Mohon tunggu...
KOMENTAR
Cerpen Pilihan

Saat Cinta Kembali Menyapa (5)

28 Maret 2021   07:33 Diperbarui: 28 Maret 2021   07:35 144 3

Keduanya terdiam membisu saat duduk di ruang tamu. Risa menundukkan kepalanya menatap tangannya yang terjalin erat di pangkuan.

“Saya jatuh hati kepada Bu Risa dan saya yakin Aya pun selama ini sangat menyayangi Ibu. Bila Allah mengijinkan, saya ingin menjaga dan menyayangi Bu Risa bersama dengan Aya untuk selamanya,” tutur Tio pelan namun dengan nada pasti.

Risa mendongakkan kepalanya dan matanya bertemu dengan mata Tio yang dari tadi menatapnya lekat. Ia pun tersipu dan pipinya memerah jambu.

Risa tak dapat menyangkal bahwa selama ini ia pun jatuh hati pada Tio namun ia tak pernah berani berharap lebih.

“Apakah Bu Risa memiliki perasaan yang sama ?” tanya Tio lembut. “Saya tahu Ibu menyayangi Aya, namun apakah Ibu berkenan menjadi bundanya ?”

Pipi Risa makin memerah mendengar pertanyaan Tio. Ia kembali menunduk sebelum menjawab lirih, “Saya sangat menyayangi Aya dan mengagumi Pak Tio, namun apakah Pak Tio yakin ingin memperistri saya sementara saya tidak bisa memiliki anak ?” tanya Risa.

Tio memberanikan diri menggenggam tangan Risa yang masih terjalin erat di atas pangkuan Risa. Tangan itu terasa dingin menunjukkan kegelisahan hati pemiliknya. Risa mendongak menatap  wajah Tio.

“Boleh aku memanggilmu Risa ? Insya Allah aku tidak akan pernah mempermasalahkan hal itu, apabila Allah berkehendak memberi kita anak selain Aya, aku akan sangat berbahagia. Namun, apabila Aya satu-satunya anak kita, aku sangat bersyukur kita memiliki Aya,” kata Tio sambil tersenyum lembut.

Risa terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum dan mengangguk.

“Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah,” ucap Tio sambil mengecup lembut tangan Risa.

***

“Saya terima nikahnya Marisa Sukma Dewi binti Dharmawan Sukma Dinata dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai,” ucap Tio dalam sekali tarikan napas pagi itu.

Aura kebahagiaan jelas terpancar dari Risa dan Tio saat menerima ucapan selamat dari keluarga dan para tamu undangan. Aya yang hari itu tampak begitu cantik mengenakan kebaya merah muda, tampak sibuk berbincang dengan mama Risa dan saudara-saudara sepupunya dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya.

Setelah dilihatnya tidak ada lagi antrian tamu yang memberikan selamat kepada orangtuanya, Aya mendekat ke Risa dan Tio. Dipeluknya Risa dan dikecupnya pipi Risa sambil berkata, “Sekarang Bu Risa sah menjadi bundaku.”

Risa tertawa dan balik mengecup pipi Aya sambil berkata, “Sekarang Aya sah menjadi anak cantiknya bunda.”

Tio yang mendengar percakapan kedua wanita yang dicintainya itu tergelak tertawa dan kemudian memeluk mereka berdua.

***

“Bundaaa…..Aya ambil pembalut di lemari bunda yaa,” teriak Aya dari kamar sebelah.

Risa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil beranjak menuju kamar Aya. Dilihatnya Aya sudah memegang pembalut di tangannya. Risa lantas berkata, “Anak gadis kok teriak-teriak gitu sih ? Apalagi minta pembalut, memangnya Aya ga malu kalau didengar Papa”

“Hehehe…habisnya tadi kan bunda baru di dapur,” jawab Aya sambil tersenyum lebar.

“Memangnya pembalut Aya habis ?” tanya Risa sambil membaringkan diri sejenak di tempat tidur Aya. Beberapa hari ini ia mudah merasa lelah, apalagi mereka masih sibuk berbenah  rumah sejak pindah ke Jakarta tiga bulan yang lalu dan ditambah dengan kini ia sedang mempersiapkan diri untuk melakukan pameran lukisan bersama beberapa teman pelukis.

“Sudah habis Bun, dan bulan ini kita kan belum belanja bulanan lagi Bun,” jawab Aya yang lantas ikut berbaring di tempat tidur dan memeluk bundanya.

Risa terdiam. Ia baru sadar bahwa jadwal menstruasinya  bulan ini telah terlewati hampir 2 minggu lamanya dan ia belum juga memperoleh menstruasi. Mendadak Risa teringat gejala-gejala kanker ovarium yang ia idap saat itu. Salah satunya adalah jadwal menstruasi yang tidak teratur. Seketika Risa merasakan kepanikan dan ketakutan. Apakah kanker ovarium kembali menyerangnya ?

“Bunda sakit? kenapa kok wajahnya pucat?” tanya Aya yang menatap Risa dengan penuh khawatir.

***
 
Tio menggenggam erat tangan Risa saat dokter melakukan pemeriksaan USG terhadap Risa. Risa memejamkan mata dan sibuk menata hati serta mempersiapkan diri apabila mesti mendengar kabar terburuk dari dokter.

“Alhamdulillah, selamat Bu Risa!” Ibu hamil janin kembar dengan usia kehamilan sekitar 7 minggu,” ucap dokter mengagetkan Risa.

Risa membiuka matanya dan menatap layar monitor tak percaya. Tio berulang kali mengucap syukur sebelum mengecup kening Risa lembut.

“Saya betul hamil Dok ?” tanya Risa sambil menitikkan air mata. Ia masih merasa tak percaya bahwa ia bisa hamil dengan kondisi hanya memiliki 1 indung telur.

“iya Bu…itu kantong janinnya terlihat jelas. Seperti yang dulu saya pernah bilang kalau selama Allah mengijinkan maka Bu Risa tetap bisa hamil meskipun hanya dengan 1 indung telur,” kata dokter sambil menepuk pundak Risa.

“Jaga kandungannya baik-baik ya Bu Risa, kehamilan kembar relatif lebih sulit namun ini merupakan anugerah dan amanah tak terkira dari Allah SWT,” ucap dokter dengan senyuman lembut tersungging di bibirnya.

Risa mengangguk. Secara tak sadar, tangannya mengelus perutnya perlahan. Ia sungguh bersyukur Allah tak henti-hentinya memberikan rahmat dan karunia kepadanya.

***

Jam dinding baru menunjukkan jam 8 pagi, namun hiruk pikuk sudah terdengar dari rumah Risa dan Tio usai adzan shubuh. Hari ini Aya akan berangkat ke Yogya untuk berkuliah di fakultas kedokteran di Universitas Gajah Mada.

“Bunda….sweaterku yang merah jambu mana ya ? Kayaknya kemarin sudah aku masukkan ke dalam koper?” tanya Aya sambil mengaduk-aduk kembali kopernya yang sebelumnya sudah tertata rapi.

Risa menggeleng-gelengkan kepalanya dan bertanya, “Bukannya kemarin Aya taruh di dalam ransel biar gampang diambil sewaktu-waktu?”

Aya menepukkan tangan ke dahi, “Astagfirullah….iya betul!”

“Besok-besok kalau sudah di Yogya, jangan lupa untuk menyimpan barang dengan teliti. Kalau pas mencari barang, dingat-ingat dulu disimpan di mana. Di sana tidak ada Bunda atau Mbak Siti yang bantu nyariin. Kasihan Oma kalau mesti bantuin nyariin” kata Tio panjang lebar menasehati putri sulungnya yang pelupa itu.

“Makanya Bunda ikut aku ke Yogya aja,” kata Aya sambil memeluk erat bundanya.

“Arya mau ikut Kakak,” kata Arya, salah satu adik kembar Aya yang berusia 4 tahun, sambil bergelayut manja ke Aya.

“Arka mau ikut Kakak,” ucap Arka membeo ucapan Arya sambil mendorong-dorong koper kakaknya mengelilingi ruangan seolah memperoleh mainan baru.

Aya tertawa dan memeluk erat adik-adiknya seraya berkata, “Kakak nanti pasti kangen banget Arya dan Arka. Yuk semuanya pindah ke Yogya lagi aja.”

Setelah memasukkan semua koper ke mobil dan siap berangkat, Aya kembali memeluk erat bundanya dan berkata, “Aya berangkat dulu ya Bunda, kalau Bunda sudah ga mual-mual dan pusing-pusing, Bunda jenguk Aya ke Yogya ya.”

Aya kemudian mengecup pipi bundanya dan perut bundanya yang tampak sedikit membulat. Bundanya memang sedang hamil muda dan memasuki bulan ke-3. Benar-benar kejutan yang tak terduga bagi keluarga mereka mengingat usia Risa telah memasuki 39 tahun.

Bunda tersenyum dan mengelus kepala Aya yang tertutup kerudung warna merah muda. Kepergian Aya ke Yogya hari ini memang hanya diantar oleh Tio karena sudah beberapa minggu terakhir ia mudah mual dan muntah.

Saat Tio menghampiri Risa untuk mencium kening Risa dan berpamitan, Risa memeluk keduanya dan berbisik, “Aya sayang sekali Bunda dan Papa.”

Dengan tersenyum lebar, ia mengedipkan mata ke papanya dan menambahkan dengan nada jahil, “Ini adik terakhir Aya ya Bunda dan Papa, jangan sampai nanti Aya mau lulus kuliah masih punya adik bayi lagi!”

Risa dan Tio hanya tertawa mendengar ucapan Aya, sementara Arka dan Arya berlompatan di kanan kiri Aya dan berebutan untuk minta digendong oleh Aya.

**Tamat**

KEMBALI KE ARTIKEL