Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud

Bonus Perilaku Berjejaring Sosial

16 Agustus 2012   00:11 Diperbarui: 25 Juni 2015   01:42 182 0
Social networking atau jejaring sosial telah menjadi bagian hidup, bahkan (rasanya) bagian tubuh bagi manusia abad ini. Dinegara saya Indonesia pun demikian. Lintas usia dan lintas budaya. Saya telah berkali-kali terkejut karena beberapa anak dibawah tujuh belas tahun telah meng'add friend' saya. Hal ini lalu menjadi dilema untuk ditolak karena sesungguhnya mereka masih merupakan keluarga saya. Saya juga pernah menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan beberapa orang yang sudah sangat tua mendeklarasikan akun jejaring sosialnya. Wabah ini demikian meluas dan orang-orang mulai meresponnya dengan cara berlebih. Sedangkan seperti yang kita tahu, segala sesuatu yang berlebih seringkali tak berakhir baik. Saya telah memperhatikan sedemikian dan mendapati beberapa perilaku berkembang tanpa dapat kita cegah. Ironisnya banyak pihak tidak menilainya sebagai keistimewaan (meski saya lebih suka menyebutnya berlebihan). Maka saya berpikir untuk mencatatnya sebagai penanda peradaban atau untuk apapun itu. Beberapa perilaku berjejaring sosial ini telah mampu membuat saya tertawa, menggelengkan kepala, mengelus dada dan tak pernah berhenti kagum. Saya bahkan pernah melakukan beberapa diantaranya, lalu kemudian malu dibelakang hari. Jadi saya sama sekali tidak mengecam siapapun yang melakukannya. Hanya saja, mungkin harus ada seseorang menulis, agar teman, keluarga dan kenalan saya dapat mulai menyaring hal-hal berjejaring sosial yang mungkin akan mereka tertawakan dimasa depan. Doa kepada Facebook Anda mengerti kan apa yang saya maksud? Sesuatu semacam mengucapkan permohonan kita kepada Tuhan, melalui media jejaring sosial. Anda pasti pernah melihat ini. Paling tidak di hari minggu (bagi yang seagama dengan saya). Mungkin karena sila pertama pada Pancasila berkaitan dengan 'keTuhanan' sehingga kita menjadi demikian religius (bahkan di jejaring sosial sekalipun). Saya pernah melakukannya satu kali (atau dua). Namun rasanya itu sudah lebih dari dua tahun yang lalu. Kemudian setelah doa itu tak kunjung dikabulkan saya pun maklum karena barangkali saya telah berdoa kepada Facebook namun lupa meminta kepada Tuhan yang asli. Apakah anda punya pengalaman yang sama? Saya lantas membayangkan ketika orang masa kini diperhadapkan pada masalah hidup yang sangat berat. Mereka mungkin tidak sedang bersama orang-orang yang mereka cintai. Meski demikian mereka pasti (minimal) ditemani oleh sebuah telepon genggam berjenis smartphone atau apalah yang dapat dengan mudah mengakses akun jejaring sosial mereka. Dari sanalah mengalir doa-doa dan curahan hati. Semudah itu sehingga orang menjadi lupa untuk mengatupkan kedua tangan dan berbicara langsung kepada Tuhan. Kepribadian Ganda? Saya menyebutnya demikian karena seringkali kita tak menyadari bahwa seluruh pernyataan (atau postingan) kita akan terpajang dalam satu halaman profil pribadi kita. Masalahnya banyak pribadi terlihat berkepribadian ganda karena postingan yang bertolak belakang; sebagai contoh (bagi yang Kristen) di hari minggu kita mengucap syukur sedalam-dalamnya pada Sang Khalik atas berkah dan anugerahnya, lalu hari Senin kita memaki pekerjaan yang tak kunjung usai dan mengeluh karena lagi-lagi harus lembur. Atau ketika di pagi hari kita berbagi 'quote of the day' yang berisi indahnya kasih sayang, sore harinya kita menyindir teman sekantor dengan sebuah status facebook. Sayangnya semua postingan akan tertata berdampingan. Bukankah kasus-kasus diatas akan mengaburkan penilaian orang atas kepribadian kita? Seperti sebuah etalase yang memajang daging segar tepat disebelah daging busuk. Orang-orang akan tetap membeli daging segarnya, namun juga tak akan pernah berhenti menggunjingkan daging busuknya. Bijaksana ala Copas Dari semua perilaku yang saya catat, inilah yang dengan tegas saya perangi. Sekali lagi bukan berarti saya tidak pernah melakukannya. Saya pernah, namun secepatnya sadar bahwa itu salah. Saya harap anda juga. Sebab jika perilaku lainnya hanya berpotensi merugikan diri kita sendiri, yang satu ini merugikan orang lain juga. Kini jika melihat seseorang memposting serangkaian kalimat bijak, saya akan segera meng-google kalimat tersebut. Dalam banyak kesempatan, kecurigaan saya beralasan dan terbukti. Saya sering menemukan kalimat-kalimat itu dikutip atau (lebih tepatnya) di copas/copy paste dari berbagai website. Sampai disini tidak ada masalah. Yang menjadi masalah adalah jika hal men-copas tersebut dilakukan tanpa menyebutkan sumbernya, atau nara sumbernya, atau website asalnya. Tidak berhenti disitu, saya juga memperhatikan beberapa orang, entah dengan sadar atau tidak, telah menampilkan gambar-gambar dan foto-foto hasil karya orang lain tanpa menyebutkan sumbernya. Hak kekayaan intelektual kita sejauh ini tidak mendapat perhatian khusus dari negara. Namun bukankah lebih baik jika kita menumbuhkan etika dengan pertimbangan-pertimbangan berikut; Bagaimana jika seseorang mengakui buah pikir kita sebagai buah pikirnya? Dapatkah kita menerima jika ternyata buah pikir yang ia aku-akui tersebut mengundang banyak pujian dan keuntungan baginya? Jika kedua jawabannya adalah tidak, maka kita seharusnya menunjukkan rasa hormat kita dengan cara; mencantumkan nama narasumber serta sumbernya, dan jika memungkinkan untuk meminta ijin kepada narasumber untuk menggunakan kalimat dan gambar ciptaannya. Relationship Status 'Married to..' Suatu hari saya mendapat berita 'sukacita' dari seorang teman facebook (yang notabene umurnya jauh lebih muda dari saya) dengan 'status relationship'nya menyatakan 'married to...'. Saya lantas mengucapkan selamat. Ucapan tersebut tak pernah ditanggapi karena ternyata belakangan saya tahu bahwa mereka bukan menikah sungguhan. Sebut saya kuper, namun saya baru tahu bahwa memasang status 'married to...' adalah cara anak muda masa kini menunjukkan kasih sayang dan 'keseriusan' kepada kekasihnya. Ketika hubungan kasih berakhir maka berakhir pulalah status 'married to..' itu. Sudah se-tua itu kah saya? Dekat di Mata Jauh di Hati Banyak yang bilang internet itu mampu 'mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat'. Saya sangat setuju. Saya sendiri sering begitu malas untuk melangkah tujuh meter ke ruang kerja suami hanya untuk menunjukkan sebuah link menarik. Yang saya lakukan biasanya adalah meng-copy link tersebut pada 'wall' akun facebook suami saya. Meski terkadang saya melakukannya agar link tersebut juga bisa dilihat banyak orang, itu tetap saja termasuk dalam 'menjauhkan yang dekat'. Lalu apakah saya yang terparah? Tunggu dulu! Pernahkah anda melihat suami istri saling menyapa 'selamat pagi' pada akun facebook mereka? Saya pernah dan lalu bertanya-tanya 'apakah mereka sedang pisah rumah?' atau 'mungkin salah satu dari mereka berada diluar kota'. Pernahkah anda melihat teman anda senyum-senyum sendiri menatap ke blackberry-nya, padahal sesungguhnya ia sedang ber'bbm'an dengan seseorang didepan anda? Saya pernah dan untungnya bukan saya topik pembicaraan mereka. Rolf Potts menulis dalam The Travel Secret ; 'Be Where You Are'. Ulasannya kurang lebih mendorong kita untuk berada selayaknya dimana kita berada. Bicara langsung pribadi ke pribadi, membahas apa yang ada didepan mata dan memperhatikan sekeliling. Hal-hal yang kini menjadi semakin sulit diwujudkan oleh kehadiran koneksi internet, namun tetap jauh lebih masuk akal. Menelanjangi Rahasia & Mengebiri Privasi Istilah kedua tersebut dilontarkan teman saya yang bernama Amalia Anindia dalam 'kicauannya' yang berbunyi 'ketika media sosial menjadi ajang pengebirian privasi'. Kicauan tersebut kemudian menjadi konfirmasi bagi saya akan kenyataan bahwa kita semakin tak punya rahasia. Jejaring sosiallah yang memfasilitasi hal itu terjadi. Kini, orang semakin bersemangat mengumumkan dimana mereka berada. Semacam 'life report', dimana pun berada semua orang berlomba-lomba meng-upload foto, meng-update status dan menambahkan keterangan 'check in'. Sebuah fenomena yang, kalau ditilik lebih jauh, sangat berbahaya dan memberi kesempatan besar pada tindak kejahatan. Namun tetap saja bahaya itu tidak sebanding dengan keasyikkan 'menunjukkan kegiatan dan liburan' kita kepada orang lain. Saya sendiri sudah cukup repot dengan kebiasaan orang Indonesia minta oleh-oleh, jadi cenderung merahasiakan liburan saya sampai saya sudah kembali dari liburan. Tak ada lagi rahasia. Semakin banyak yang 'melapor' hal-hal penting seperti 'baru bangun tidur', 'baru selesai makan', sibuk sepanjang minggu, 'baru jadian', 'baru patah hati', sendiri di malam minggu, dsb. Tak ada lagi privasi. Mereka yang tersohor pun tak lagi ragu untuk mengebiri privasi mereka. Seakan tak ada jalan lain untuk mempertahankan popularitas, salah satu jejaring sosial membantu mereka berkicau tentang hari-hari mereka dan membuka akses bagi siapa saja untuk memantau. Lalu semua orang tanpa terkecuali dapat 'menyapa' yang bersangkutan, dengan atau tanpa berkenalan tatap muka terlebih dahulu. Tidak mengherankan kemudian muncul keleluasaan berkomentar dan mencaci maki siapapun lalu kabur tanpa jejak. ************ Mengingat ini adalah wabah, rangkaian perilaku berjejaring sosial ini tentu akan terus bertambah. Penambahan ini sejatinya hanya akan memisahkan para pengguna yang bijak dan yang tidak. Saya dan anda, dalam banyak situasi dapat menjadi si bijak atau si tidak bijak. Satu-satunya yang mampu menyaring itu adalah kenyataan bahwa; apa yang kita tulis, apa yang kita potret dan apa yang kita klaim saat ini menentukan lembaran profil kita dimasa yang akan datang.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun