Mohon tunggu...
KOMENTAR
Cerpen

[Hari Pahlawan] Dia itu Ayahku!

10 November 2013   15:01 Diperbarui: 24 Juni 2015   05:21 197 3

“Jadi kalian mengerti anak-anak dengan yang ibu sampaikan tadi?” tanya Bu Guru meyakinkan.

“Mengeeerrtti Bu..!” Anak-anak menjawab serentak.

Pelajaran siang itu pun telah usai, semua anak-anak dengan cepat merapikan buku-buku.

Di lobbi sekolah sudah dipenuhi oleh anak-anak yang menunggu jemputan. Seperti biasanya Fathir duduk di pos satpam menunggu Ayahnya datang menjemput. Tidak jauh dari tempatnya duduk, ia mendengar beberapa teman sekelasnya serta kakak kelasnya asik membicarakan tentang festival dua hari lagi.

“Akuuu emmm jelas aja mau jadi Superman! Dia keren..”

“Aku akuu dengerin akuuu akan jadi Batman besok, itu lebih keren..”

Fathir tertunduk mendengar keceriaan mereka.

Tiinnn..

Suara klakson dari sebuah angkot mengejutkan Fathir. Ia langsung berdiri lalu berlari mendekati angkot berwarna biru tersebut. Ia membuka pintu depan, lalu duduk dan tertunduk.

“Lhooo kok Ayah jemput kamu malah tumben cemberut gini sih..?” Tanya Ayahnya yang saat itu duduk di kursi supir.

Angkot itu memang sengaja kosong saat jam pulang sekolah Fathir, karena Ayahnya tidak mau menjemput anaknya saat mengangkut banyak orang.

“Emm..Ayah..” Sapa Fathir pelan.

“Oh ya yaa..Kenapa?” Ayahnya terkejut tapi masih tetap konsentrasi menyupir.

“Dua hari lagi, hari pahlawan Yah..” Jawab Fathir tidak bersemangat.

“Wah bagus itu, pasti ada perayaan kan di sekolahmu. Terus kenapa kamu kok tidak semangat gitu?” tanya Ayah lagi, tatapannya masih lurus ke depan.

“Bu guru bilang kita diwajibkan saat itu pakai kostum yang bertemakan pahlawan. Nah, aku ingin sekali Yah pakai kostum Superman. Dia kan superhero dunia yah..aku mengidolakannya dan pasti Ayah juga kan?”

“Oh jelaass dong, dia gagah. Eh, tapi biasanya kan disuruh pahlawan di Indonesia saja nak?”

“Kata Bu guru bebas kok Yah..”

“Terus masalahnya dimana sampai kamu cemberut gitu?” tanya Ayah sambil mencubit pipi Fathir.

“Aih sakiitt..Masalahnya Ayah pasti tidak punya uangkan buat nyewa kostumnya?”

Pertanyaan itu seketika membuat angkot terasa sunyi meskipun lagi berada di jalan yang ramai. Ayah terdiam, pun juga Fathir. Hingga roda angkot tersebut berhenti di sebuah halaman rumah sederhana. Rumah yang tampak kecil tapi memiliki halaman yang luas.

Fathir turun dari angkot lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Dilepasnya sepatu lalu ditinggalkan tergeletak. Ayah tidak menegurnya, sebab Ayah tahu Fathir pasti sedang tidak enak hatinya.

“Assalamualaikum..” sapa Fathir pelan pada Ibunya yang lagi asik memotong bawang di dapur.

“Waalaikumsalam..” Jawab Ibu sambil heran melihat Fathir yang berjalan menyeret tasnya.

Saat Ayah masuk ke dalam lalu bertemu dengan Ibu, Ibu langsung memberondong Ayah dengan pertanyaan.

“Kenapa Fathir Yah? Dia Sakit? Kok seret-seret tas gitu?”

Ayah tidak langsung menjawab, Ia duduk lalu meneguk segelas air putih.

“Dua hari lagi hari pahlawan Bu. Dan, di sekolahnya ada festival kostum pahlawan. Nah..Fathir mau jadi Superman tapi dia bilang pasti Ayah tidak bisa membelikan atau menyewakannya kostum. Ah, bu..dia bener juga. Akhir-akhir ini pemasukan dari narik angkot tidak banyak, karena semakin banyak yang punya kendaraan pribadi. Makanya tadi saat Fathir bilang soal itu, Ayah diam saja. Bingung bu..”

“Dia sudah mengerti dengan kondisi keuangan keluarga kita ya Yah..Tapi, kasian juga kalau dia sendiri yang tidak pakai kostum pahlawan. Emmm..sebentar Ibu ke kamarnya dulu, membujuknya biar tidak cemberut-cemberut gitu.”

***

Tuk tuk..

Ibu mengetuk pintu kamar Fathir, lalu dengan pelan dibukanya dan dilihatnya Fathir lagi tengkurap di atas kasur memeluk guling.

“Nak..gak baik lho kaya gitu, masa pulang sekolah Ibu dikasih wajah jelek gitu ah. Senyum dong!” Pinta Ibu sambil merayu.

Fathir duduk masih memeluk guling. Ibu mengelus rambutnya pelan.

“Ibu sudah tahu ceritanya dari Ayahmu. Kata siapa Ayah tidak bisa menyewakanmu kostum? Bisa koook.. Itu Ayah rencananya mau narik angkot lagi, buat cari banyak uang untuk nyewa kostumnya.”

“Benar bu?”

Ibu hanya mengangguk sambil menunjuk ke jendela. Terlihat Ayah berjalan mendekati angkotnya. Fathir terdiam menyaksikan, ia juga melihat gumpalan awan mendung di ujung gang.

“Tapi Bu..Di luar mau hujan?” Ucap Fathir.

“Ya gak papa, Ayahmu kan naik angkot jadi tidak kehujanan. Ya udah yuk turun, makan siang dulu.”

Tepat saat Fathir duduk di meja makan, air hujan jatuh ke atap rumahnya. Terdengar berisik sebab atap rumah ditutupi oleh seng saja bukan genteng. Fathir menjadi sedikit khuwatir, terlebih saat dilihatnya dari jendela. Angin kencang menerbangkan dedaunan, menggoyangkan ranting-ranting, dan juga spanduk yang tertancap di tiang gang depan rumah.

Hingga malam menjelang, Ayah belum juga pulang. Fathir semakin gelisah, ia mondar-mandir di kamarnya. Sementara di kamar sebelah, Ibu juga ternyata sama gelisahnya. Sebab, Ayah tak pernah pulang semalam ini. Sudah pukul sembilan malam, pintu rumah belum juga terdengar ada yang membuka kuncinya. Ayah belum juga dating sampai Fathir tertidur.

****

Keesokan harinya, pagi sudah hampir terik. Fathir mencari Ibunya di dapur. Lalu Fathir membisikan sesuatu pada Ibunya. Bisikan itu membuat Ibunya terharu. Ibunya mengangguk untuk menyatakan setuju dengan apa yang disampaikan Fathir, ya tentang sebuah rencana. Fathir lalu keluar rumah, dilihatnya Ayah lagi membersihkan angkot.

“Ayaaaahhh…” Teriak Fathir sambil berlari mendekati Ayahnnya dan langsung memeluk erat.

“Lho lhooo kok tumben pagi-pagi peluk Ayah gini? Hahaha..”

“Habisan Ayah bikin Fathir khuwatir tadi malam!”

“Oh itu, maaf ya nak. Angkotnya mogok soalnya, hehe… Ini habis dibetulin. Nah sudah bersih, ayoo kita berangkat!”

Di tengah jalan menuju sekolah, Fathir memecahkan keheningan.

“Ayah.. Fathir gak mau jadi Superman lagi ah!”

“Eh, Ayah sudah punya uangnya kok untuk nyewa kostumnya. Kok malah gak jadi siihh?”

“Fathir mau jadi Ayah saja! Hahhaa..”

“Maksudnya?”

Fathir tidak menjawab, ia hanya menggeleng-gelengkan kepala. Tepat saat angkot berhenti di depan sekolah, Fathir menyium tangan Ayahnya lalu turun dan berlari masuk ke sekolah. Dan, Ayah masih terdiam bingung. Kebingungan ayah berlangsung hingga malam hari. Sebab, saat Fathir dijemput pulang sekolah tidak sedikitpun menjelaskan atas pembicaraan saat pagi hari.

****

Peringatan Hari Pahlawan pun tiba, tepat di tanggal 10 November. Sebelum Ayahnya bangun, Fathir dan Ibu pergi keluar rumah menuju pasar untuk membeli sesuatu. Dan, pagi itu pula Fathir tidak ingin diantar oleh Ayahnya. Karena, Fathir minta Ayahnya untuk datang saat Festival sudah dimulai sekitar jam delapan pagi.

Fathir mengandeng tangan Ibunya erat, mereka memasuki gerbang sekolah. Pagi itu sekolah sudah tampak ramai. Di setiap sudut tampak teman sekelas Fathir sudah memakai kostum pahlawan mereka masing-masing. Fathir mengajak Ibunya untuk langsung duduk di tempat duduk yang sudah di sediakan, tepatnya di depan panggung.

Sudah jam delapan dan itu artinya festival pahlawan dalam rangka peringatan Hari Pahlawan dimulai. Tampak pembawa acara sudah bercuap-cuap di atas panggung. Fathir saat itu tampak gugup, sebab sebentar lagi waktu untuk kelasnya maju ke atas panggung.

“Setelah kita mendengarkan anak kelas 5A bernyanyi dengan lagu bertemakan Pahlawan. Sekarang waktunya kelas 5B untuk naik ke atas panggung. Pada penasaran mereka mau menampilkan apa? Ayooo anak-anak naik ke atas panggung..” Pinta pembawa acara.

Saat itu juga Fathir berjalan bersama teman-temannya dan juga guru wali kelas. Satu persatu naik ke atas panggung. Mata Fathir sedaritadi mencari Ayahnya di antara kerumunan orang tua, tapi tidak berhasil ditemukan. Fathir menghela nafas, gugup.

Satu persatu anak kelas 5B maju sesuai urut absen, dan itu artinya Fathir mendapat giliran no 11. Anak-anak kelas 5B maju dengan memakai kostum pahlawan mereka, sambil menjelaskan kepada semua penonton alasan mereka memilih kostum tersebut.

Tibalah giliran Fathir maju. Dia memakai kostum yang berbeda dari yang lain, dan juga hanya dirinya yang maju tanpa membawa secarik kertas –untuk bahan berbicara-. Dengan ragu-ragu ia maju, matanya masih mencari keberadaan Ayah.

Sementara itu, Ayah tengah berlari kencang memasuki gerbang sekolah. Dengan nafas terengah-engah ia tiba di depan panggung yang sudah dipenuhi oleh orang tua/wali murid. Ayah tidak kebagian tempat duduk, dan hanya dirinya yang berdiri.

Fathir tersenyum lega, melihat Ayahnya sudah datang. Dengan hati mantap, Fathir memulai untuk berbicara.

“Perkenalkan nama saya Fathir Nur Ikhlas, kelas 5B. Hari ini saya tidak pakai kostum pahlawan seperti teman-teman saya. Saya cuma pakai baju sederhana ini, sebab pahlawan saya itu memang suka pakai baju sederhana seperti ini. Pakai handuk di leher dan topi. Saya Fathir, pahlawan saya adalah Ayah saya! Dia di sana (Menujuk ke arah Ayah yang berdiri). Dia pahlawan buat keluarga saya, mencari uang dengan angkotnya dari pagi sampai sore, bahkan kemarin sampai malam hari. Saya tidak pernah malu punya Ayah yang hanya tukang angkot. Karena Ayah saya sendiri tidak malu bekerja sebagai penarik angkot. Terima kasih Ayah..” ucap Fathir sambil melambaikan tangan ke arah Ayahnya.

Ayah tertunduk malu dan juga haru. Dan, ibu tersenyum bangga. Semua yang penonton bertepuk tangan.

Prok prook..

S E L E S A I

***

GeeR

Palangka Raya, November 2013

****

Silahkan mampir di karya yang lain, DI SINI.

Gabung juga yuk di Grup Fiksiana Community, DI SINI.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun