Mohon tunggu...
KOMENTAR
Pendidikan Pilihan

Tetap Bisa Menulis Sekalipun Tanpa Memiliki Ide

16 Agustus 2020   05:13 Diperbarui: 16 Agustus 2020   05:08 84 10
[Catatan dari Buku A.S. Laksana, Creative Writing, bagian tiga dari tiga.]

Ide adalah nyawa sebuah tulisan. Hal paling dibutuhkan saat akan mengawali paragraf pertama adalah ide. Tapi mungkinkah kita menulis tanpa punya bekal ide sama sekali?

Kenapa tidak? Seperti kata mas Sulak, yang tidak bisa adalah menulis tanpa kemauan.

Tips dari mas Sulak adalah tulislah apa saja. Tulisan yang sangat random dan acak sekalipun, untuk sekedar memancing ide. Sebab siapapun juga tentunya tidak diam saja untuk menunggu didatangi ide yang luar biasa. Mereka, meskipun itu (mungkin) Mark Twain atau bahkan William Shakespeare juga mencari ide dari sesuatu disekitar mereka.

Apakah Newton mendapatkan ide tentang hukum gravitasi secara mendadak? Tiba-tiba ada rumus yang datang bagaikan ilham begitu saja ke kepalanya. Bukankah Newton menemukan inspirasi saat sedang berada dibawah sebuah pohon apel? Ada sesuatu yang memancing teori tentang hukum gravitasi itu bisa muncul. Ide Newton tidak datang tiba-tiba.

Melihat langit, atau membaca buku akan mendatangkan ide. Bahkan saat pena dan tuts keyboard asal bergerak saja, kita berusaha melahirkan kalimat apapun yang terlintas dalam kepala. Meskipun itu kata "tahi ayam" sekalipun. Mungkin tahi ayam bisa melahirkan sebuah ide yang luar biasa bila digali lebih dalam? Atau bahkan menghasilkan lelucon yang bikin orang lain jadi tertawa terbahak-bahak.

Kita bisa memancing ide dengan kata-kata yang tak ada hubungannya dengan apapun. Lalu selanjutnya adalah tugas pikiran untuk menemukan kesesuaian dan hal unik yang bisa saja mendadak muncul bagaikan kejutan. Kita tak pernah tahu, nantinya otak kita akan menemukan ide apa setelah kita memulai sesuatu. Yang kita tahu hanyalah mencoba.

Tipe yang demikian memang ada. Saya pernah membacanya dalam salah satu buku pak Bakdi Soemanto. Katanya ada orang yang memulai bikin lagu tanpa inspirasi. Namun mengawali dengan asal menekan tuts piano. Lalu dengan sendirinya lagu itu tiba-tiba jadi. Ada yang pertama melukis dengan goresan tanpa makna. Asal coret warna, lalu dari bentuk yang serampangan itu lama-lama jadilah sebuah gambar yang memiliki pola. Apakah itu ajaib?

"Ada pula pengarang yang memulai menulis bukan karena ada ide, gagasan, atau dorongan hati melainkan karena entah bagaimana, ia 'tiba-tiba' menggoreskan penanya, atau mengetik beberapa kata pada kertas atau pada layar monitor dan kemudian pengarang itu mengembangkannya. Dan jadilah kata-kata sebuah sajak, cerita pendek, atau bahkan novel." (Bakdi Soemanto dalam buku Sapardi Djoko Damono: Karya dan Dunianya.)

Yang memiliki kemauan kuat tentunya tak akan berhenti hanya karena masalah sepele, seperti tak punya ide. Kita bisa memancingnya. Seperti juga kata mas Sulak, perlu konsistensi jika sudah ada komitmen.

Seorang pengacara tidak akan berhenti jadi pengacara hanya karena tidak ada berkas di persidangan. Jika sedang ada kasus berat sekalipun juga dia tak akan berhenti jadi pengacara hanya sebab lampu-lampu di rumahnya mati, karena dia tak punya uang untuk bayar listrik. Apapun yang terjadi, dia tetaplah pengacara.

Mengapa harus melampiaskan kekesalan pada pekerjaan kita? Hanya karena banyak masalah, lalu enggan menulis. Hanya karena repot, lalu mengatakan tak sempat. Itu bukan sikap profesional seorang atlet bulutangkis (misalnya), hanya karena hal-hal sepele lalu tak sudi untuk latihan.

Kita cuma sekedar disibukkan dengan ragam alasan. Kita cuma mungkin sekedar terlalu malas, atau terlalu sungkan dan merasa putus asa untuk berjuang. Merasa enggan karena belum bisa menjiwai. Merasa letih karena tak kunjung menikmati.

Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, mengapa kita bisa tak merasa jemu dan selalu menemukan waktu hingga berjam-jam untuk melakukan hobi nonton film misalnya. Atau naik sepeda. Atau merias wajah. Bahkan bisa curi-curi waktu di halte sambil buka-buka Instagram sampai tak sadar ketinggalan bus. Tapi kadang tak bisa menyempatkan diri barang sepuluh menit setiap hari untuk sekedar menulis sesuatu? Itu jika anda bertanya masalah ide.

Kita bahkan bisa nulis sambil menonton televisi atau memasak. Seperti halnya kita sebenarnya bisa saja membalas chat dari seseorang yang bagi kita sangat penting, saat kita sedang sibuk-sibuknya melakukan sesuatu. Bahkan saat mengemudi mobil sekalipun. Bila kita menganggap nulis itu penting, kesibukan lain apapun akan ditinggal.

Beberapa dari kita sebenarnya sekedar tak menyempatkan diri. Alasan tak punya waktu atau tidak memiliki ide adalah alasan yang "tak logis". Jika tidak memiliki komputer atau laptop, kita masih punya ponsel. Jika ponsel juga tak punya, setidaknya kertas dan pena adalah hal yang saking murahnya bahkan hampir bisa ditemukan dimana saja.

Tak ada yang salah dengan orang lain yang demikian, sebab fitrah manusia kadang juga mudah merasa bosan. Sebenarnya kita hanya perlu mengurus diri kita masing-masing. Apakah sikap kita sudah benar?

***

Sekian...

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun