Mohon tunggu...
KOMENTAR
Puisi

Selingkuh Hati

7 Maret 2011   10:48 Diperbarui: 26 Juni 2015   07:59 383 1
"Siapa kau yang sebut di mimpimu tadi malam?". "Siapa, memang aku mengigau, nggak aku nggak sebut siapa pun". "Kau panggil-panggil namanya!".
Percakapan di pagi yang hangat bermandi sinar matahari yang masuk ke kamar melalui lubang kisi-kisi jendela. Ah, mimpi dia lagi. Rasanya menjelang tidur ku tak mengingatnya, entahlah.

Setiap kali ku kecewa dengan suami dia muncul di mimpiku, bahkan sampai ku panggil namanya dalam mimpi. Memang kuakui ku kadang memahat namanya di palung hatiku. Seperti ritual menjelang tidur, kueja namanya, lirih tak terdengar di dalam hati saja.

Inikah yang disebut hati yang berpaling? Aku tak pernah sengaja menemuinya, kalau pun jumpa pasti tak sengaja. Hanya berbincang sekadarnya, saling bertanya kabar. Setahun sekali pun tak pasti. Saat berjumpa memang masih ada gemuruh bergetar di dada. Ku coba menahan diri jangan sampai dia tahu kalau aku masih salah tingkah.

Ku pernah membaca cinta yang tak sampai memang lebih indah diangankan. Mengapa? Karena hanya ada di bayangan. Sementara pasangan kita yang tiap hari jumpa, kita pun tahu hal-hal yang tak menyenangkan darinya.  Tahu kentutnya yang bau, handuk yang diletakkan sembarangan setelah mandi. Selesai makan tak mau meletakkan piring di bak cuci.

Siapa yang siap sedia membantu, memberi uang nafkah tiap bulan, mengantar dan menjemput saat kita pergi, mengeroki ketika masuk angin, memijat saat kelelahan? Pasangan, bukan kekasih yang ada di awang-awang.

Indah karena jauh dan kasih tak sampai, namun lebih indah yang dekat, terjangkau, bisa dipelukcium, dimarahi, diomeli sekaligus disanjungpuji dan disayang.

Ah, sudahlah dia sekadar imajinasi, pengisi ruang fiksi, namun kekasih sejati yang ada setia di samping kita, menemani di saat duka mau pun gembira.

Banjarnegara, Senin 7 Maret 2011

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun