Mohon tunggu...
KOMENTAR
Nature Pilihan

Kejutaan Awal Tahun 2014

6 Januari 2014   11:04 Diperbarui: 24 Juni 2015   03:06 103 0
Sudah setahun ini saya mengkritisi LSM populer Greenpeace dengan akun twitter saya. Hampir tiap hari saya menyoal kampanye tentang rusaknya hutan Papua oleh Freeport di linimasa saya. Beberapa minggu belakangan ini (akhir 2013) saya tidak mendapati kicauan @greenpeaceID. Saya heran, lalu saya klik akun twitter @greenpeaceID, dan ternyata saya diblock oleh adminnya. Lucu... sedemikian mengiritasikah twitter saya sehingga saya diblock?

Baiklah, saya ceritakan muasalnya saya mulai mengkritisi LSM kaya dan populer ini. Asalnya adalah ketika ada wacana yang menggelitik saya, sebagai donatur dan partisipan greenpeace pada waktu itu, tentang aksi Greenpeace terhadap rusaknya alam Papua oleh Freeport yang tidak pernah saya dengar. Pada bulan Januari 2013, saya bertanya langsung pada perwakilan Greenpeace Asia Tenggara - Indonesia tentang beberapa hal. Berikut ini petikan email saya

"Nama Saya Johannes. Saya sudah bergabung dengan Green Peace beberapa bulan lalu dan sudah menjadi donatur GP dengan nomor supporter ID 43473. Sebagai penyumbang, meskipun kecil, saya tentu berhak mengetahui untuk apa dana tersebut dan apa yang terjadi di Greenpeace.

Seperti yang saya baca di newsletter Greenpeace, lembaga ini bersifat independen dan tidak menerima sumbangan dari pemereintah maupun perusahaan manapun agar kegiatan Greenpeace ini sifatnya netral. Begitu juga dengan tujuan utama greenpeace di Indonesia adalah untuk melindungi keberadaan hutan Indonesia dari tangan-tangan penjahat lingkungan (seperti yang di contohkan oleh Greenpeace adalah PT Sinar Mas).

Belakangan ini ada rumor yang menyebutkan bahwa Greenpeace ditunggangi pihak2 yang punya kepentingan khusus, misalnya saja Greenpeace tidak menyorot Exon Mobile dan Freeport yang sudah mengeksploitasi hutan Papua.

Ada juga rumor yang menyebutkan bahwa Greenpeace menerima sejumlah dana dari pemerintah Inggris dan keuangan Greenpeace tidak pernah di audit.

Saya mempunyai blog yang mengulas tentang kepedulian tentang lingkungan dan saya pernah menulis beberapa kali tentang artikel yang berhubungan dengan Greenpeace. Untuk itu saya ingin penjelasan dari Greenpeace tentang rumor yang beredar, agar saya bisa memberikan informasi yang benar bagi pembaca blog saya."

Dan, jawaban yang saya terima adalah

"Permasalahan lingkungan di Indonesia sangatlah banyak, termasuk masalah Freeport yang telah ada jauh sebelum Greenpeace sendiri dibentuk. Namun Greenpeace tidak bisa menangani semuanya dari A sampai Z, bukan karena tidak mau, tapi lebih karena keterbatasan sumber daya manusia dan dana. Tanggung jawab utama dari masalah ini ada di tangan Pemerintah Republik Indonesia,
sebagai lembaga yang memiliki kewenangan dan kekuasaan untuk mengatur negara ini untuk menyelesaikannya."

Sungguh tidak masuk akal. Alasan kampanye terhadap perusakan hutan papua oleh freeport tidak dilaksanakan karena kurangnya dana dan SDM. Dan tanggungjawab utama dilemparkan pada pemerintah.

Dalam setiap buletin yang dikirim pada donaturnya, ada kalimat seperti ini :

Greenpeace adalah organisasi kampanye lingkungan internasional yang independen, tidak menerima donasi dari lembaga pemerintah, perusahaan, atau partai politik dari/ di negara manapun. Greenpeace hanya menerima donasi dari individu individu yang percaya akan misi dan tujuan Greenpeace sebagai suara bagi kepentingan Bumi ini.

Jika benar demikian, alasan tidak dilakukannya kampanye perusakan hutan Papua oleh freeport karena kurangnya dana bisa dimaklumi. Tapi setelah saya mengetahui dana operasional LSM kaya ini mencapai milyaran rupiah, hati saya bertanya apa mungkin individu-individu yang hanya menyumbang 100-200 riibu tiap bulan bisa mencapai milyaran? Dan terbukti bahwa dana Greenpeace tidak murni dari individu seperti saya, ketika saya baca di Kompas online bahwa menurut situs resmi Greenpeace Belanda, LSM itu memperoleh sumbangan uang judi Postcode Lottery pada 2010 dan 2012 masing-masing sebesar 2.250.000 poundsterling atau sekitar Rp 33 miliar. Satu kecurangan dan pembohongan pada donatur-donator individual seperti saya bukan?

Alasan kedua : kurang SDM? Dengan dana milyaran, jika mau Greenpeace bisa mempekerjakan aktifis-aktifis yang mumpuni untuk memulai kampanye. Tidak masuk akal jika alasan kekurangan SDM dipakai untuk tidak segera melakukan kampanye untuk Hutan Papua.

Alasan ketiga : Tanggung jawab utama adalah pemerintah Indonesia. Memang benar, tapi sebagai LSM yang peduli lingkungan bukan berarti Greenpeace tidak bisa melakukan apa-apa. Jika dengan grup SInar Mas, greenpeace bisa menghasilkan moratorium pembukaan hutan baru. Kenapa dengan Freeport, satu kampanye pun tidak dilakukan?

Saatnya bergerilya membuka mata calon donatur. Saya akan tetap mengkritisi Greenpeace sampai kapan pun. Hentikan kebohongan ini. Saya yakin ada konspirasi besar antara Greenpeace dan pihak-pihak yang berkepentingan.

Salam.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun