menjadi kesenjangan bagi perempuan itu.

Namun perempuan itu tetap mampu berjalan dengan tenteram.

***
Rantauprapat, 12 November 2020
Lusy Mariana Pasaribu

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun