Mohon tunggu...
KOMENTAR
Cerpen Pilihan

Sebuah Pertemuan

10 Desember 2020   13:00 Diperbarui: 10 Desember 2020   13:06 130 8

"Bukankah kita percaya, bahwa Tuhan telah menjadi sebaik-baik penjaga atas apa yang kita harapkan, lalu untuk apa lagi segala keluh kesah, luka lama, hati yang pernah patah dan air mata"

"Kita bisa menjadi apapun, teman dalam segala derita, sahabat di segala usia atau kekasih dalam setiap luka dan air mata, tapi kita perlu saling memahami, sembari belajar menghadirkan hati yang baru, hati yang telah rela atas segala ketentuanNya, hati yang sanggup menerima segala takdir dan ketetapanNya dan hati yang terjaga dari segala prasangka"

Aku berkata sambil merapikan jilbab yang tersampir di bahu kiri. Kita memilih duduk bersisian, agar sama-sama dapat menikmati danau dan semua ketenangannya, mengalunkan nafas seirama gelombangnya yang hampir tak terlihat.

Cangkir kopimu telah kosong, kau telah menyesap seluruh isinya, aku berharap semoga kau juga sanggup menyerap segala hal, yang baru saja aku sampaikan.

Mungkin kita sama-sama pernah menyimpan mimpi, tentang bagaimana menenggelamkan rasa di dasar danau sembari menahan gigil desau angin hingga ke jiwa-jiwa.

Hari mulai memasuki magrib, kabut-kabut kian tebal menutupi danau dan bukit. Kau masih tetap diam, menunggu masih adakah yang akan kukatakan.

Namun, hujan seperti membasahi segala angan. Aku memutuskan untuk menyudahi pembicaraan. Pertemuan ini begitu tiba-tiba dan memaksa, meski aku juga menyukainya.

Aku rela meninggalkan tumpukan pekerjaan dan memilih merasai segenap waktu yang kini dilewatkan bersamamu, menyesap sisa kopi terakhir yang telah dibiarkan dingin sejak ashar.

Aku tahu, kau ingin menyampaikan sesuatu, setelah sekian lama mata kita tak bertatap begitu dalam. Semoga kau paham, kalimatku yang begitu panjang barusan, bukan untuk bermaksud mengkhotbahi atau menghakimi pikiran dan perasaanmu.

Kita pernah menatap satu keindahan dan kesedihan sekaligus, seperti ranting-ranting kering yang tetap kokoh meski tanpa dedaunan, dan kita begitu kagum atasnya. Takjub pada ketegarannya.

Kita juga pernah mendamba sebuah pertemuan, entah kapan, sebab kita tidak dapat memastikan waktu dan ruang yang tepat untuk berbagi beban.

Mungkin kita selalu memilikinya, kita selalu memiliki waktu terbuang dari sekian jam yang kita lalui setiap hari. Tapi, kita merasa segalanya berlangsung cepat, seperti ketika kita menyelami tetes hujan kemarin dan kita menamainya kenangan untuk hari ini.

Tapi aku merasa pertemuan ini justru berbeda, entah prasangkaku saja, ataukah memang demikian adanya. Seperti ada sesak yang tertahan ketika beberapa hari kita tak bersua dan bertukar salam.

Lampu-lampu cafe mulai menyala, beberapa pengunjung memutuskan pergi sebab hujan perlahan mulai reda. Kau masih tetap membisu, sedari tadi, sejak kita tiba di sini, sejak aku memulai kalimat-kalimat panjangku tentang bagaimana aku menjalani hari-hariku.

Aku masih belum bisa menebak, apa yang ingin kau sampaikan dengan merencanakan pertemuan ini jauh sebelum aku memiliki kesempatan.

Kau memutar kursi agar bisa duduk tepat dihadapanku, merapatkan tubuhmu ke meja cafe, dan meletakkan tangan diatasnya, lalu perlahan kau mengangkat wajah, menatap tepat ke mataku.

Di mata itu, aku menemukan semacam protes atas keadaan yang tak ingin dihadapi. Aku menemukan pancaran aneh, yang sebelumnya tak pernah kutemui. Hatiku tercekat, aku mengenalmu sekian lama, tapi aku tak pernah menemui sinar seperti itu di matamu, tajam, namun cenderung mengkhawatirkan.

"Aku Rindu..."

Suaramu lembut, pelan, dan tenang, hampir tak terdengar, namun batinku yakin, aku tak mungkin keliru.

Udara kian menusuk pori, aku merapatkan kedua tangan di dada yang degupnya kian menggelisahkan. Aku bingung, suaramu masih terus bergema di pikiranku.

Aku mengalihkan pandangan ke meja dan cangkir kopi yang telah kosong sejak tadi.
Mulutku terkatup rapat, padahal aku hendak mengulang kalimatmu. Di hatiku, aku mengakui bahwa aku juga memiliki kerinduan itu.

_______________
23 Rabiul Akhir 1442 H
"Sore, di Timur Bolaang Mongondow"

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan