Mohon tunggu...
KOMENTAR
Filsafat

Lingkaran Setan Atas Nama Agama?

8 Desember 2009   22:38 Diperbarui: 26 Juni 2015   19:01 784 0
[caption id="attachment_35364" align="alignleft" width="128" caption="Tangga Kemana atau Sudah Dimana? - Ilustrasi"][/caption] Saya sering membayangkan sebagai sebuah usaha untuk menaiki sebuah anak tangga ketika saya berusaha untuk meningkatkan kualitas iman dan takwa saya. Tingkatan keimanan saya ditentukan oleh pada tingkatan mana anak tangga yang sudah saya jejaki. Atau jikalau digambarkan di dalam grafik sumbu x terhadap y, apakah fungsi/grafik yang tergambarkan sesuai dengan variable waktu (x) menunjukkan kecenderungan naik. Sebuah ukuran pertama yang biasa dipakai adalah apakah saya sudah melakukan kewajiban keagamaan saya, atau apakah masih ada bolong-bolongnya atau apakah saya bisa konsisten menjaga kinerja saya di dalam melaksanakan kewajiban keagamaan saya. Ketika sudah tercapai, maka ekstasi berikutnya adalah menaikkan derajat pencapaian dari syariat agama tersebut sampai kepada tingkatan yang lebih tinggi bahkan ekstrim (dan yang utopis), karena di dalam pemahaman ini ukuran pencapaian keimanan dan ketakwaan saya ditentukan bagaimana tingkat prestasi yang sudah dicapai.

Kedua adalah bagaimana keterlibatan saya di dalam kegiatan-kegiatan yang ber-atas nama agama atau Tuhan yang telah saya lakukan. Prestasi sebagai aktivis di dalam berbagai kegiatan atau organisasi keagamaan yang saya lakukan menjadi sebuah ukura dan kebanggaan tersendiri bagi saya sehingga hal ini memberi dampak kepada meningkatnya keimanan dan ketakwaan saya. Keterlibatan saya sebagai aktivis di kelompok tersebut menjadi dasar tingkatan keberagamaan yang saya hidupi. Sehingga muncullah banyak aktivis di banyak tempat sebagai wadah untuk menyalurkan hasrat keberagamaan tersebut.

Ketiga adalah bagaimana prestasi saya di dalam mengkompensasi perbuatan dosa saya yang pernah saya lakukan dengan perbuatan-perbuatan baikyang bisa saya lakukan sebagai gantinya. Sebagai kompensasi hal-hal yang tidak bermoral atau yang dilarang oleh agama, maka kemudian muncul sebuah respon untuk mengimbanginya dengan kegiatan-kegiatan baik yang dianjurkan oleh agama. Sehingga bisa jadi orang-orang tiba-tiba melakukan sesuatu yang sangat berbeda dengan keadaan sebelummya. Kepuasaan atas usaha kompensasi itu muncul,misalnya ketika nama saya disebut sebagai orang yang baik, dermawan dan sosial, serta sebagai pendukung atau penyumbang di dalam berbagai kegiatan keagamaan, atau malah sebagai aktivis pembela dari kegiatan keagamaan yang diikutinya. Dan kegiatan tersebut sangatlah menarik publisitas tersendiri, sehingga menaikkan posisi kita di mata kelompoknya atau masyarakat sehingga mengubah citra saya di mata masyarakat menjadi lebih baik.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun