Mohon tunggu...
KOMENTAR
Puisi Pilihan

Di Trotoar Jalan Menuju Keangkuhan

6 Januari 2020   15:02 Diperbarui: 6 Januari 2020   23:35 19 1



Adu akting kala itu
di trotoar jalan menuju keangkuhan
dua wanita berdebat tentang surga
Seorang wanita setengah telanjang
dengan sepatu berhak tinggi, short bergaris merah putih di atas
lutut yang mulai keriput dan tanktop yang sedikit tembus pandang
bercerita tentang surganya di kala malam tiba
mengumpulkan rupiah dengan menjadi boneka bagi para pelahap tubuh,
'Tuhanku ada dalam dompet para pejantan
yang namanya tertera pada angka rupiah yang diberikan.
Surgaku adalah untung-untungan.
Tak ada neraka yang kutemui, sebab yang kutemukan hanyalah surga ketika aku berhasil membunuh nafsu para hidung belang."
Sedang wanita di sampingnya menjawab dengan nada miris, sedikit sinis,
ia bercerita tentang surga dibalik kata "baik"
yang ia temui.
"Surgaku adalah hidupku yang baik, di saat tubuhku terpenjara oleh suara adzan dan sahur, lonceng gereja yang berdenting, dan bau kemenyan yang menyengatkan dibalik kuil-kuil saat badanku terbungkuk rajin.
Tuhan kutemui saat semua berbondong mencari harap, saat keringatku berjatuhan di lorong-lorong pagi dan petang, dan di lapangan layak.
Tak ada neraka yang kutemui sebab surgaku penuh sesak dengan kata baik di pusaran waktu."
Setelah mendengarkan perdebatan itu aku pulang ke rumah dengan tak sadarkan diri
bahwa aku masih di dunia, dan mencari Tuhan di Kamar tidur milik
Ibuku. Sementara Ayah sedang membereskan bagian rumah yang rusak akibat banjir kemarin.




Ischo Frendino.
JKT, 03012020.

KEMBALI KE ARTIKEL