Mohon tunggu...
KOMENTAR
Catatan

Tersesatkah Isteri Saya di Keramaian Masjidil Haram?

6 Mei 2012   16:06 Diperbarui: 25 Juni 2015   05:37 388 0
Kejadian terpisah dengan istri di tengah keramaian ratusan ribu jemaah haji pada bulan Maret 1998, tepatnya hari Jumat, sekitar  pukul 3 - 4  dinihari, tanggalnya 20 Maret.  Kok bisa terpisah dengan isteri di negeri asing yang baru pertama kali dikunjungi ?

Mengapa Terpisah Dengan Isteri?

Pertama dimulai akibat kelelahan menempuh perjalanan dimulai dari Pondok Gede tempat asrama haji berada.  Pukul 2 dinihari Kamis 19 Maret 1998, kami sudah dibangunkan dan sekitar pukul 4 pagi sudah menuju Bandara Halim Perdana Kusuma.  Pesawat Garuda sendiri baru take off menjelang pukul 7 WIB dan tiba di Bandara Jeddah sekitar pukul 1 siang waktu Jeddah. Walaupun pukul 1 siang sudah mendarat, rombongan baru meninggalkan kota Mekkah menjelang Maghrib dan tiba di wilayah kota Mekkah yang bernama Aziziah menjelang tengah malam, lalu kami masuk penginapan, menata koper dan barang bawaan sekedarnya lalu tidur.

Hari Jumat, 20 Maret 1998, pukul 2 dinihari, kami dibangunkan pimpinan rombongan untuk siap-siap shalat Subuh di Masjidil Haram dan diperintahkan semua anggota rombongan berkumpul di lantai dasar agar rombongan dapat pergi bersama-sama. Perjalanan sehari semalam pada hari Kamis, 19 Maret 1998 dan kemudian hanya sempat tidur sekitar dua jam saja, rupanya mempengaruhi kesigapan kami untuk mengenal medan dan ketidaksiapan rombongan untuk saling cek dan ricek, apalagi tempat tidur jamaah wanita berbeda satu lantai dengan jamaah pria.

Dinihari itulah saya terpisah dengan isteri saya yang menurut salah satu jamaah wanita telah berangkat berdua dengan satu jamaah wanita lainnya menuju Masjidil Haram.  Betapa lunglainya dengkul kaki saya begitu mencoba mengejar ke luar penginapan, setiba di jalan raya melihat ribuan jamaah haji dari berbagai negara berjalan menuju Masjidil Haram.  Bagaimana mungkin menemukan isteri saya dan satu jamaah wanita temannya diantara ratusan ribu jamaah haji yang di mata saya dinihari itu Aziziah bagaikan lautan manusia ?

Upaya Mencari Mereka Yang Tersesat

Saat itu terus terang karena baru pertama kali ke Mekkah dan belum sempat mengenal medan karena tiba saat hari sudah gelap, tak terbayang sama sekali seperti apa kota Mekkah, kecuali Masjidil Haram agak terbayang bentuknya karena sering melihat gambar masjid tersebut.

Ketua rombongan yang kebetulan pernah kuliah di kota Mekkah menenangkan saya dan seorang jamaah pria yang sama-sama kehilangan istri menjelang Subuh.  Kami disuruh berdoa dan shalat Subuh berdua di penginapan, mengingat kondisi mental kami yang benar-benar down, rombongan pergi bersama-sama ke masjidil Haram untuk shalat Subuh berjamaah dan menyelesaikan Umrah.  Sebelum pergi ketua rombongan berkata pada kami, nanti bertemu di halaman masjid, di depan pintu 'Babusalam' sekitar pukul 10 pagi.  Kami iyakan saja padahal lokasi yang dimaksud belum terbayang sama sekali.

Tersesatkah Isteri Saya ?

Di tengah kegalauan dan kebingungan luar biasa saya hanya bisa berdoa sambil menangis memohon ampun kepada Allah SWT, sambil membayangkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi.   Akhirnya menjelang pukul 10, saya pamit pada anggota rombongan yang isterinya bersama isteri saya  terpisah dari rombongan, saya katakan akan mencoba mencari dan bapak tersebut agar tinggal di penginapan.

Allah maha penyayang, saya berjalan mengikuti arus manusia  ke arah Masjidil Haram, di dekat Pasar Seng saya bertemu dengan ketua rombongan kami yang langsung memeluk saya dan mengatakan "Istri bapak dan temannya sudah ketemu, sekarang mereka menunggu di halaman Masjidil Haram, di bawah tiang lampu".   Tak sabar saya menuju tempat yang ditunjukkan oleh ketua rombongan kami dan benar menemukan isteri saya dan temannya di sana.  Saya tanya kenapa pergi meninggalkan rombongan ?  Jawabnya ia ingin mengejar saya yang kata salah seorang jamaah sudah pergi duluan ke Masjidil Haram.  Lhoo kok begitu?

Saya tanya apakah isteri saya dan temannya sudah melakukan thawaf dan sa'i ?  Mereka ternyata sudah selesai tahalul, maka saya minta mereka menunggu di dalam masjid di pintu dekat  tempat mulainya  thawaf, karena saya belum menyelesaikan umrah saya. Ketua rombongan kami lalu meninggalkan saya dan isteri serta jamaah wanita teman isteri saya, karena ia harus memandu rombongan kami.

Apakah isteri saya dan temannya merasa tersesat?  Saat mereka pergi dinihari ke Masjidil Haram ternyata mereka tidak merasa tersesat walaupun tak menemukan saya yang diberitakan sudah duluan jalan ke Masjidil Haram.  Mereka ikut shalat Subuh berjamaah dan melakukan thawaf, sa'i dan tahalul.  Hanya saat ingin kembali ke penginapan baru mereka bingung, kemana harus menuju?  Untung bertemu dengan ketua rombongan di halaman Masjidil Haram dan akhirnya bertemu saya di halaman masjid tersebut.  Setelah saya menyelesaikan umrah, kami sempat mengikuti shalat Jumat untuk pertama kali di Masjidil Haram, shalat Jumat yang sangat berkesan, karena masih memakai kain ihram, masjid sangat padat, sehingga jamaah shalat rapat serapat-rapatnya tanpa ada jarak lagi.

Walaupun merasa tak tersesat toh akhirnya kami bertiga benar-benar tersesat saat berusaha kembali ke penginapan setelah shalat Jumat.  Jalan yang kami yakini benar ternyata entah menuju kemana.  Beberapa kali bertanya pada orang Arab yang kami temui tak menolong, karena kami sendiri tak tahu nama jalan tempat penginapan kami berada. Kami tetap berbesar hati karena di Mekkah banyak orang Indonesia dan benar seseorang berwajah Indonesia menunjukkan arah penginapan kami, karena ia memang jamaah haji Indonesia hanya beda kloter. Salah satu keberuntungan jamaah haji Indonesia saat itu, lokasi penginapan kami hanya berjarak sekitar 400 meter saja dari Masjidil Haram.

Hikmah terpisah dengan isteri di tengah ratusan ribu orang dan tersesat sejenak di kota Mekkah sungguh menjadi pelajaran berharga bagi kami, bagaimana harus bersikap bila pergi berombongan, bagaimana harus mengenal medan begitu tiba di suatu daerah yang baru kita kenal dan jangan mudah berputusasa bila menghadapi kesulitan, karena masih ada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun