Mohon tunggu...
KOMENTAR
Catatan

Trauma Transjakarta

31 Juli 2012   06:19 Diperbarui: 25 Juni 2015   02:25 187 0

Tahun 2004, pertama kali aku memulai petualangan di Jakarta (tsaaah bahasanya).

Katanya berita-berita nih, Jakarta itu macet, rame dan banyak orang jahat (baca: tindakan kriminal). Memang sih sebagai pendatang dari kota Medan yang lumayan sante dan sepi (dulu, sekarang sih sama macetnya) aku mula-mula kaget saat jam 4 pagi di Jakarta orang-orang udah sibuk di jalanan. Sementara di Medan? Jangankan jam 4, jam 7 aja masih banyak yang tidur :D.

Tapi itu kan dulu. Tahun dimana transjakarta masih berupa jalur-jalur yang direncanakan.

Aku masih ingat banget saat aku, Riris dan Sutan jalan-jalan dari Gunung Sahari ke arah Gatot Subroto dan mereka berdua membincangkan tentang akan disediakannya bus transjakarta yang berada di jalur kanan. Aku sempat bingung juga membayangkannya, gimana cara naeknya ya kalo jalur di sebelah kanan?

Aku termasuk orang yang takut naik bis terutama bis besar atau bis semacam kopaja dan metro mini. Masalahnya di Jakarta ini, kita kudu cepat dan gesit saat mau naik bis. Pertama harus berani naik sambil lari, kedua harus berani gelantungan di bis (dan akhirnya aku berani juga pada suatu hari), ketiga, harus cepat mulai dari ngejar, naikin kaki kanan dan masuk plus duduk di dalam, Keempat saat turun bis harus dengan kaki kiri kalo gak mau jatoh dan juga kembali lagi harus cepat kalo gak mau disamber mobil atau motor di sebelah kiri.

Saat transjakarta mulai beroperasi (lupa tahun berapa), sepertinya memang cukup menjanjikan, bis besar, ada ACnya, bersih karena gak boleh makan di dalam, dan mungkin bebas copet. Tapi aku tetap belum berani nyobain. Sampai pada suatu waktu di tahun 2009 saat itu aku sedang sibuk mencari kerja lagi setelah sempat berhenti 5 bulan ikut suami ke Bangka. Gak punya duit buat bayar taksi kesana kemari buat interview, jadilah pilihan terakhir transjakarta karena tempatnya jauh-jauh dan gak tau deh mau naik bis atau mikrolet apa.

Perjalanan pertamaku dengan transjakarta adalah menuju Kelapa Gading. Setelah nanya-nanya beberapa teman yang pernah naik, katanya aku harus ke halte Rawa Buaya dan naik koridor 3.

Jadilah pagi itu aku berangkat naik angkot ke arah Cengkareng. Dan ternyata antrian karcisnya sungguh panjang sampai keluar-keluar dari halte. Untungnya aku udah siap-siapin waktu lebih pagi supaya gak telat. Akhirnya setelah ngantri 10 menit aku dapat juga tuh karcis seharga Rp. 3500. Murah kan buat sekali jalan ke Kelapa Gading yang jauh itu.

Setelah itu tahap kedua adalah ngantri masuk bis. Nah di sini aku punya pengalaman yang mengerikan. Saat ngantri di dalam itu cukup berdesak-desakan dan tibalah aku pas di depan pintu. Karena memang aku penakut jadi aku agak lama masuk bisnya karena nyari pegangan dulu. Jarak dari halte untuk naik ke bisnya cukup besar. Karena agak lama aku pun didorong-dorong dan hampir jatuh, untungnya petugas transjakarta langsung menangkap tanganku. Tapi tetep yaa aku ketakutan. Di dalam juga gak dapat duduk karena penuh, dan aku harus puas bergelantungan sampai di tujuan.

Saat menuju pulang, aku sempat takut mau naik transjakarta lagi. Tapi karena benar-benar buta jalur bis umum terpaksa aku harus kembali dengan transjakarta. Di halte ini (lupa namanya), ternyata lumayan sepi dan aku berhasil naik tanpa didorong-dorong plus dapat tempat duduk pula. Tapiii, bis transjakartanya Cuma sampai halte Harmoni dan di sana sudah penuh sekali dengan orang-orang yang ngantri mau naik bis kemana saja. Ada yang ke Blok M, ke Kali Deres, ke Kota dan lain-lain. Tentunya aku harus ngantri di Kali Deres. Tapi ya ampuun panjang banget antriannya. Kalau aku nunggu sambil duduk, aku gak bakalan dapat bisnya yang kebetulan armadanya dikit pula.

Akhirnya setelah ngantri setengah jam, aku menyerah dan keluar dari halte sebelum aku pingsan karena dehidrasi dan kelaparan (belom makan siang).Rasanya trauma mau naik bis ini lagi.

Sempat juga beberapa kali naik transjakarta setelah itu, tapi syukurnya gak harus ke jarak yang jauh-jauh macam Kelapa Gading. Dan kebetulan pas berangkat juga bukan di waktu pagi dan sore yang rame banget. Tapi setelah aku akhirnya kerja di daerah Bandengan Selatan, aku bisa berangkat kerja tanpa transjakarta. Naik mikrolet kecil yang cukup aman bahkan copetnya pun jarang. Dan setelah kantorku pindah, transportasi pilihan adalah ojek.

Aku sering dengar dan bahkan pernah lihat sendiri pengendara motor yang memang sering masuk jalur transjakarta, ditabrak oleh bis ini. Kebanyakan dari mereka tidak selamat. Jadi setiap kali naik ojek aku selalu wanti-wanti abangnya supaya jangan masuk jalur transjakarta.

Suatu hari pas pulang kantor, dengan jalur biasa yang aku lewati di jalan Panjang menuju Kedoya, abang ojekku udah bener belok kanan pas lampunya hijau, eh transjakarta yang dari arah belakang hampir saja menabrak kami. Untungnya saat itu sang abang ojek cukup sigap jadi aku dan motornya gak jatoh apalagi kesenggol. Sempat emosi juga sama si supir transjakarta karena jelas-jelas dia yang salah. Sepertinya banyak kecelakaan terjadi karena alasan ini, supir tidak bisa mengerem bis yang terlanjur lajunya kencang, sementara untuk jalan seperti Jalan Panjang di waktu sore tidak bisa dengan laju secepat itu mengingat banyak persimpangan yang bukan semata-mata lajurnya transjakarta.

Jadi traumaku tak hanya saat harus naik bis ini, tapi saat naik kendaraan lainpun rasanya takut dengan suara klaksonnya yang besar. Belum lagi kemacetan yang semakin parah yang timbul di jalanan kecil yang sebenarnya tak cocok dipasangi jalur bis ini. Sering timbul pertanyaan dalam pikiranku sebenarnya transjakarta sudah memberikan kontribusi untuk mengurangi kemacetan atau malah menambah kemacetan itu semakin parah?

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun