Mohon tunggu...
KOMENTAR
Money

Siapa pemenang Proyek Kereta Cepat (High Speed Train Project in Indonesia) Jakarta - Bandung: Jepang versus China

30 Agustus 2015   01:44 Diperbarui: 30 Agustus 2015   01:44 322 1
Persaingan antara Jepang dan China terkait dengan Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung semakin “memanas” atau dapat dikatakan mencapai “puncak”. Hal itu ditandai dengan adanya usulan tambahan proposal baru Jepang terhadap proposal studi kelayakan (feasibility study) yang telah diserahkan kepada Pemerintah Indonesia sebelumnya, yang disampaikan oleh Utusan Khusus Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe yaitu Hiroto Izumi dengan mengunjungi kantor Menko Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli pada hari Rabu, 26 Agustus 2015. Atas usulan terbaru Jepang tersebut, China tak mau kalah, selang 2 hari berikutnya tanggal 28 Agustus 2015, China mengirim utusannya yaitu Duta Besar China untuk Indonesia, Xie Feng dengan mengunjungi Kantor Menko Perekonomian guna bertemu dengan Menko Perekonomian, Darmin Nasution. Usai bertemu dengan Xie, Darmin menyampaikan kepada wartawan bahwa Xie (China) “meradang” dengan mengatakan kepada Darmin "We hope all sides will respect the rules set down by the Indonesian government. One feasibility study! No more!" and crossing his arms, yang artinya kira-kira demikian “Kami harap semua pihak akan menghormati aturan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia” (yang sudah pasti ungkapan tersebut ditujukan kepada pihak Jepang), dengan menyilangkan kedua tangannya.
Darmin menyampaikan kepada wartawan bahwa Xie Feng mengungkapkan kekecewaannya terhadap usulan baru Jepang tersebut dan menyebut tindakan Pemerintah Indonesia sebagai “unfair” (tidak adil). Atas respon China tersebut, agar tercipta prinsip keadilan (fairness), maka dengan cerdik Darmin berbalik menekankan kepada China, “Apakah China akan menyampaikan usulan tambahan proposal baru dalam studi kelayakan (feasibility study) seperti Jepang?”. Namun lanjut Darmin, China menolak tawaran tersebut seperti ditekankan oleh Xie dengan mengatakan “Saya optimis….”.
Dari jawaban Xie, China sepertinya meyakini akan menjadi pemenang dengan mengklaim 1) Kereta Cepat China dalam masa matang (matured high speed rail technology), dengan panjang rel kereta api 17.000 km (55% dari panjang rel sedunia) dan 2) tahun 2014, investasi non keuangan China mencapai USD1,50 milyar. Tahun 2020, diperkirakan nilai perdagangan Indonesia-China akan mencapai angka USD150 milyar dan investasi akan mencapai USD80 milyar (hubungan bilateral), 3) sumber devisa China banyak, terbukti dalam proposal tidak mensyaratkan adanya jaminan Pemerintah Indonesia (Viability Gap Funding/VGF). Namun demikian, peristiwa kecelakaan yang menimpa Kereta Cepat China (CRH2-139E) pada 24 Juli 2011 yang menewaskan 40 orang dan melukai 200 orang, menjadi “pertanyaan besar” bagi issue mutu (quality) dan standar keamanan (safety standard) Kereta Cepat China ini.
Sementara itu, Jepang dengan Shinkansen yang sejak tahun 1964 telah beroperasi dan belum pernah terjadi kecelakaan juga meyakini akan menjadi pemenang dengan pertimbangan 1) sudah berpengalaman sejak 1964, 2) saat ini Jepang merupakan pemberi pinjaman (kreditur) utama (kesatu) bagi Indonesia 3) unsur keamanan (safety), tidak ada angka kecelakaan Shinkansen sejak 1964 atau 50 tahun (seperti disampaikan oleh Wapres Jusuf Kalla beberapa waktu lalu).

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun