Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud

Merawat Kebhinnekaan Ala Kaum Muda

27 Februari 2020   22:47 Diperbarui: 27 Februari 2020   22:54 7 2


Di hari pertama, Festival diadakan di Griya GusDur Jakarta Pusat dengan dipandu oleh MC Ellisa Koorag, seorang blogger dan penggerak sosial. Sebagai kreator acara, Ira Lathief pun memberi sambutan. Dan yang paling istimewa di mata saya adalah kehadira perwakilan dari enam organisasi agama terdaftar dan tiga agama yang belum terdaftar di Indonesia yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, Ahmadiyah, Syiah dan Buddha Kasogatan. Selain itu, hadir pula perwakilan dari organusasi agama dunia yaitu Gereja Ortodox, Bahai, Sikh dan Yahudi. Hadir juga perwakilan dari organisasi penghayat kepercayaan di Indonesia yaitu, Budidaya, Perjalanan, Sunda Wiwitan dan Kepribaden. Kami semua dipertemukan dengan hangat pada sesi Millenial Talks.
 
Sungguh ketika mereka menjelaskan apa nilai dibalik agama dan kepercayaan mereka saya menemukan banyak kesamaan di antara kami semua. Betapa semua ajaran itu hanya menanamkan kebaikan. Setiap agama punya problemnya dan persinggungan antar umatnya sendiri. Sayangnya, hal ini seringkali dipelintir oknum yang membuat kesan pertikaian itu seperti antar agama. Beberapa kali saya membaca berita ketakutan komunitas muslim di beberapa daerah jika ada gereja dibangun di daerahnya akan menarik umat Muslim ke agama Kristen. Padahal, menurut Isac Abimanyu dari perwakilan Kristen Protestan, setiap gereja punya kekhususan jemaatnya sendiri dan kepentingan jemaat yang berbeda membuat jemaat gereja memisahkan diri dan membentuk gereja baru. Jadi kalau ada gereja baru yang dibangun bukan umat agama lain yang harus takut umatnya ditarik tapi gereja lainlah yang harus takut jemaatnya berpindah. Penjelasan ini pun disambut tawa peserta yang hadir. Padahal, kita selama ini begitu tegang karena sering terpancing isu negatif.
 
Agama Buddha dan Hindu adalah dua agama yang lebih awal dianut oleh leluhur bangsa kita bahkan kata "Bhinneka Tunggal Ika" diambil dari salah satu kitab suci agama Buddha. Kini di Indonesia Islamlah agama mayoritas diikuti Kristen, Katolik, Hindu dan Budha. Di negara lain komposisi ini tentu berbeda-beda. Jadi, label mayoritas dan minoritas tidaklah saklek. Mayoritas bisa jadi minoritas dan begitupun sebaliknya. Dimanapun kita berada prinsip yang dijaga harusnya sama, mayoritas menghormati minoritas dan minoritas merangkul mayoritas. Semua harus dibangun atas rasa saling percaya dan tepa selira. Kasih sayang sesama manusialah yang menjadi ruh ini semua.

KEMBALI KE ARTIKEL