Mohon tunggu...
KOMENTAR
Cerpen Pilihan

Cerpen: Sulur-sulur Pendusta

11 Mei 2021   01:22 Diperbarui: 11 Mei 2021   02:02 164 4

Asap membumbung tinggi dari kejauhan. Pucuk -- pucuk pohon besar perlahan tumbang satu demi satu. Ratusan prajurit kerajaan itu merusak kebun kecil dan tempat lain di desa itu.

Banyak orang berlari meninggalkan desa itu. Ada yang masih bersama keluarganya. Namun tak sedikit yang terpisah dari rombongan dan berlari sendiri.

Salah satu dari mereka adalah si nona. Wanita muda itu menyelamatkan diri ke dalam hutan. Ia pergi kesana setelah melihat kebun yang dirawatnya hangus dibakar prajurit itu.

Dalam hatinya, ia marah, sedih sekaligus takut. Para pasukan itu tak hanya merusak kebun kesayangannya, tapi juga menghancurkan mimpinya. Keinginan untuk menghiasi desa itu dengan banyak tanaman telah sirna.

Saat ia menangisi cita-citanya yang gagal, datanglah seutas sulur tanaman dari dalam hutan itu. Sulur tanaman itu seperti seekor ular kecil, bergerak melata menuju si nona.

"Kenapa kau menangis?" tanya sulur itu.

"Mimpiku hancur. Aku gagal membangun desa itu dengan tanaman." Kata si nona.

"Kasihan sekali. Kenapa bisa begitu?"

"Tentara itu membakar kebunku! Mereka juga merusak desa tempat tinggalku!"

Sulur itu berkata lagi.

"Ya, begitulah manusia. Katanya mereka makhluk paling cerdas di muka bumi. Tapi kecerdasannya dipakai untuk menghancurkan makhluk lainnya!"

"Tapi kau berbeda. Aku lihat kau pernah menyelamatkan sebatang pohon tua yang sekarat."

Si nona terkejut.

"Kau tahu itu?"

"Tentu saja. Pohon lain memberitahu kami. Mungkin kau tidak tahu, tapi di dunia kami, orang sepertimu menjadi penyelamat."

"Tidak, itu tidak benar. Aku tak bisa menyelamatkan teman -- teman kalian dari tentara kejam itu. Tanaman -- tanaman di kebun itu sudah mati. Aku gagal menyelamatkan mereka."

Si sulur tanaman lalu mendekati si nona.

"Tapi kau masih bisa berbuat sesuatu untuk kami, terlebih desa itu." kata sulur itu.

"Benarkah?"

"Ya. Dengan kemampuanmu, kau bisa menjadikan desa itu penuh dengan tumbuhan seperti kami."

"Bagaimana caranya?"

Si sulur merunduk, lalu tanah di sekitarnya mulai retak, dan dari dalamnya muncullah umbi tanaman. Umbi itu masih tersambung dengan si sulur, dan perlahan umbi itu bangkit dan berdiri di depan si nona.

"Ikutlah kami." kata umbi tanaman itu.

Lalu si nona mengikuti mereka berdua. Di depan mereka, ada sebuah pusaran lubang yang berputar tiada henti.

"Ayo masuk ke dunia kami." kata umbi itu, lalu ia beserta sulurnya melompat ke dalam lubang itu, dan diikuti oleh si nona.

Si nona dibawa ke dalam sebuah ruangan. Dindingnya terbuat dari bata yang rapi. Di depannya ada perapian yang menyala, dan di dekatnya ada sebuah jendela terbuka. Lalu ia berjalan kesana dan melihat dari balik jendela.

"Ini.. menakjubkan!" katanya, sambil tercengang melihat banyak sekali sulur tanaman dimana -- mana.

"Selamat datang di rumah kami." kata si umbi itu.

"Tempat ini hijau sekali! Kemanapun aku melihat, selalu ada tumbuhan segar dan rimbun! Aku suka melihatnya! Ini ada dimana?"

"Sekarang kau ada di dunia bunga."

"Dunia bunga?"

"Benar. Dunia kami dan duniamu sebenarnya berdampingan. Lihatlah!"

Umbi itu memanjangkan sulurnya, dan dari pusaran lubang tadi, tampak sebuah sulur tanaman di dunia nyata juga ikut memanjang.

"Kau bisa menghiasi desamu dengan sulur -- sulur itu dari sini. "

Karena ingin membuat desa itu hijau dan asri, tanpa ragu si nona menyentuh sulur -- sulur itu. Berkat tangan ajaibnya, mereka jadi hidup, melata dan bergerak kesana - kemari. Dari dalam tanah juga keluar umbi -- umbi tanaman. Rombongan tanaman itu berjalan ke daerah seberang.

Tanpa diketahui si nona, sulur dan umbi itu dengan ganas menyerang bunga -- bunga lain yang ada disana. Dahlia, melati, dan anggrek jadi layu setelah diserang mereka. Semakin banyak bunga disana mati, maka semakin luas sulur dan umbi menghiasi tempat itu.

Karena dunia bunga tersambung dengan dunia nyata, kejadian itu juga berakibat di tempat tinggal si nona. Akibatnya, bunga -- bunga di dunia nyata juga ikut mati. Tubuh mereka susut akibat dililit sulur itu. Tanaman lain juga layu dihantam oleh umbi -- umbi itu.

Kini desa itu gersang. Bunga banyak yang mati. Pohon banyak yang tinggal rantingnya saja.  Hewan ternak seperti kambing dan sapi kesulitan cari makan. Jumlah mereka terus berkurang, sehingga membuat warga desa itu kekurangan bahan makanan.

Namun di saat  mereka susah, ada seseorang yang puas melihat kejadian itu. Si nona telah memulai membangun mimpinya menjadi nyata. Kini ia tak tinggal di desa lagi, tapi tinggal di dunia bunga. Ia ingin menjadikan tempat itu dipenuhi banyak tumbuhan hijau dan rimbun, dibantu oleh sulur -- sulur tanaman mandrake yang terus mengobrak -- abrik tanaman lain tanpa sepengatahuannya.

Tamat

Cerita sebelumnya:
Si Nona Kebun dan Tangan Ajaibnya

KEMBALI KE ARTIKEL