Mohon tunggu...
KOMENTAR
Hiburan Pilihan

Masa-masa Film Indonesia Angkat Tema yang "Berani"

16 Oktober 2021   23:58 Diperbarui: 17 Oktober 2021   00:09 128 5

Setelah perfilman Indonesia kembali bangkit pada awal tahun 2000-an, ada masa-masa tema film Indonesia begitu beragam dan berani. Istilah berani di sini bisa berarti sesuatu yang bisa menyulut kontroversi dan juga bisa bermakna sesuatu yang vulgar. Film "Arisan!" (2003) mungkin bisa jadi pelopor. Lalu ada film "Virgin" (2004) dan berlanjut dengan film "Quickie Express" (2007).

Film "Arisan!" yang dibesut Nia Dinata menampilkan sesuatu yang berani pada masa tahun tersebut, dengan cerita perselingkuhan dan percintaan sesama jenis. Bahkan ada adegan ciuman antara kekasih sesama jenis tersebut. Hal tersebut sangat kontroversial pada masa tersebut, namun juga membuka mata tentang secuil kehidupan sosial di Jakarta.

Film "Arisan!" sebenarnya adalah sebuah drama satir tentang kehidupan kaum jet set di Jakarta yang nampak mengkilap di permukaan, namun kehidupan aslinya tidak seindah itu. Pertemuan arisan menjadi wadah untuk pamer bagi kalangan tertentu, menonjolkan sesuatu agar lainnya merasa kagum, namun juga menyembunyikan sesuatu yang merupakan wujud asli.

Pada tahun 2004, giliran sutradara Hanny Saputra lewat film "Virgin: Ketika Keperawanan Dipertanyakan" yang mengundang perhatian. Film ini mengungkap adanya sekelompok remaja yang terjerumus ke kehidupan yang nampak glamour namun sebenarnya salah. Mereka bertualang ke hiburan malam hingga kemudian dua orang di antara mereka menjual dirinya.

Film ini memang berani menampilkan potret remaja yang terjerumus pergaulan bebas. Hal ini memang ada di masyarakat. Namun bukan berarti film ini hanya menampilkan sesuatu yang vulgar. Film ini memberikan pesan agar remaja jangan sampai terkecoh kehidupan glamour dan kemudian mau melakukan apa saja untuk tetap terlihat glamour dan eksis.

Film "I Love You, Om" juga memiliki tema yang berani karena menampilkan anak usia 12 tahun yang jatuh hati kepada pria berusia 35 tahun. Perasaan ini rupanya juga terbalas oleh pemuda tersebut, tapi untungnya si pria berupaya menepis dan menutupinya.

Jika hanya melihat premisnya maka selintas ide cerita ini berbahaya karena dengan jarak usia yang jauh dan salah satunya anak-anak maka bisa masuk ke pedofilia. Namun rupanya ada latar belakang mengapa tokoh si anak perempuan bisa bersikap seperti itu. Demikian juga dengan sosok prianya. Untungnya si sutradara, Widy Wijaya, juga cukup bijak memberikan solusi ke konflik film ini.

Nah mulai tahun 2007 film Indonesia semakin berani dan mengarah ke vulgar. Ada tiga film yang mengambil tema yang 'nakal'. Film-film tersebut adalah  "Quickie Express", "Jakarta Undercover", dan "Maaf, Saya Menghamili Istri Anda",

Dua film pertama memiliki tema yang vulgar, namun film ini sebenarnya menunjukkan sisi gelap dari ibukota. Namun untuk film terakhir, judulnya sudah membuat eneq dan berpikiran buruk.

Film "Jakarta Undercover" terinspirasi dari novel populer karya Moammar Emka, ceritanya lebih ke sisi drama kriminal dengan hiburan malam berupa klub striptis adalah latarnya. Dari segi cerita dan tampilan tidak begitu vulgar.

Sementara "Quickie Express" yang dibintangi Lukman Sardi, Tora Sudiro, dan Aming cukup mengejutkan karena menampilkan kelompok penjual jasa pria ke perempuan paruh baya dengan kedok pengantar pizza. Dialog-dialognya di sini yang vulgar, namun selebihnya wajar.

Film "Quickie Express" sama halnya dengan "Arisan!", sama-sama merupakan drama satir. Hanya "Quickie Express" lebih kental dengan unsur komedinya. Kedua film ini rupanya juga sama-sama ada keterlibatan Nia Dinata dan Joko Anwar.

Namun untuk ketiga, film ini sudah negatif sejak dari judulnya. Isinya malah lebih buruk. Nah film ketiga yang dibintangi Mulan Jameela dan Agus Ringgo inilah yang kemudian seperti menjadi pemicu film-film serupa, menonjolkan sesuatu yang seronok dan vulgar, baik dari judul maupun isinya.

Sejak tahun 2008 film Indonesia mulai memasuki kembali era kelam dengan komedi dan horor yang banyak menampilkan sesuatu yang vulgar. Untungnya pada tahun-tahun tersebut, juga masih banyak film Indonesia yang bagus dan idealis.

Untungnya masa-masa gelap film Indonesia cepat berakhir. Sineas Indonesia mulai kembali sadar bahwa film-film vulgar yang tak ada isinya itu hanyalah mesin penarik uang yang malah memberikan kemudaratan bagi masyarakat.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan