Mohon tunggu...
KOMENTAR
Catatan

ICAC, I Corrupt All Cops (KPK, Komisi Pelindung Koruptor?)

2 November 2011   12:33 Diperbarui: 26 Juni 2015   00:08 3071 0

ICAC (Independent Commission Against Corruption) adalah sebuah komisi khusus pemberantasan korupsi yang didirikan di Hongkong pada 15 Februari 1974. Sebelum ICAC ada, Hongkong dikenal sebagai salah satu negara yang paling korupsedunia. Semua lapisan masyarakat di Hongkong pada waktu itu nyaris tidak ada yang terbebas dari praktek korupsi dan suap. Semua dilakukan dengan terang-terangan. Tertama sekali dilakukan oleh instansi Kepolisiannya. Kepala Polisi dan para bawahannya bekerja tidak ada bedanya dengan cara kerja mafia yang sebenarnya.

Setelah tiga tahun bekerja ICAC mencatat prestasi yang luar biasa. Mengubah kultur Hongkong yang penuh dengan praktek suap dan korup di segala lapisan masyarakat, menjadi negara paling bersih ke-13 di seluruh dunia (Indeks Persepsi Korupsi Tahunan Transparency International 2010). Menjadikan ICAC sebagai model bagi komisi serupa di negara lain, termasuk Indonesia dengan KPK-nya.

Salah satu tokoh kunci keberhasilan luar biasa itu adalah Tony Kwok Man-wai, yang telah bekerja di ICAC sejak 1975 (setahun setelah ICAC berdiri), dan pensiun pada 2002 dengan jabatan terakhir Deputi Komisaris dan kepala Operasi ICAC.

Ada sebuah film produksi Hongkong yang berjudul I Corrupt All Cops (2009), yang kalau disingkat menjadi ICAC juga. Menceritakan tentang praktek korupsi yang sangat luar biasa di kepolisian Hongkong di periode tahun 1963 – 1973 (di bawah pemerintahan koloni Inggris). Pungutan liar, suap, pemerasan, beking, perdagangan narkoba, kongkalikong dengan pengusaha kaya, dan lain-lain, dilakukan oleh 90 persen polisi Hongkong. Mulai dari yang pangkat terendah sampai dengan pangkat tertinggi sudah merupakan suatu kelaziman. Bahkan membunuhpun bisa dilakukan dengan gampang.

Film ini juga kemudian menceritakan awal mula berdirinya ICAC (Independent Commission Againts Corruption), ketua ICAC yang pertama, perekrutman anggota-anggota pertamanya yang semuanya anak-anak muda, awal sepak terjang mereka memerangi polisi-polisi Hongkong yang korup, teror, sampai pada pembunuhan yang mereka dapatkan.

Jadi, di film ini ICAC bisa berarti singkatan dari I Corrupt All Cops, juga bisa berarti kepanjangan dari Independent Commission Againts Corruption. Sekarang, tentu saja, kepanjangannya yang benar tinggallah yang kedua. Karena di Hongkong nyaris tidak ada lagi polisi yang korup.

Dianalogikan dengan Indonesia saat ini, KPK-nya bisa singkatan dari yang sebenarnya, yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi, atau diplesetkan menjadi Komisi Pelindung Koruptor (khususnya yang dari dalam lingkaran kekuasaan). Kepanjangan mana yang sesuai dengan kenyataan nantinya? Tergantung nanti dari kinerja dan keberanian KPK dalam menjalankan tugasnya.

Seharusnya, KPK bukan hanya meniru ICAC secara institusinya saja, tetapi juga sistem kerjanya, mekanisme peraturan hukum yang menaunginya (diatur dalamkonstitusi), dan tidak kalah pentingnya adalah KPK juga harus bisa meniru keberanian dengan nyali besar dari ICAC. Terutama ketika berhadapan dengan koruptor-koruptor kelas paus yang berada di dalam lingkaran penguasa.

Baru-baru ini saya sudah menonton film I Corrupt All Cops ini. Apa yang digambarkan dalam film ini tentang praktek mafia korupsi di kepolisan Hongkong itu benar-benar mencegangkan jahatnya. Nyaris tak ada bedanya dengan mafia. Sulit dipercaya itu pernah benar-benar terjadi.

Dalam wawancaranya dengan Professor Kwok, majalah Tempo mengajukan pertanyaan di akhir wawancara itu: “Ada film I Corrupt All Cops, yang menceritakan tentang korupsi di Kepolisian Hongkong dan kemunculan ICAC. Apakah cerita film itu nyata?

Professor Kwok menjawab: “Semua itu betul ...”

“Dulu, ada polisi yang ketika bangun dari tidurnya, kaget, tidak menemukan ranjangnya. Ternyata seisi kamarnya itu telah penuh dengan uang. Sampai-sampai ranjangnya tidak kelihatan. ..”

*

Film dibuka dengan gambaran sekilas kebiasaan polisi-polisi Hongkong di kala itu yang dengan seragam lengkap melakukan pungutan liar secara terang-terangan, dengan menggunakan topi mereka sebagai wadah di mana uang pungli itu harus ditaruh.

Kemudian ada adegan pembunuhan. Beberapa polisi datang. Tetapi dengan mudah diselesaikan begitu saja oleh para pembunuhnya dengan menyuap polisi-polisi itu. Korban pembunuhan itu direkayasa sebagai korban bunuh diri.

Fokus cerita pada aksi-aksi yang dilakukan oleh Kepala Polisi Hongkong, Chief Inspector Lak Chui (Tony Leung Ka Fai), bersama dengan beberapa kaki tangannya, Unicorn Tang (Anthony Wong), Gale Chan (Eason Chan), dan Gold (Wong Jing). Semua kaki tangannya itu polisi bawahan Inspektur Lak Chui, kecuali Gold. Gold adalah seorang pengusaha besar yang sangat royal menyuap polisi. Sebagai imbalannya dia pun dibekingi oleh Inspektur Lak Chui dan para anak buahnya. Saking dekatnya Gold dengan Inspektur Lak, polisi-polisi Hongkong pun takut dengannya.

Geng mafia berseragam polisi ini membuat Hongkong seperti kerajaan mereka saja. Mereka hanya takut kepada pemerintah Inggris di London. Tetapi lama-kelamaan, Inspektur Lak yang mengira dia sudah benar-benar menguasai Hongkong dengan kedudukan dan uangnya, berani dan mempermalukan utusan polisi dari London, Kolonel Charles Sutcliffe di depan para anakbuahnya. Padahal Kolonel Sutcliffe diutus London untuk mengawasi para petinggi polisi di Hongkong, termasuk Inspektur Lak.

Dia mengira semua orang bisa ditaklukkan dengan uang.

Kepada atasannya yang berkebangsan Inggris, Inspektur Lak meny

atakan ketidaktakutannya terhadap Kolonel Sutcliffe. Dia yakin sang Kolonel bukan pengecualian dari polisi yang juga bisa disogok. “Apakah ada kucing yang tidak mau makan ikan?!” Katanya dengan sombong.

Dari kejadian inilah antara lain awal bencana dari kerajaan geng mafia Inspektur Lak, dan semua polisi bejat lainnya sejenis dia. Sekaligus menjadi titik tolak berdirinya ICAC.

Selain sangat sarat dengan praktek mafia yang bergelimangan uang haram, polisi Hongkong di kala itu juga terbiasa dengan melakukan kekerasan dan penyiksaan di luar batas kemanusiaan demi memperoleh tersangka dari suatu kasus kejahatan.

Apabila mereka gagal menemukan pelaku sebenarnya. Mereka akan mencari korban siapa saja untuk direkayasa, dipaksa, dan disiksa sampai mengaku sebagai pelakunya. Diantara korban-korban seperti itu ada seorang mahasiswa bernama Bong (Lik Sun Fong). Dia ditangkap dan disiksa dengan cara digantung dengan kepala di bawah dan dipukuli sampai berdarah-darah. Supaya mau mengaku sebagai pelaku kejahatan yang tidak pernah dilakukan.

Bong akhirnya dapat diselamatkan, setelah ibunya datang ke kantor polisi berlutut meminta-minta ampun kepada Unicorn untuk melepaskan anaknya itu. Unicorn menyerahkannya kepada seorang polisi tua yang istrinya bersaudara dengan Ibu Bong. Lewat dialah mereka menemui Gold, supaya polisi itu mau melepaskan Bong.

Ketika Bong akhirnya dilepas dengan wajah bengkak-bengkak penuh darah. Dia sempat berkata kepada polisi yang menyiksanya: “Suatu ketika kalian semua akan kupenjarakan!”

Kelak kemudian Bong membuktikan sumpahnya itu. Ketika ICAC didirikan pada 15 Februari 1974, dan membuka lowongan kerja, dia menjadi salah satu pelamarnya, dan diterima.

ICAC yang didirikan atas prakarsa Gubernur Hongkong pada waktu itu, Sir Crawford Murray MacLehose, langsung bergerak dan menangkapi satu per satu polisi korup bersama kaki-tangannya. Tak terkecuali Inspektur Lak dan kawan-kawannya.

Salah satu adegan yang menarik dalam film ini adalah ketika Inspektur Yin (Bowie Lam) Ketua ICAC, menarik sebuah kursi di hadapan semua anggota pertama ICAC, dan berkatakepada mereka semua:

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun