Mohon tunggu...
KOMENTAR
Puisi

Puisi | Waktuku

9 Mei 2019   18:58 Diperbarui: 9 Mei 2019   19:10 86 3

Waktu terus berjalan dengan kemampuannya.
Tidak ada yang salah dengan itu.
Waktu terus berjalan beriringan detik, menit dan jamnya.
Dan memang begitulah waktu.

Waktu, mengapa kau begitu egois?
Membiarkan semua melihatmu.
Waktu, mengapa kau begitu egois?
Membiarkan semua tidak melihatmu.

Apa yang harus kuingat saat detikmu berlari?
Apa yang harus kulihat saat menitmu berjalan cepat?
Apa yang tersisa untuk kunikmati saat jammu telah berpindah?

Waktu, aku ingin menyebutmu dengan waktu.
Aku tidak memintamu untuk suka atau tidak suka, mengapa aku memilih kata itu.
Biarkan aku yang mencoba menjabarkanmu.
Dan keegoisanmu. Hai kau siwaktu

Tahun-tahun telah berlalu.
Aku masih disini bersamamu.
Memandangimu dari segala sudut mampuku.
Aku bebas mengartikan semua yang ada padamu.
Aku begitu yakin disetiap seginya adalah aku.

Waktu kau begitu egois.
Kau membiarkan semua melihatmu.
Seperti yang kukatakan diawal.
Kau membiarkan bukan saja hanya aku.
Tetapi semua mahkluk ciptaan penciptamu.

Kau membiarkan dunia melihatmu.
Entah dari segi manamu.
Pernah dunia kagum melihatmu.
Wahai kau waktuku.
Dan saat-saat seperti itu.
Aku merasa tak memilikimu.

Waktuku, kita telah lama bersama.
Bahkan disetiap waktuku.
Tidak dapat kuingat berapa kali kau bersamaku.
Dan berapa kali kau bersama-sama denganku.

Kita menghabiskan banyak waktu.
Untuk banyak hal yang memegahkanmu.
Dan banyak hal yang menciutkanku.
Untuk banyak hal yang membangunmu.
Dan banyak hal yang coba meruntuhkanku.
Dan hal itu terjadi begitu saja.

Aku tidak tahu apakah itu kerjasamamu
Dengan dunia ini.
Atau kerjasama dunia ini denganku.
Sebab hal itu terjadi bergantian.

KEMBALI KE ARTIKEL