Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud

Mennonite, Amish dan Hutterite

7 Mei 2010   22:05 Diperbarui: 26 Juni 2015   16:20 850 0
Akhir-akhir ini saya tergelitik untuk membaca sejarah Mennonite, Amish dan Hutterite di mbah 'Wikipedia' jadi cerita saya yang mengulas mengenai sedikit sejarah mereka saya sadur dari Wikipedia. Namun ada beberapa pengalaman saya pribadi yang 'get involved' atau melihat dengan mata kepala saya sendiri mengenai mereka. [caption id="attachment_136029" align="alignleft" width="205" caption="Martin Luther (dari Google images)"][/caption] Yang pertama mengenai Mennonite. Kaum Mennonite atau biasa disebut Kristen Mennonite berawal dari perjuangan Martin Luther sebagai penggagas Kristen Protestan. Dahulu kala, Kristen yang sekarang disebut Katolik sangat besar perannya di dalam pemerintahan Romawi. Akibatnya banyak sekali keputusan yang diambil berdasarkan keputusan gereja Romawi. Martin Luther melakukan reformasi gereja mengenai beberapa hal yang dia tidak setujui  dari gereja Katolik Roma sehingga lahirlah Kristen Protestan. Singkat cerita, ada seorang Swiss yang bernama Frisian Menno Simmons. Pada awalnya dia adalah pengikut Martin Luther, namun pada akhirnya dia menjadi pendiri Kristen Mennonite atau juga bisa disebut Kristen Anabaptis. Prinsip ajarannya adalah seseorang seharusnya tidak dibaptis waktu masih bayi, namun pada saat mereka sudah dewasa karena baptis adalah sebuah pengakuan akan sebuah keyakinan. [caption id="attachment_136030" align="alignright" width="232" caption="Frisian Menno Simmons (dari Google images)"][/caption] Nah berawal dari Mennonite inilah lahir kaum Amish yang dipelopori Jakob Amman dari Swiss dan kaum Hutterite yang dipelopori oleh Jakob Hutter dari Austria. Di Indonesia sendiri, ada beberapa gereja di Jawa yang merupakan anggota denominasi Mennonite seperti GKMI dan GITJ. Ajaran ini tampaknya dibawa oleh seorang misionaris keturunan Mennonite Jerman. Prinsip dari ajaran Mennonite yaitu anti perlawanan, baptis di usia dewasa atau young adult, keselamatan adalah anugerah dari Tuhan dan bukan karena usaha manusia, tidak mencampuradukkan kegiatan gerejawi dengan kegiatan kepemerintahan dan sikap hidup yang simpel dan sederhana. Kembali pada kaum Amish. Ketika saya orientasi di Akron, Pennsylvania, waktu saya berjalan-jalan di sekitar lodging, saya sempat terpana dengan adanya kereta kuda. Saya berpikir, kok masih ada ya orang Amerika yang naik kereta kuda? Usut punya usut ternyata itu adalah kaum Amish. Mereka berpenampilan tertutup, dengan rok hitam dan topi jaman dulu yang dikenakan oleh perempuan Eropa. Dan usut punya usut lagi, ternyata di Pennsylvania banyak sekali penduduk Amish. Penduduk Amish dan penduduk Mennonite di Pennsylvania hidup berdampingan meskipun secara fisik penampilan mereka sangat berbeda. Kaum Mennonite lebih berkonformasi dengan kemajuan teknologi, jadi penampilan fisik mereka ya keliatan seperti orang Amerika pada umumnya. Sementara kaum Amish, untuk perempuan mereka mengenakan rok panjang berwarna hitam/ gelap dan topi ala perempuan Eropa. Untuk laki-laki biasanya mereka mengenakan celana warna gelap dan baju warna terang dengan karet penghubung di dada. Mereka hidup dalam komunitas kecil yang sangat erat. Dalam komunitas mereka juga ada peraturan2 strict seperti tidak menggunakan listrik, tidak mengendarai mobil dan tidak melanjutkan ke High School. Mata pencaharian mereka biasanya adalah petani, peternak dan tukang kayu. Mereka mempunyai sekolah sendiri, hanya sampai Grade 8 untuk anak-anak mereka. Mereka hanya diijinkan menikah dengan seseorang dari komunitas mereka meskipun itu saudara sepupu mereka, namun diutamakan saudara sepupu kedua, misalnya saudara sepupu dari adiknya nenek/kakek mereka. Meskipun demikian, ada beberapa Amish yang mengidap Genetical disorder oleh karena itu. Kaum pria juga mendominasi dan sebagai pengambil keputusan dalam keluarga sementara kaum wanita memasak, mencuci pakaian dan mendidik anak. Ketika kaum Amish menikah, mereka tidak mengenakan cincin karena mereka tidak diperbolehkan mengenakan jewellery. Jika pada umumnya setelah menikah ada bulan madu, setelah menikah mereka sibuk mengunjungi satu per satu orang-orang yang datang pada acara pernikahan mereka. Jika ada seorang anggota yang sakit dan terpaksa harus dibawa ke rumah sakit, satu komunitaslah yang membayar semua ongkos RS. Mereka menolak membayar life insurance yang notabene wajib di Amerika dan mereka menolak social benefit dari Pemerintah Amerika sehingga Pemerintah Amerika pun tidak mengenakan pajak kepada mereka. Penggunaan alat-alat elektronik sangat dibatasi, mereka bahkan tidak mempunyai lampu di rumah mereka. Terkadang mereka menggunakan solar panel sebagai penyedia energi dan kulkasnya menggunakan kerosin. Well, di situasi2 tertentu mereka diijinkan menggunakan alat elektronik seperti baterai atau mesin pengaduk susu. Pada dasarnya alat elektronik yang dilarang adalah yang bisa menjembatani mereka dengan dunia luar seperti TV, telepon, komputer, internet. Namun Pemerintah Amerika tetap menyediakan satu telepon box di depan gereja just in case ada situasi emergency yang mengharuskan mereka membutuhkan pertolongan dari dunia luar. Mereka juga strict terhadap medication krn bagi mereka, kesehatan dan kesembuhan adalah God's will. [caption id="attachment_136032" align="alignleft" width="300" caption="Kaum Amish (dari Google images)"][/caption] Menurut cerita teman saya ketika mereka berkunjung ke komunitas Amish di Akron dan melakukan ibadah di gereja mereka, mereka sangatlah friendly. Ketika beribadah di gereja, tempat duduk perempuan dan laki-laki dipisah. Mereka menyanyikan pujian dari buku hymne yang terkadang satu lagu bisa berdurasi lebih dari 15 menit yang kemudian dilanjutkan dengan khotbah. Ketika saya berkunjung ke Waterloo di Propinsi Ontario, Canada, saya juga melihat ada beberapa kaum Old Order Mennonite yang mengendarai kereta kuda. Bayangkan betapa dinginnya mereka karena hanya mengendarai kereta kuda di musim dingin dalam badai salju dan salju yang mencapai 1 meter tingginya dengan suhu di bawah -20 biasanya. Fantastis ya... [caption id="attachment_136033" align="alignright" width="300" caption="Kaum Hutterite (dari Google images)"][/caption] Yang kedua, kaum Hutterite. Kaum Hutterite ini bermigrasi ke North America karena pada perang Sovyet mereka banyak diburu dan dianiaya. Kaum Hutterite ini juga merupakan penganut Mennonite. Banyak sekali kaum Hutterite yang tinggal di Canada. Kalau kaum Amish sangat tertutup, kaum Hutterite ini sedikit lebih terbuka. Namun penampilan fisik mereka bisa dibedakan dengan orang biasa pada umumnya. Untuk perempuan mereka mengenakan rok sampai mata kaki yang biasanya dilengkapi dengan rompi dengan motif dan warna senada (meskipun tidak berwarna gelap) dan mengenakan scarf di kepala mereka. Sementara untuk laki-laki mereka mengenakan celana berwarna gelap. Kaum Hutterite yang saya jumpai di Winnipeg sini, mereka mengendarai mobil, mengunjungi McDonald dan terkadang terlihat mengunjungi mall. Namun mereka dilarang mempunyai TV, radio, komputer, telepon dan internet, namun ada beberapa kaum Hutterite yang mempunyai alat-alat elektronik tersebut. Telepon sesekali digunakan hanya untuk kepentingan bisnis. Mata pencaharian mereka sangat bergantung pada alam seperti halnya kaum Amish yaitu petani (biasanya mereka mempunyai tanah yg sangat luas dan merupakan warisan turun temurun), peternak dan carpenter. Akhir-akhir ini juga mereka mendirikan perusahaan manufaktur seperti plastic manufacture, turkey processing center, metal fabrication, etc. Hal ini dilakukan karena mengingat harga tanah yang semakin tinggi berkaitan dengan oil dan gas company (terutama di Propinsi Alberta dan Saskatchewan) sehingga mendesak mereka untuk mempunyai uang untuk membeli tanah lebih banyak untuk mendirikan colony baru, mereka menyebutnya 'daughter colony'. Hal ini memudahkan secara spiritually dan economically. Dalam satu koloni Hutterite, mereka mempunyai pemimpin yang mereka sebut sebagai Minister dan Secretary (the two-top level leader) dan Assistant Minister (the third leader). Tugas dari Minister yaitu mengurusi bisnis legal antar koloni. Tugas secretary yaitu mengoperasikan bisnis, bookkeeping, cheque-writing dan budget organizer. Sementara Assistant Minister bertanggungjawab pada urusan gereja dan kadang-kadang sebagai German Teacher. Istri dari Secretary biasanya adalah penjahit yang bertugas dan bertanggungjawab membeli bahan dan menjahit baju2 kaum Hutterite. Untuk masalah sekolah, mereka biasanya mendirikan sekolah sendiri (entah bagaimana caranya mereka mendapatkan ijin dari Pemerintah untuk mendirikan sekolah sendiri) dan mencari seorang guru non-Hutterite untuk mengajarkan mereka bahasa Inggris dan terkadang bertugas sebagai gardener juga. Sementara untuk pendidikan 'keJermanan' diajarkan oleh Assistant MInister termasuk pendidikan bahasa Jerman, pendidikan alkitab dan memorizing Injil. Sekedar pengetahuan, nama-nama belakang yang saya sebutkan disini adalah nama-nama Mennonite yang sangat tidak asing di dunia internasional. Seperti Thiessen, Friesen, Penner, Rempel, Dyck, Braun, Janzen, Neufeld, Klassen, Wiebe, Bartel, Pauls, Fast, Redgier, Yoder, Lehman, Bachman, Galle, Funk, Schellenberg, Beutler...dsb. Penggunaan nama belakang yang sama dalam satu keluarga ini menghindarkan mereka dari kemungkinan menikahi saudara sendiri yang nantinya bisa menimbulkan genetical disorder. Namun jangan harap orang yang mempunyai nama belakang seperti yang saya sebutkan di atas pasti adalah orang Mennonite yang pergi ke gereja Mennonite. Sekarang ini banyak sekali orang bernama belakang Mennonite yang tidak pergi ke gereja. Semoga bermanfaat!

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun